Nabi Dan Ahlul Bait

Ied Ghadir

Sinar Agama: A-M-K: biasanya menerima ucapan selamat para pencintanya. Peringatan yang dianjurkan dalam agama dalam ied ini adalah, membersihkan diri, memakai baju bagus dan wewangian, menolong orang menjamu orang, dan ibadah-ibadah lainnya. Ied ini adalah terbesarnya ied, karena dengannya semua isi agama setelah masa Rasul saww menjadi bisa diyakini kebenarannya dan menjadi bermakna. Karena tanp kepemimpinan dan kepengawasan orang makshum, maka agama tidak akan punya pijakan nyata, kecuali khayalan belaka. Memang pengampunan bagi yang tidak tahu tetap berlaku, tapi secara hakikat dan filosofi, maka agama minus makshum, sama dengan khayalan.

Abdul Malik Karim: Biasanya menerima ucapan selamat para pencintanya. Peringatan yang dianjurkan
dalam agama dalam ied ini adalah, membersihkan diri, memakai baju bagus dan wewangian, menolong orang, menjamu orang, dan ibadah2 lainnya. Ied ini adalah ter...besarnya ied, karena dengannya semua isi agama setelah masa Rasul saww menjadi bisa diyakini kebenarannya dan menjadi bermaknya. Sumbernya di kitab mana ust?

Sinar Agama: Antum bisa merujuk ke mafatihul-jinan, misalnya imam Ja’far as ditanya, apakah ada ied selain jum’at, Adh-ha dan Fitri? Beliau as menjawab: ”Ada, dan ied ini lebih besar dari yang lainnya”, sang penanya bertanya lagi: ”ied apa itu?”, beliau as menjawab: ”Hari dimana hadhrat Rasul saww mengangka Amirulmukminin (imam Ali as) sebagai khalifahnya” yakni pada hari 18 Dzulhijjah.

Penanya bertanya lagi, lalu apa yang harus kita lakukan pada hari itu? Maksudnya yang baik dilakukan. Imam menjawab: ”Berpuasalah dan beribadahlah dan kenanglah nabi Muhammad saww dan Ahlulbainya as serta kirimkanlah shalawat untuk mereka, dan Nabi saww juga mewashiatkan kepada Amirulmukminin as untuk menjadikannya hari ied”.

Masih banyak lagi hadits-hadits seperti itu. Walau penyebutan hadits di sini ini tidak layak buat kita-kita yang bukan mujtahid, yakni tidak layak menyandarkan perbuatan fikih kita kapada Qur'an-hadits secara langsung, karena kita tidak memahami keduanya, dan yang paham hanyalah mujtahid namun sekedar untuk mengatakan kepada Anda yang kita katakan di komentar itu ada sandarannya. Namun jelas, sandarannya bukan hadits-hadits itu dan bukan pula kitab Mafatihul Jinan yang mengumpulkan riwayat-riwayat dari kitab-kitab hadits lainnya, tapi dari fatwa ulama kita yang membolehkan mengamalkan kitab do’a terkenal yang bernama Mafatihu al-Jinan itu. Jadi, mengenang Rasul saww dan Ahlulbait as serta mengucap selamat dan shalawat kepada mereka adalah bagian dari ajaran Islam. Siapa yang tidak senang kalau pada hari ied besar ini bisa berada di dekat imam Ali as yang diwashiati Rasul saww untuk menjadikan hari 18 Dzulhijjah ini sebagai hari ied dan mengucap salam serta kesejahteraan/shalawat serta ucapan selamat kepada beliau as?

Hadits-hadits tentang amalan-amalan di hari ied ini yg dikumpulkan oleh al-Qommi dalam Mafatihu al-Jinan-nya itu saja ada 9 macam amalan, dari puasa, mandi, shalat tertentu, ziarah, do’a-do’a tertentu, ...dst. Dan dalam hadits-hadits yang dikumpulkan oleh guru saya sendiri ada sekitar 7 penamaan untuk hari ini dan sekaligus misi-misinya, seperti: Hari Berhias (bersih-bersih dan memakai baju indah dan membersihkan rumah dan mengindahkannya dan semacamnya), Hari Tahniah (saling mengucapkan selamat sesama muslimin apalagi kapda imam Ali as yang memiliki wilayah itu sendiri), Hari Senyum, Hari Mengusir Kesengsaraan (dengan saling menolong dan semacamnya), Hari Hadiah dan Pemberian (sedekah dan semacamnya), Hari Memperbanyak Shalawat, Hari Berbaju Bagus, Berwangi dan Silaturrahim.

