Nabi Dan Ahlul Bait

Asal Keturunan Nabi Adam as

Rido Al’ Wahid: Saya ada pertanyaan nih ustad, afwan.. Karena mumpung pembahasannya tentang ini.. Pertnyaannya adalah, keturunan Nabi Adam ini berasal dari mana? Jika berdasarkan pahaman sunni bahwa manusia adalah dari keturunan Nabi adam yang berasal dari perkawinan anak-anak Adam, namun hal itu jelas bertentangan dengan hukum Tuhan dimana sesama saudara apalagi saudara kandung itu tidak boleh terjadi Dalam buku yang pernah saya baca ’Konsep Tuhan’ karya Yasin T. Al Jibouri, bahwa yang menikah dan menghasilkan keturunan adalah bukan berasal dari perkawinan saudara, lalu dia mengambil pandangan dari beberapa kalangan ulama, yang mengatakan bahwa keturunan tersebut dari perkawinan antara anak Adam dan bidadari yang bersal dari surga.... Namun yang membuat saya agak kurang menerima ialah bahwa apakah mungkin terajdi perkawinan antara manusia dengan bidadri, apakah hal tersebut tidak melawan hukum alam??? Seperti yang berbunyi dalam Quran bahwa Allah menciptakan laki-laki dan perempuan secra berpasangan.. Sehingga apakah mungkin terjadi perkawinan dari jenis yang berbeda tersebut??? Syukron..

Sinar Agama: R-A: Karena saya merasa tidak ada masalah dengan perkawinan saudara itu , maka saya selama ini tidak terpancing sama sekali menelitinya. Oleh karenanya yang bisa saya katakan sekarang ini adalah, perkawinan itu terjadi diantara sesama saudara sesuai dengan lahiriah ayat yang mengatakan bahwa Allah mencipta kita dari satu orang, dan dari satu orang itu dicipta istrinya, dan dari keduanya itu akhirnya bertaburan anak-anak manusia yang banyak. R-A: Hukum Tuhan itu mengalir seiring dengan kemampuan yang ada pada manusia. Oleh karena itu, pada waktu itu, sudah tentu tidak wajib hijab seperti hijab sekarang....dan seterusnya dari hukum-hukum yang tidak mungkin dilaksankan pada jaman itu. Begitu pula tentang kawin ini. Jadi, kawi diantara saudara pada waktu tentu saja tidak haram. Karena pengharamannya membuat manusia waktu itu tidak akan mempu melaksanakan perintahNya, padahal Tuhan tidak memerintah kecuali sesuai dengan kemampuan manusia. Sedang bidadari itu adalah jenis makhluk non materi, jadi dia tidak bisa kawin dengan manusia. Mendingan kalau jin, karena dia masih materi sekalipun materi halus dan ringan, yakni api.

Rido Al’ Wahid: Kher ustad alafwu.. Saya sepakat dengan pernyataan antum bahwa bidadari yang berasl dari alam yang tinggi bertemu dengan manusia di alam materi..

Sinar Agama: R-A: na’am, afwan kalau kurang memuaskan. : Maaf, yang pernah saya bacai adalah sebagaimana disebutkan oleh RA dan saya lebih ”menyukainya”. Dalam buku Haft Asy Syarif atau Masyaariq Anwaar -kalau tidak salahseorang jin perempuan untuk Qabil dan bidadari untuk Habil. Bisa jadi bidadari dan jin pun

memiliki kadar untuk menjadi manusia dan bukan hanya tanah. Dari sini saya mengambil kesimpulan umum, syariat pada dasarnya sama sedari dulu untuk hal yang sama. Termasuk shalat misalnya. Sedari dulu pun sama. Termasuk pula puasa ramadhan dan seluruhnya. Kecuali ada perintah khusus dalam kasus tertentu saja seperti umat Musa as yang hendak bertaubat harus bunuh diri misalnya. Tetapi pengecualian adalah tidak mengubah umum secara keseluruhan. Jadi bukan JIN dan bukan pula BIDADARI. Hanya sangkan paraning dumadinya saja. Perempuan yang dicipta dari jin dan bidadari karena jelas harus dari jenis yang sama pula yaitu manusia. Perubahan wujud bukankah hal yang biasa saja sebagaimana umat musa menjadi babi dan kera maka begitu jugalah jin dan bidadari menjadi manusia. Jauharuddin Muhammad: Izin copy ustad.

