Video Channel

 

Bismillaah:

Sebenarnya klip video ini sudah menyebar di medsos sebelum ini. Akan tetapi ada salah satu ustadz yang saya hormati hf, merasa kurang sreg dengan terjemahannya. Misalnya Naahilatal Jism yang memang sudah benar karena haal atau keadaan sebagaimana memang demikian di dalam riwayat-riwayatnya (Sunni dan Syi'ah), tapi ditulis dengan naahilatul jims yang akhirnya menjadi mubtada' khabar (subyek predikat). Begitu juga yang ada di bait-bait lainnya. Akhirnya beliau hf menerjemahkannya dan mengirimkannya ke inbox al-faqir (saya). Tentu saja terjemahan beliau hf itu sesuai maksudnya walau mungkin tidak terlalu leterleks, sebab disesuaikan juga dengan puitisasi Indonesianya.

Sayapun melihat terjemahannya bagus dan saya upload di Youtube ini dan akan dipromosikan juga di page Sinar Agama.

Keterangan Singkat yang Juga Bersumber dari Kitab Hadits dan Sejarah Saudara-saudara Sunni yang dimuliakan Allah swt) sbb:

Setelah Nabi saww wafat/syahid, rumah Hdh Faathimah as diserang dan dibakar karena Imam Ali as tidak mau baiat (sebab beliaulah as yang diangkat menjadi Imam/khalifah oleh Allah dan Nabi saww di banyak ayat dan hadits Sunni, lalu mengapa beliau as yang harus berbaiat kepada yang tidak ditunjuk Allah dan Nabi saww?).

Hdh Faathimah bintu Rasulillah as yang sedang hamil, dalam membela Imam Ali as, menasihati mereka dari belakang pintu rumah yang sudah terbakar itu. Tapi para penyerang malah menendang pintu itu hingga mengenai beliau as dan patahlah tulang rujuk serta gugurlah kandungan beliau as.

Sejak itu badan beliau kurus, sebab imamah/khilafah yang mestinya dipegang Makshum (ilmunya ttg Islam 100% lengkap dan benar serta diamalkan sebagaimana disebutkan di QS: 76:24, sementara yang makshum itu hanya Ahlulbait spt difirmkanNya dlm QS: 33:33 dan imam makshum ini hanya 12 orang spt yang disabdakan Nabi saww dalam Shahih Bukhari, hadits no: 7222 dan 7223, serta Shahih Muslim, hadits ke: 3393 dan 3394 dll-nya dimana mereka inilah Jalan Mustaqim dan Khalifah Raasyiduun karena makshum as, alias tidak relatif, tidak kurang dan dijamin Tuhan tidak memiliki dosa/rijs dan kesalahan/dhaalliin sedikitpun sebagaimana di QS: 33:33 itu), diambil oleh yang tidak makshum. Jadi, kesedihan beliau hf akan hal ini, dan musibah badani yang beliau derita itu juga, semakin hari semakin cepat Naahilah (kurus dan lemah), Baakiyaah (menangis), Munhadatul Rukn atau Quwa (Hancurnya pilar-pilar kekuatan), Mu'ashshabtul Ra's (ditimpa bencana besar ke atas kepalanya/dirinya).

Nah, bait-bait syair duka berbahasa Parsi ini, ingin menerangkan dan menjelaskan maksud hadits Sunni dan Syi'ah di atas itu. Tentu saja, penjelasan ringkas dan dalam bentuk puisi atau syair. Semoga terjemahan ini lebih mendekati dan bermanfaat buat kita semua.

Maksud dari peluncuran sejarah pahit yang ada di Sunni dan Syi'ah ini, bukan untuk mengungkit luka lama dalam artian membuat perseteruan, melainkan hanya ingin menghormati beliau as yang menderita yang merupakan titipan kanjeng Nabi saww sendiri sebagai istri dan ibu para Ahlulbait as.

Apapun perbedaan tanggapan tentang sejarah yang ada di Sunni dan Syi'ah di tas, merupakan hal yang bisa dikatakan wajar dan sama sekali tidak bisa alias haram untuk dijadikan alat perpecahan satu sama lain. Karena perbedaan itu fitrah (apalagi banyak yang tidak tahu), sementara pemaksaan dan perpecahan itu jelas haram menurut Qur an dan Hadits serta akal sehat manapun.

Saya dan ustadz di atas, sama-sama memohon maaf kepada penerjemah sebelumnya, semoga sama-sama diterima olehNya dan dapat memancing lirikan, keridhaan dan syafaat para Makshumin as.

Wassalam, 18-2-2018 (1-Jumaadi al-Tsaani 1439, dua hari menjelasng peringatan kesyahidan Hdh Faathimah bintu Rasulillaah as.

Sinar Agama

You need to be a member of Sinar Agama to add comments!

Join Sinar Agama