D-Gooh Teguh: Antara lain: siji> versi bahwa yang malaikat dan azazil bersujud bukanlah Adam as yang manusia pertama itu tetapi Rasulullah saaw. Ini pernah saya baca di terbitan ICC Jakarta. Tentang Adam as manusia pertama ”yang keenam kalinya” kurang dibahas karena fokus lebih ke sesungguhnya yang disebut Adam dimana perintah sujud diberikan.

loro> versi lainnya adalah makan buah beneran yang menyebabkannya begini dan begitu. Katanya kalau makna lahir tidak ada masalah apapun maka makna lahirnya pun memang terjadi beneran. Dan seterusnya.

telu> Adam as menginginkan kedudukan yang dirinya tak sanggup mencapainya. Ketidaksanggupan mencapainya telah diketahuinya pula. Seorang Nabi berbuat demikian adalah sebuah ”dosa”. Pokok Kemuliaan itu adalah Rasulullah saaw dan buahnya adalah Ali as. Muhammad bin Abdullah saaw nabi, ”aku juga nabi”, lha.. Ali as bukan nabi. Begitulah, beliau pun tergerak hati mengingini kedudukan yang diketahuinya tak sanggup diraihnya.
Dan beberapa lainnya. Demikianlah beberapa versi yang pernah saya bacai. Dan tentunya argumentasinya tidak terlalu bisa mngingat rinciannya.

Abdul Malik Karim: Terimakasih ustadz, apakah status riwayat itu adalah shahih?

Abu Humairoh: Bagaimana dengan nabi Yunus, yang dimakan dengan ikan hiu, karna ketika naik perahu, perahu itu mengalami masalah, karena ada orang yang melakukn maksiat terhadap Allah, di dalam ikan hiu seseorang tidak akan bertahan karena ada ke asaman lambung yang bisa menghancurkan, posisi nabi as Yunus di perut ikan di mana ? Kenapa tidak mati ?

D-Gooh Teguh: Pertanyaan saintifik nih...? Banyak fenomena kontemporer lainnya yang belum terpecahkan. Banyak orang yang berada dalam kondisi ekstreem dimana menurut biasanya harus mati tetapi masih hidup. Fenomena kontemporer pun banyak yang belum bisa dijelaskan oleh sains kok. Maaf Ustadz SA, ikut mengkomen pertanyaan untuk Anda.

Sinar Agama: (siji/satu) Tidak bertentangan dengan uraianku. Karena Adam as yg disujudi malaikat itu adalah Insan Kamil, atau tuhan-spesies manusia itu. Dan nabi Adam as adalah Insan Kamil Pertama. Maka dari Adam as dikatakan Adam, karena beliau adalah Adam pertama, alias insan kamil pertama. Pertentangannya ada kalau yang dimaksud disujudi itu adalah Nabi kita saww. Dan sudah tentu tidak ada dalil dan argumennya yang gamblang. Apalagi kalau mau diterapkan kepada Nur-Muhammad. Karena Nur-Muhammad yang argumentatif itu adalah Muhammad dalam Ilmu Tuhan, bukan wujud eksternal. Buku mau diterbitkan penerbit manapun dan dikarang oleh siapapun, tidak bisa mempengaruhi argumentasinya. Jadi, kalau tidak bisa bertemu makshum, maka akal-gamblang itulah hakimnya.

D-Gooh Teguh: Saya sendiri paham gak paham bib. Ada di Syi’ar terbitan ICC. Setuju sekali ustadz. Karena dalam hal ini banyak ayat dikutipkan maka saya tidak bisa menuliskannya untuk Ustadz kecuali jurnal itu di depan saya. :-)) Note Anda mencerahkan dunia akherat saya. In syaaAllah.