Sinar Agama: D-G: Ketika isykal dan masalahnya adalah hukum, bukan hakikat dan filosofisnya, maka jawabannya yang bijaksana adalah dari sisi hukum. Oleh karena itu tidak bijak kalau isykalan hukum terus jawabannya filsafat. Isykal hukum di sini adalah kawin dengan saudari. Jawabannya adalah boleh kalau dibolehkan Tuhan, sebagaimana hijab tidak wajib kala itu karena tidak diwajibkan Tuhan. Dan karena perintah Tuhan itu mesti selaras dengan kemampuan manusia sesuai jamannya masingmasing, maka kala itu tidak diharamkan kawin dengan saudari. Inilah yang justru lahiriahnya tidak punya masalah. Yang ke dua, yang dijadikan babi dan monyet dari umat terdahulu itu adalah ruhnya dengan apa yang dikenal sekarang dengan tajassudu al-a’maal. Jadi bukan badaniahnya.

Sinar Agama: J-M: silahkan saja, u well come.

Sinar Agama: D-G-T: ke tiga, jawabannya saya itu bukan untuk merubah kesengan antum. Antum silahkan saja dengan yang antum senangi. Saya menjawab karena merasa harus menjawab dan sekedar mengisi diskusi supaya tidak bolong. Jadi, jangan dikira saya mau mamaksakan teori saya.

D-Gooh Teguh: Ya ya ya. Semua yang bisa saya pahami pasti saya cerna. Yang belum bisa maka tetap selalu saya pikirkan dan coba saya pahamkan. Dan pada akhirnya segala sesuatu bergantung pada ”diri sendiri”. Dan urusan saya jelas tidak pernah saya letakkan pada yang saya senangi dalam urusan rasa tetapi lebih ke kata akal pikiran saya. Maka saya berikan tanda kutip di frasa saya senangi. Tentunya lebih tepat mana yang lebih benar menurut kapasitas saya. Jelas setiap pribadi memiliki kapasitas yang berbeda terlebih antara yang yang terdidik filsafat secara akademik dengan saya yang hanya ”filsafat on the street”. Terima kasih atas pencerahannya. Banyak hal yang menjadi minyak untuk obor akal selanjutnya khususnya yang belum saya pahamkan benar.
Satu demi satu saja agar saya tidak semakin kebingungan. Mencari notenya dimana saya berkomen pun susah karena ada banyak kiriman note yang sama.

Tanah --> Manusia (Adam)
?????? --> Manusia (Hawa)
Jin --> Manusia (Istri Qabil)
Bidadari --> Manusia (Istri Habil)
kaping setunggal> Apa yang membuat mustahil asal penciptaan yang ketiga dan keempat...?
kaping kalih> penciptaan Hawa dari apakah asal usulnya?
kaping tigo> ruh manusia pada akhirnya terkait dengan badannya. Jika Jin dan Bidadari adalah immateri maka samakah kedudukannya dengan ruh manusia? Jika sama atau sejenis ada kemungkinan badan-badan mereka berempat pun dari tanah. PADA DASARNYA ENTAH
BAGAIMANA MEKANISME KEJADIANNYA, tidak disebutkan di riwayat tersebut dan saya juga belum mengetahuinya. Tetapi menurut riwayat adalah sedemikian.

Jika riwayat tersebut dibuktikan sebagai ”tidak benar” atau bukan berasal dari aimmah as maka satu masalah selesai. Dan menurut dugaan rasa kemuhriman itu telah ada sedari dahulu kala. Rasa normal enggan syahwat dengan muhrim itu apakah hanya karena lingkungan dan bukan bawaan? kaping sekawan> Bisakah memberikan contoh syariat apa yang sekarang boleh dan dahulunya dilarang? Juga syariat apa yang sekarang dilarang padahal dahulunya boleh? Tentunya selain kawin muhrim yang sedang dibahas.
Terima kasih.

Satu lagi tambahan MASALAH FILSAAT vs. KALAMI: Bukankah secara pemikiran filsafat tidak bisa mengatakan tidak ada manusia lain yang bisa mencapai derajat Rasulullah saaw dan Ahlulbaitnya..? Menurut pemikiran keawaman saya secara rasional maka tidak bisa menutup kemungkinan adanya manusia atau makhluk lain yang bisa mencapai kedudukan seperti mereka. Bantahan tentang hal ini hanya ditemukan dalam kalami. ”Tidak seorangpun boleh disamakan dengan kami ahlulbait”. Dimanakah letak kesalahan pernyataan saya ini...? Dengan demikian filsafat dan kalami ini harusnya salin melengkapkan. Saya buka-buka kembali buku belum menemukan juga dimana disebutkan. Karena saya pernah membaca di riwayat tersebut Imam Ja’far as (jika tidak salah ingat) melaknati mereka yang mengatakan tentang inchest tersebut. Dengan demikian masalah ini menurut hemat saya menjadi
penting karenanya. Jika dibuktikan riwayat ini tidaklah benar atau tafsirnya tidak sedemikian maka selesailah masalah.Di Haft Asy Syarief hanya sedikit saja dan beda fokus bahasan. Saya pernah membacainya tetapi terlupa dimanakah. Dan belum ketemu lagi. Allahumma shalli ala Muhammad wa aali Muhammad.

Sinar Agama: Salam, bagi D-G-T yang sedang asik menulis komentar dengan kaping-kapingnya, terimakasih atas kaping-kapingnya tersebut. Saya kemarin sama sekali tidak buka fb karena seminar yang diperkirakan dua kali, ternyata menjadi 4 kali, syukur hari ini sesuai jadwal, yakni hanya satu kali, hingga di pagi ini bisa nyempatin nengok fb, eh....ternyata sudah berkapingkaping he he ...

(1) Kependekan dari kaping: Antum bertawadhu katakan belajar filsafat di jalanan. Kami sendiri sampai2 menyembunyikan nama asli karena supaya tidak mengurangi diskusi yang nyaman dan mengalir yang kalau perlu diiringi dengan banting-bantingan, tap bukan banting beneran he he he. Semua itu karena sekalipun kami merasa belajar secara akademis sesuai dengan sekolah kami, tap semua itu tetap tidak menutup kemungkinan kesalahan pada pemikiran
dan kesimpulan kami. Jadi dengan diskusi itu maka akan ketahuan apakah suatu pandangan itu bisa dipertahankan atawa tidak.

(2) Saya memahami sangat mustahil bahwa manusia kawin dengan malaikat, kalau dengan jinmungkin masih bisa, karena dia dari materi ringan, yakni api. Tapi kalau malaikat yang dari nur, alias non materi barzakhi, maka dia sama sekali tidak memiliki badaniah.

(3) Siti Hawa as diberitakan dalam hadits dari tiga hal, ada yang mengatakan dari tulang rusuk nabi Adam as (riwayat syi’ah dan sunnah), ada yang mengatakn dari tanah juga (saya rasa hanya riwayat syi’ah) serta ada yang mengatakan dari tanah sisa dari yang dibuat untuk tulang rusuk nabi Adam as (saya rasa syi’ah saja). Dan uraian panjang yang diiringi dengan banting-bantingan sudah saya lakukan di status Prita, kalau ingin merujuknya silahkan merujuk ke sana, walhasil dengan bahasa yang tidak biasa saya lakukan, yakni kasar banget untuk ukuran saya, yakni tulisan saya itu kasar banget, Hal itu saya lakukan karena dia telah berani mengejek hadits shahih Nabi saww (shahih secara syi’ah dan sunnah).

(4) Antum kurang teliti memaknai masing-masing esensi itu. Jin adalah makhluk ber-ruh dari tubuh yang dicipta dari materi api. Jadi ruh jin sama dengan manusia, bahwa ia adalah non materi secara zatnya dan materi secara kerjanya. Ruh manusia adalah non materi secara zatnya dan materi secar aktifitasnya. Malaikat adalah non materi secara zat dan kerjanya. Jadi, hanya manusia dan jin yang berhubungan dengan materi. Tapi tetap tidak mungkin jin itu berhubungan dengan tanah, karena dalam Qur'an sudah disebutkan bahwa dia dicipta dari api. Jadi badan manusia dan jin adalah lain, sementara malaikat sama sekali tidak berbadan materi. Kalau ghitu bener saja diriku kurang dipahami, karena belum jelas di sininya, yakni di esensi masin-masingnya itu.

(5) Riwayat dari imam as itu tidak mesti shahih, dan kalau shahih belum tentu tidak ada perlawanannya dari hadits shahih atau tidak shahih lainnya. Dan kalaulah shahih belum tentu tidak bertentangan dengan Qur'an atau akal. Jadi hadits imam as itu tidak menjamin pada permulaannya. Jadi harus diteliti lebih jauh. Kalau dari imam as tapi tidak shahih sanadnya, maka ya...tinggal dibiarkan saja, tidak bisa diambil. Kalau shahih sanadnya, ya...dilihat bertentangan apa tidak dengan hadits shahih atau tidak shahih lainnya, atau dengan Qur'an dan akal. Kalau bertentangan dengan hadits yang tidak shahih, maka ianya diambil dan yang tidak shahih itu dibiarkan saja. Kalau bertentangan dengan yang shahih lainnya, maka dilihat mana yang lebih cocok dengan akal, Qur'an. Walaupun ada juga yang membolehkan pilih saja salah satunya sampai ketemu makshum as. Dan kalau bertentangan dengan Qur'an dan akal, maka dibiarkan saja. Tap kalau bisa dicarikan jalan keluarnya, misalnya dengan memaknainya dengan makna yang tidak lahiriah, maka diusaha untuk diatasi dengan cara itu. Nah, hadits-hadits yang antum katakan itu, kalau ada, dan kalaulah shahih, belum tentu bisa diambil lahiriahnya. Terlebih dalam hal ini karena secara lahir bertentangan dengan Qur'an yang mengatakan bahwa Tuhan mencipta manusia dari satu orang, lalu darinya dicipta istrinya dan dari keduanya dicipta manusia yang banyak.