Sinar Agama: (loro/dua) Ketika surga itu sudah bukan materi dan tidak bisa menjadi materi, maka itulah kendalanya makna lahir, karena tidak sesuai dengan akal-gamblang. Maka dari itu harus dimaknai dengan takwilnya, bukan dengan lahiriahnya. Kalau orang-orang yang bukan filsafat, yakni orang-orang Kalam, memang tidak meyakini kenonmaterian surga atau akhirat, maka dari itu mereka mentidakmasalahkan makna lahiriahnya itu. Pertanyaannya, bukankah dengan kiamat dunia jadi hancur? Langit dan bumi termasuk udarapun akan dihancurkan oleh Tuhan? Lalu dimana ada ayat atau riwayat yang menerangkan bahwa langit dan bumi termasuk kuburannya akan dibuat lagi setelah kehancuran dan ketiadaannya itu? Atau di Qur'an dikatakan bahwa nanti di surga kita makan dan minum. Dan diterangkan juga tidak kencing dan e-ok. Nah, kalau makanannya adalah materi, yakni
volume, maka bagaimana mungkin manusia dengan makan di sana tidak kencing dan e-ok, tapi juga tidak membesar?

Atau di Qur'an dikatakan bidadari selalu perawan. Bagaimana mungkin dalam keadaan dikumpuli kok masih perawan? Kalau setelahnya, ok tidak masalah. Yakni keperawanannya nyambung lagi. Tp di Qur'an dikatakan bahwa selalu suci. Berarti dalam keadaan dikumpulipun dia tetap perawan. Dan seambrek lagi dalilnya. Tesis saya yang saya tulis dalam bahasa arab, telah mengkritisi puluhan dalil tentang akhirat-materi ini dengan puluhan dan bahkan lebih dalil yang lebih kuat. Dan lulus dengan nilai 95

D-Gooh Teguh: Btw, saya ketik siji loro karena angka siji dan loro di keyboardku susah munculnya. Maaf.

Sinar Agama: Antum mesti jeli siapa-siapa yang Kalami dalam berfikirnya dan siapa-siapa yang Filsafati. Dan orang-orang Kalam juga pakai akal, tapi pedoman awalnya adalah naql. Oleh karenanya keakalan mereka tidak dalam dan tidak mau mempelajari filsafat sebagaimana ia. Mereka hanya menggunakan filsafat manakala dianggap perlu.

Sinar Agama: Setelah jeli, antum boleh pilih yang mana yang menurut antum lebih kuat. Benar diganjar, dan salah juga diganjar. Yang jelas tidak boleh miring dalam menilai. Karena miring itu tandanya tidak ikhlash secara profesional.

Sinar Agama: (tellu/tiga) Ketika tidak dibuktikan dengan akal-gamblang bahwa kejadian itu adalah dalam kasyaf, maka dalam mimpi tidak ada dosa. Dan dosa ini juga dibantah dengan akal)-mudah tentang kemestian makshumnya nabi-nabi. Dan kalaulah hal itu atau iri itu ada riwayatnya, dan shahih, sekalipun bertentangan dengan shahih lainnya (seperti tentang makshum, di surga tidak ada syariat ....dst), maka bisa dimaknai dengan makn bathinnya. Jadi hadits tersebutlah yang harus ditakwilkan karena makna lahiriahnya bermasalah.

Sinar Agama: (papat/empat) tak ke kelas dulu .....

D-Gooh Teguh: Mantabs ini... Semoga bisa diterbitikan thesisnya (terjemahnya tentu saja:-) dan bisa membacainya. Kalau materi maka masih merasakan luka karena terpeleset di syurga dan sebagainya. Masih terbakar hangus di neraka dan sebagainya. Selama ini saya memahaminya sebagai penyatuan (melting) sempurna antara jasad dan ruh. Tajazadul amal. Oleh karena itu bentuk mengikuti ruh. Dosa-dosa bersifat membakar dan itu artinya penghuni neraka membakar dirinya sendiri. Bukan Tuhan yang menzaliminya. Dan seterusnya. ”Siapa yang menghidupkan kembali tulang belulang? Yang pertama kali menciptakannya”. Tetapi pengetahuan saya masih minim. Oleh karena itu saya tidak bermaksud berdialog atau bertanya
lho ustadz. Saya mencoba mencerna uraian ustadz terlebih dahulu. Suwer, ini hanya pengetahuan saya yang terserak berupa remah-remah di lantai. Bahkan saya pahami Ahlulbait Sesuci-sucinya di dunia ini pun adalah sedemikian rupa pula. Makan minum tetapi tidak kencing ataupun eok. Jika eok khan tidak lagi suci sesuci-sucinya. Pembuangan bisa melalui keringat. Pencipta Tubuh kuasa untuk menciptakan tubuh dalam mekanisme yang
berbeda. Tentang junub maka itu hanya hadast maknawi maka terserah Sang Pembuat Hukum untuk menetapkan pengecualiannya. Dan seterusnya.