Jadi kalau hadits antum itu shahih, maka bertentangan dengan ayat tsb. Dengan demikian tidak bisa dimaknai secara lahiriah, dan kalau ada makna takwil yang cocok, maka sangat mungkin maksud makshumin adalah makna batin itu. Hadits shahih itu tidak mesti benar, dan kalaulah benar tidak mesti juga sesuai makna lahirnya. Hadits shahih itu adalah shahih sanad dan perawinya. Artinya boleh dijadikan sandaran, tap bukan jaminan kebenaran. Jadi kalaulah hadits itu ternyata salah, maka kita akan dimaafkanNya karena sudah mengambil dari orang tsiqaah atau jujur dimana dikatakan shahih. Itu saja dari makna shahih dalam syi’ah, yakni bisa/sah dibuat sandaran.

(6) Tentu saja banyak sekali syari’at yang berbeda antara yang satu dan yang lainnya. Karena syari’at itu pengaturan Tuhan tentang manusia hidup sesuai dengan potensi, kemampuan, dan kondisi masing-masing umat. Misalnya bagi yahudi diharamkan mancing hari sabtu. Bagi orang-orang pada masa-masa belum ada baju, tidak mungkin diwajibkan hijab. Orang-orang atau umat seblum nabi Ibrahim as tidak diwajibkan haji seperti haji sekarang. Shalatnya orang dulu tidak sama dengan sekarang, misalnya tidak pakai rukuk, atau tidak pakai bacaan-bacaan seperti sekarang, apalagi yang bukan nabi Arab.

(7) Antum mengatakan bhw(bahwa) secara filsafat bahwa orang bisa mencai maqam Rasul saww itu dari mana? Kemungkinan dalam filsafat itu ada dua macam, mungkin secara akli/aqli) dan mungkin secara kejadian. Kemungkinan seseorang sampai ke tingkat Nabi saww itu adalah kemungkinan akli/aqli), yakni secara potensi dimana Tuhan memberikan kepada semua orang dengan sama, maka maqam itu bisa dicapai siapa saja. Akan tetapi secara fakta dan kenyataan, karena selain beliau saww tidak menggunakan potensi-potensi itu, maka secara filosofis sangat mstahil untuk mencapainya. Jadi Naql, dalam hal ini adalah hanya memberitakan tentang kejadiannya itu. Jadi secara filosofis sudah ada kaidahnya yang sudah diketahui, dan naql hanya mengabarkan kejadiannya. Yakni syari’at hanya mengatakan bahwa yang terjadi bukan teori pertama dari teori filosofis itu tapi teori ke dua, yakni yang mengatakn bahwa ketika semua orang tidak menggunakan potensinya itu maka mustahil mencapai maqam Nabi saww.

(8) Ilmu Kalam itu bukan Naql. Dan filsafat itu bukan akal. Ilmu Kalam adalah ilmu yang bersumber kepada naql (Qur'an-Hadits) yang dipahami secara akliah/aqliah lahiriah, yakni akal-’urfi, akalumum. Jadi, walaupun ada takwilan dari makna lahiriahpun, tetap saja berkisar takwilan yang juga umum dipakai akal-masyarakat umum. Misalnya Tuhan punya dua tangan, atau tanganNya di atas tangan-tangan manusia, maka di sini sekalipun Kalam menafsirkan dengan batinnya, tapi hanya yang juga bersifat umum. Misalnya bukan materi karena Tuhan tidak terikat dengan ruang dan waktu dan tidak terikat dengan apa saja. Tangan di sini bermakna kekuatan, sebagaimana dikatakan si fulan itu adalah tangan kanan si fulan.....dst dari takwilantakwilan yang juga masih bersifat umum. Ini kurang lebih arti ilmu Kalam. Tapi kalau filsafat adalah ilmu yang membahas tentang wujug dengan akal secara akalgamblang, artinya semua dasar pemikirannya itu harus dengan dalil akal, dan dalil akal ini harus mencapai dalil-akal-mudah-gamblang dan pasti. Jadi sudah jelas tidak saling melengkapi, dan bahkan saling bertentangan di banyak hal. Bagaimana mungkin akal-umum bisa disamakan dengan akal-nyata? Yakni bagaimana mungkin bisa saling melengkapi. Memang, dalam banyak hal ada kesamaan, tapi di tingkat dasar dan mudah serta gamblangnya itu. Tapi di tingkat kesimpulan dan pelacakan terhadap sesuatu yang sedang ditelitinya itu sangat mungkin untuk tidak seiring.

Misalnya, alam akan kiamat. Kiamat di akal-umum adalah hancurnya permukaan bumi dan permukaan beberapa pelanet, hingga buminya dan kuburannya masih ada dan kebangkitan adalah di atasnya. Tapi kalau di filsafat adalah hilangnya alam materi dimana bumi dan sak tulang-tulangnya juga hilang.
Lalu setelah itu, bagaimana mungkin bisa sama antara makna kebangkitan di Kalam dan Filsafat. Terus bagaimana akan saling melengkapi? Kalau di sekolah kami, sebelum belajar filsafat harus belajar Kalam dulu. Itu karena yang wajib adalah Kalam dan filsafat adalah pendalamannya. Artinya kalau orang salah dengan ilmu Kalam maka sudah sah dan dimaaf Tuhan. Nah, belajarnya ilmu Kalam itu untuk supaya hati kita kuat dulu tentang keimanan minimal tsb. Dimana nanti kalau tidak kuat dan tidak paham tentang uraian filsafatnya, bisa tetap punya pijakan keimanan yang dari Kalam itu. Artinya kalau tidak filosofis, maka setidaknya tetap punya keimanan yang sah dan dipahalai serta diampuni salahnya.

(9) Kalau ilmu Kalam tidak berani menakwil Qur'an kecuali bertentangan dengan akal-umum yang mudah. Tapi kalau filsafat mengatakn harus ditakwil dengan akal di tingkatan manapun, yakni akal tinggidan filosofi sekalipun. Tentu saja asalkan punya dalil akal-mudah dan gamblang. Jadi sebenarnya, ilmu Filsafat itu memudahkan yang sulit-sulit. Nah, kalau ada orang yang membuat sulit dengan filsafat, berarti ada kemungkinan dia sendiri tidak paham atau ingin unjuk rasa dan ingin menonjol. Maka selalu ego ini yang menghambat pengertian, sembari menghiasinya dengan istilah-istilah yang rumit. Lah...untuk apa semua itu?

D-Gooh Teguh: Akhir kata yang bisa saya ucapkan: ”doakan saya termasuk kalangan mereka yang mempunyai keimanan yang sah dan dipahalai serta diampuni salahnya”. Dan tentu saja: doakan juga saya bisa memahami setiap problematika dan jawabannya. Dan tentu saja diampunkan jawaban-jawaban saya yang salah pada penanya saya. Semoga jawaban salah itu pun masihlah ”bisa dibenarkan” dalam level saya dan sang penanya. Semoga masih bisa dimaklumi-Nya. Saya hanya berharap pada pengampunan-Nya saja. Terima kasih atas penjelasannya. Sekarang mengkonstruk bangunan pengetahuan yang ada di diri agar lain kali bisa menjawabi pertanyaan dengan lebih baik pula. Banyak hal yang belum klik tetapi insyallah akan segera klik setelah menemukan pengkalimatan versi sendirinya.

Sinar Agama: D-G-T: Kalau antum berpandangan bukan karena kecenderungan pada diri, guru, sejarah diri, kesukaan...dan seterusnya, maka kesalahannya pasti diampuniNya. Yakni kesalahan yang dikarenakan kesalahan pada argumentnya yang tulus/ikhlas. Kita semua juga begitu, yakni siapapun yang salah yang tidak disengaja atau tidak semi sengaja (seperti karena kecenderungan ke diri, guru, sejarah dan pangalaman, kesukaan ...dan semacamnya), maka pasti diampuniNya. Artinya kalau semua kecendurangn itu tidak mengalahkan argumentasi-gamblangnya. 

Abdurrahman Shahab: Afuan Ustadz. Ana ingin bertanya, bagaimana malaikat yang sepenuhnya inmateri, lantas bisa ditanpakkan sebagai wujud manusia atau wujud tanpak lainnya (yang berwujud materi) ?

(2) Ketika Rasulullah SAWW Isra’ mi’raj, ke Sidratul Muntaha, bukankan Rasulullah di Mi’raj-kan oleh Allah bukan hanya Ruh nya saja, tapi keseluruhan utuh sebagai diri Rasulullah, yang berarti bahwa alam materi (wujud Rasulullah secara sempurna sebagai manusia) juga bisa mencapai alam non materi secara ?

(3) Apakah ketika manusia dibangkitkan kembali, itu hanya dibangkitkan Ruhnya saja atau Ruh dan bandannya, dan demikian juga ketika manusia dimasukkan ke dalam neraka atau surga, apakah Ruh nya saja atau Ruh dan badannya ? Dan jika hanya Ruh saja (non materi) yang memasuki neraka atau surga, lalu bagaimana siksa neraka atau nikmat surga sebagai balasan atas perbuatan manusia nanti dapat dimaknai sebagai KeAdilan Ilahi jika hanya Ruh nya saja yang mengalami pembalasan ? Afuan, sekali lagi ustadz mohon pencerahannya ...