Bahkan menurut sejumlah buku dilaporkan Rasulullah saaw tidak terlihat makan dan minum di masa kecilnya. Bukankah demikian pula dengan Ibrahim as? Dengan Musa as yang tidak makan dan minum berhari-hari? Cerita Halimah menyusui Rasulullah saaw adalah salah satu upaya musuh Islam mendiskreditkan Rasulullah saaw menyusu pada ”orang kafir”. Jika Halimah benar ada maka itu hanya menjaga dan bukan menyusuinya. Dan seterusnya. Terima kasih ustadz... semoga studinya makin lancar. Nanti saya bangun pemahaman yang lebih baiknya. Kalau benar in syaa Allah berpahala pula. Kalau sudah maxi masih salah pula, ada harapan pengampunan-Nya dan syafaat ahlulbait as.

Sinar Agama: Aku baru pulang, kepinginnya istirahat, karena besok ada dua seminar dan lusa ada lagi satu, dan tempatnya jauh hinga harus miber nganggo pesawat. Dan saya belum jelas beberapa maksud antum di sini, tapi bisa saya raba dan di atasnya saya akan jawab. Oh iya, kalau saya lagi nulis beruntun, tidak pernah bisa membaca tulisan atau jawaban orang, jadi jawaban antum itu baru ana tahu sekarang, dan ternyata ada di antara tulisan-tulisanku, jadi harap maklum.

(a) Tentang ayat yang menyatakan ”siapa yang akan menghidupkan tulang belulang yang sudah jadi debu?” dan dijawab”Yang pertama kali menciptakannya”. Maka setelah kita berargumen bahwa jangankan tulang, jangan kuburan, bumi dan langitpun serta udarapun akan dikiamatkan Tuhan, yakni akan disirnakan, dan bukan hanya diamburadulkan, maka tulang sudah tidak ada. Lalu mau ambil dari mana? Dan ayat serta riwayatnya mana, yang menerangkan penciptaan kembali bumi dan kuburan serta tulang-tulang itu?

Yang ke dua kita dalam membuktikan adanya Tuhan selalu mengatakan bahwa Alam pasti ada sebabnya, karena dia terbatas. Dan karena terbatas berarti ia memiliki awal dan akhir. Dan karena memiliki awal berarti kalau ia ada setelah awal itu, maka ia diadakan. Dan pengadanya mestilah tidak terbatas, karena kalau terbatas ia juga akan memerlukan pada pengada. Ini dalil pembuktian Tuhan. Akan tetapi kalau hanya berhenti di situ, kan tidak adil? Karena dalil itu kan ada buntutnya. Yakni pernyataan memiliki awal dan akhir. Yakni mengapa akhirnya dilupakan? Nah, kalau akhirnya tidak dilupakan maka secara pasti, setelah akhir, maka alam semesta ini akan menjadi tidak ada sebagaimana di sebelum awal. Ini dalil-akal gamblangnya Yakni bahwa alam semesta akan menjadi tidak ada lagi sebagaimana sebelum awalnya itu.Tentu saja, karena yang tak ada tak mungkin menjadi ada, maka sebelaum awal dan sebelum adanya alam, alam ini ada dalam derajat yang lain. Nah setelah akhir alam, maka ia kembali ke asal dan wathannya itu.