Sinar Agama: A.Sh,
1. Setiap non materi barzakhi seperti malaikat, ia bisa terlihat dengan mata barzakhi pula. Jadi sebenarnya, ketika manusia melihat malaikat, yang melihat, bukan mata lahiriah atau badaniahna, akan tetapi badan barzakhinya. Karena itu, salah satu pengetes tampakan yang mencurigakan (katakanlah kita melihat sesuatu), maka untuk membedakannya dari materi, cukup dengan memejamkan mata. Kalau sesuatu yang terlihat itu, tidak terlihat lagi, maka ia
materi. Tapi kalau masih juga nampak, maka ia adalah badan barzakhi. Sangat mungkin setelah ini, akan banyak diterangkan lagi tentang tiga alam, yaitu materi, barzakhi dan akli. Jadi, kalau para shahabat melihat malaikat Jibril as yang menjelma itu, maka sebenarnya mereka dapat melihat lantaran syafaat Nabi saww dan kehendak Allah dan, yang melihat, tentunya bukan mata lahiriah mereka, melainkan mata barzakhinya sebagaimana mereka melihat sesuatu ketika tidur (mimpi) yang juga sama-sama barzakhi. Tapi ingat, bahwa bentukan orang dan bentuk-bentuk yang dilihat itu, bukan mesti bentu asli
dari malaikat Jibril as, melainkan bentuk yang dikehendakinya sendiri. Karena badan barzakhi itu, tidak terikat dengan ruang dan waktu hingga bisa diperbentukkan dengan berbagai bentuk.

2. Isra’ Mi’raj itu ada dua tahapan:
- Pertama dengan ruh dan badan, yaitu yang melanglang di alam materi ini sampai ke akhirnya.
- Ke dua, dengan ruh Nabi saww saja. Yaitu ketika naik ke alam barzakhi dan akli. Sebagaimana
telah dibahas dalam pembahasan filsafat dan alam keberadaan (wujud), alam dibagi tiga:

Pertama, alam materi (materi mutlak). Ke dua, alam barzakhi (pertengahan antara materi mutlak dan non materi mutlak). Ke tiga, alam akli (non materi mutlak). Nah, isra’ mi’raj yang di alam materi, jelas dengan ruh dan badan beliau saww. Sementara ketika naik ke alam yang berderajat lebih tinggi, yaitu barzakhi, maka hanya dengan ruh beliau saww. Begitu pula ketika masuk ke alam akli dimana diawali dengan akal-akhir yang juga disebut dengan ‘Arsy
dan Lauhu al-Mahfuuzh. Hal itu, karena materi atau badan beliau saww, jelas tidak bisa masuk ke alam barzakh yang non materi. Akan tetapi, walaupun dikatakan dengan ruh saja, bukan berarti ruh beliau saww itu lepas dari badan beliau saww seperti mati shuurii/suri. Karena itu, dalam keadaan tetap dengan badan itulah, ruh beliau saww meneruskan perjalanan ke alam non materi barzakhi dan non materi akli. Persis seperti yang dikatakan beliau saww sendiri bahwa shalat itu (tentu shalat yang benar dan khusyu’) adalah mi’raj seorang mukmin. Jadi, orang mukmin atau Nabi saww sendiri, kalau shalat, walaupun tubuh beliau saww ada di masjid, tapi ruh beliau saww berisra’ mi’raj sampai ke shidratu al-muntahaa.

3. Ruh manusia itu, memiliki empat daya: Daya-tambang, yang bertugas memutar atom-atom badannya. Daya-nabati, yaitu yang mengatur pertumbuhannya. Daya-hewani, yaitu yang mengatur rasa, perasaan dan gerak ikhtiarinya. Daya-akli, yaitu yang mengatur pahamannya dalam memahami universal dan penerapan-penerapannya kepada individunya atau partikulirnya. Ketika manusia aktif dalam jaga, maka seluruh daya yang dimiliki ruhnya, juga aktif. Dari ruhdayaatom sampai dengan ruh-daya-akal. Ingat, ruh manusia ini, non materi dan tidak bisa dipecah-pecah ke dalam empat daya tersebut. Akan tetapi, karena seluruh aktifitas yang ada pada materi dilakukan oleh non materinya (ruhnya), dan karena aktifitas yang ada pada tubuh
manusia ada empat, maka akal kita dapat mengetahui adanya empat daya tersebut, tanpa bermaksud memecahnya menjadi empat bagian seperti materi.
Katika manusia tidur atau pingsan, maka ruh-daya-akal dan ruh-daya-hewaninya, libur. Karena itu, yang aktif hanya ruh-daya-nabati dan ruh-daya tambang. Karena itu, kalaupun ia tidur satu tahun, tubuhnya akan tetap berkembang dan, sudah tentu atom-atom badan dan detak-detak jantungnya, tetap aktif. Ketika manusia mati, maka semua daya ruhnya menjadi libur selain daya tambangnya. Nah, kematian manusia ini juga dikatakan alam barzakh, karena ia menunggu antara awal kematian dan hari kebangkitan, yakni antara alam materi dan akhirat. Sementara kiamat, adalah hancurnya alam materi secara keseluruhan termasuk udaranya. Allah sendiri mengatakan bahwa gunung dan bumi akan dihancurkan sehancur-hancurnya.

Lihat QS: 69:14:

رْضُ وَحُمِلَتِ ◌َ وَاحِدَة دَكَّة فَدُكَّتَا وَالْجِبَالُ الْ

Dan diangkatlah bumi dan gunung-gunung, lalu dibenturkan keduanya (sampai hancur menjadi tepung) sekali bentur.” 

Dakka itu artinya menghancurkan sehancur-hancurnya seperti tepung. Di tempat lain, yaitu di QS: 89:21, Allah berfirman:

رْضُ دُكَّتِ إِذَا كَلَّ ◌َ دَكًّا دَكًّا الْ

Tidak demikian. Ketika bumi ditumbuk setumbuk-tumbuknya, setumbuk-tumbuknya.

Catatan:
- Ketika sekali tumbuk saja sudah seperti tepung dan lebih halus lagi, maka bagaimana menumbuk lagi yang sudah jadi tepung itu untuk tahap ke dua dan ke tiga?? Karena ayat tersebut menekankan sampai ke tiga kali tumbukan.

- Kalau kiamat itu penumbukan alam ini, maka berarti semua yang ada, termasuk langit dan udara, juga demikian. Nah, menghacurkan udara, atau menumbuk gunung menjadi tepung yang ditumbuk lagi sampai dua kali lagi, maka hal itu memberikan pengertian bahwa kiamat itu
adalah hilangnya alam materi ini.

- Ketika alam materi ini hilang, bumi juga hilang, maka sudah pasti tulang belulang kita, juga hilang.

- Dikala sudah hilang, maka itulah makna kebangkitan. Yakni yang tadinya manusia yang mati masih terikat dengan badan materinya dan atom-atom badannya yang sudah berkalang tanah, sekarang ia bebas dari badan materinya sama sekali. Inilah kebangkitan. Yakni bangkit dari alam materi atau masih terikatnya dengan alam materi, menjadi alam non materi.

- Tapi ingat, bahwa non materi manusia itu, masih mengandungi non materi barzakhi dan bahkan hanya di non materi barzakhi saja. Karena yang bis menembus ‘Arsy atau akal-akhir, hanya insan kamil saja atau seorang wali.

- Alam Akli itu, bukan akal manusia. Tapi non materi mutlak. Mereka memiliki derajat dari Akalpertama sampai ke akal-akhir. Jumlahnya, hanya diketahui Allah swt. Akal-pertama itu adalah makhluk pertama yang juga disebut Nur-Muhammad saww dan akal-akhir disebut dengan ‘Arsy atau Lauhu al-Mahfuuzh atau disebut dengan malaikat-tinggi (QS: 38:75). Sedang non materi barzakhi, yakni yang memiliki bentuk dan sifat-sifat materi di selain matter atau bendawiahnya, disebut juga dengan alam malaikat, alam mitsaal, alam ide,....dan seterusnya. Jawaban poin 3 ini adalah bahwa kelak, kebangkitan akhirat itu adalah kebangkitan ruh dan materi barzakhi, tapi tidak dengan materi bendawi. 

Ahmad Fauzi Baidlawi: Jazakallah.

Sinar Agama: Terimakasih untuk semua jempolnya.

Sinar Agama: alfaqir: u well come.

Safril Rasainy: Syukron telah berbagi.

Agoest D. Irawan: Ied Ghadir Mubarak Ustadz Sinar Agama.....

Sinar Agama: S-R: u well come, semoga bermanfaat.

Sinar Agama: A-D-I: sama-sama, ied mubarak, semoga wilayah imam Ali as selalu menjadi tameng kita dunia-akhirat mengusir kebatilan dan panasnya api neraka.

Eyang Putri Kami: Syukron ya atas kirimannya , Selamat Hari Idul Ghadir juga.

Gazali Rahman: Syukran Ustadz sudah tagg dan tulisan Ustadz menambah hasanah pengetahuan yang sangat berharga bagi kami..

Sinar Agama: Hj. E: sama-sama, semoga wilayah imam Ali as bisa menjadi benteng dunia akhirat kita semua dari kebatilan dan api neraka, amin.

Sinar Agama: G-R: sama-sama juga, semoga Tuhan menuliskan untukku katamu itu hingga aku bisa mendapatkan senyumNya, begitu pula dengan semua teman-teman di fb ini, amin.

Baba Sanglegenda: Jazakallah ..... Syukron ....tadz .... terimakasih banyak literasinya .... sangat bermanfaat ,.. tadz tetap berbagi ya..... 

Afan Bahtiar: Syukron ustadz.. dan tulisan-tulisan ustadz sangat bermanfaat bagi saya.

Fayroz Chaneman: Hanya Syukrooon saja terasa tidak cukup ,, lantas di atas Terimakasih itu apa ?... Afwaan saya tidak tau,, ”setiap habis mendalami pengetahuan-pengetahuan agama dari Ustadz’s yang berbasis AhlulBayt maka semakin sadar betapa bodoh saya selama ini, dan saya orang yang beruntung dapat petunjuk kebenaran dengan Kemurahan~Nya” saya peroleh tanpa keluar dari rumah... Subhanallah,, pahala buat Ustdz... Sinar Agama, ”Eid Ghadir Mubarak ,, Salam warahmah :)*

Fayroz Chaneman: Syi’ah adalah Islam yang sebenarnya ,, Syi’ah adalah tujuan hidup saya ,, Mohon jangan jenuh untuk berbagi Ilmu kepada saya ,, saya didik anak-anak saya juga orangorang di sekitar saya untuk memberi tahu jalan kebenaran ,, Allahumma inni ataqorrobu ilaika bi
wilayati Ali ibn Abi Thalib . . . *

Bersambung ke artikel berikut:

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 1

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 2

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 3

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 4

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 5

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 6

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 8

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 9

You need to be a member of Sinar Agama to add comments!

Join Sinar Agama

Nabi Dan Ahlul Bait

Asal Keturunan Nabi Adam as

Rido Al’ Wahid: Saya ada pertanyaan nih ustad, afwan.. Karena mumpung pembahasannya tentang ini.. Pertnyaannya adalah, keturunan Nabi Adam ini berasal dari mana? Jika berdasarkan pahaman sunni bahwa manusia adalah dari keturunan Nabi adam yang berasal dari perkawinan anak-anak Adam, namun hal itu jelas bertentangan dengan hukum Tuhan dimana sesama saudara apalagi saudara kandung itu tidak boleh terjadi Dalam buku yang pernah saya baca ’Konsep Tuhan’ karya Yasin T. Al Jibouri, bahwa yang menikah dan menghasilkan keturunan adalah bukan berasal dari perkawinan saudara, lalu dia mengambil pandangan dari beberapa kalangan ulama, yang mengatakan bahwa keturunan…

Read more…

Ied Ghadir

Sinar Agama: A-M-K: biasanya menerima ucapan selamat para pencintanya. Peringatan yang dianjurkan dalam agama dalam ied ini adalah, membersihkan diri, memakai baju bagus dan wewangian, menolong orang menjamu orang, dan ibadah-ibadah lainnya. Ied ini adalah terbesarnya ied, karena dengannya semua isi agama setelah masa Rasul saww menjadi bisa diyakini kebenarannya dan menjadi bermakna. Karena tanp kepemimpinan dan kepengawasan orang makshum, maka agama tidak akan punya pijakan nyata, kecuali khayalan belaka. Memang pengampunan bagi yang tidak tahu tetap berlaku, tapi secara hakikat dan filosofi, maka agama minus makshum, sama dengan khayalan.

Abdul Malik Karim: Biasanya…

Read more…

Israa Mi'raaj

27. Akan tetapi, kita bisa mengambil pelajaran dari terjadinya Isra’ Mi’rajnya Nabi saww dimana beliau saww juga memasuki surga dan bisa keluar, dan dimana surga itu tidak bisa dikatakan Surga-Turun karena beliau saww memasukinya disebabkan ikhtiar beliau saww yang begitu hebat hingga dapat memasukinya sebelum hari kiamat, maka rahasia bisa keluar dan tidak bisanya itu, bukan karena turun dan naiknya ruh, yakni turun karena peniupan pertamanya dan naik karena penyempurnaan dengan ilmu dan amalnya, akan tetapi karena perbedaan yang ada pada yang memasukinya.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa surga-neraka dalam pandangan Filsafat dan Irfan, adalah Non Materi Barzakhi. Dengan demikian, maka…

Read more…

Bismillahirrahmanirrahim, ...

Peristiwa Nabi Adam as dalam Pandangan Filsafat

Haerul Fikri Bertanya:
Salam, ustad.. Sudah menjadi ketetapan Tuhan untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Dan, sepengetahuan saya, nabi Adam as adalah golongan hamba yang mukhlas (makshum) yang tak pernah melanggar syari’at dan tak tersentuh sedikittpun oleh iblis. Nah, bukankah pelanggaran nabi Adam as atas perintah untuk tidak menyentuh buah “Khuldi” telah menyalahi syari’at, dan juga dalam kalamullah dituliskan pelanggaran itu atas bisikan iblis. Ini berarti telah membatalkan ke-mukhlas-annya. Mengenai ketetapan Tuhan, apakah ketetapan-Nya untuk menjadikan nabi Adam as sebagai khalifah di bumi ini atas pengetahuan-Nya bahwa nabi Adam…

Read more…

Wasiat Sinar Agama

Beranda

Mengenal Syiah 12 Imam