(b) Setelah kita tahu dengan akal-gamblang bahwa alam ini akan menjadi tidak ada setelah melewati garis akhirnya, maka tulang belulang itu juga tidak akan ada mengikuti ketiadaan kuburan, bumi dan alam semesta. Kalau demikian maka ayat di atas harus dimaknai dengan makna lain. Dan ternyata, memang ayatnya tidak menanyakan ke-akan-dibangkitkannya lagi tulang belulang itu. Tapi menanyakan ”Siapa yang mampu”. Artinya ayat itu menanyakan ”Siapa yang mampu menghidupkan kembali tulang belulang yang sudah jadi tanah/pasir ini?”. Allah menjawab ”Yang mampu adalah yang pertama kali menciptakannya”. Artinya, kalau tanpa bahan bekas, bisa mencipta dan menghidupkannya, mengapa setelah adanya bahan bekasnya jadi tidak bisa? Itu maksud dari ayat tulang itu. Jadi yang ditanyakan ”Kekuatan” dan ”Kemampuan”, bukan ”Kejadian yang akan terjadi”. Dan jawabannya juga demikian, yakni ”Yang mampu adalah Tuhan”, bukan ”Tuhan akan membangkitkan tulang belulang”.

(c) Kesucian yang terpuji bukan tidak kencing dan e-ok atau darahnya jadi tidak najis. Yang namanya najis, tetap najis. Natural, tidak bisa dihinakan dan tidak bisa dibanggakan. Natural tidak bisa dinerakai dan tidak bisa pula disurgai. Jadi, suci yang dipuji dan disurgai adalah kesucian akhlak atau yang maknawi dan ruhani, bukan badani. Jadi, nggak masalah kalau di surga itu kencing dan e-ok. Tapi, bagi yang tidak filsafati, karena Qur'an mengatakan tidak kencing dan e-ok, mk hal itu akan menjadi penghalang bagi yang memahami bahwa akhirat itu materi.

(d) Sedang jawaban lewat keringat, itu memang lagunya ilmu Kalam. Karena sudah mentok. Lah... trus apa yang dibanggakan Tuhan dalam Qur'a dengan mangatakan di surga itu tidak kencing dan e-ok, kalau di dalamnya orang pada mandi keringat? Lagi pula kalau filosof dipaksa Qur'ani, maka keringat ini juga harus Qur'ani. Mengapa bisa dikarang-karang pakai keringat. Emangnya Tuhan dan Nabi saww lupa tidak mengatakannya, atau orang-orang terdahulu tidak berfikir kalau bisa pakai keringat? Atau karena memang keringat itu tidak beda dengan kencing dan e-ok?

(e) Yang namanya materi itu memiliki hukum zati dan substansial. Misalnya yang besar tidak bisa masuk ke dalam yang kecil. Bumi tidak masuk ke dalam telur ayam-normal. Jadi yang sudah mustahil dari awal, maka tidak ada hubungannya dengan Kuasa Tuhan. Yakni yang mustahil secara zatnya, spt contoh tadi, atau bertemunya dua kontradiksi, maka secara zatnya sudah tidak bisa wujud. Mustahil artinya mustahil terwujud. Nah, yang demikian ini tidak bisa dilimpahkan ke Tuhan, dengan mangatakan Tuhan Kuasa. Karena tetap saja tidak akan bisa menjadi mungkin. Yakni yang mustahil itu selamanya akan mustahil dan tidak akan pernah berubah jadi mungkin. Nah, ketika demikian, maka bukan Tuhan yang tidak mampu, tapi sesuatu itu yang sendirinya tidak mampu menerima pewujudan. Nah, salah satu ciri materi adalah volume/isi tamhah isi maka sama dengan dua isi. Jadi perut dengan isi/volume tertentu kalau ditambah volume/isi lagi, maka akan menjadi dua volume. Jadi, sistem ini adalah zat dari materi. Dan kalau dirubah maka zatnya berubah. Dan kalau zat materinya, berubah, maka sudah pasti tidak bisa lagi disebut dengan materi (panjang, lebar dan tebal).

Dengan demikian, kalau tetap materi di surga, maka sebanyak apapun volume yang kita makan, maka akan menambah besarnya volume kita. Nah, kalau tidak kencing dan e-ok, maka kita akan membesar. Yang kasihan, kalau ada orang yang masuk setelah sekian tahun disiksa di neraka. Karena dia akan menjadi orang paling kecil dan spt semut di surga. Karena yang lainnya sudah pada segede langit (dalil yang ada guraunya). Jadi, sistem apapun yang akan diterapkan pada materi, tetap tidak akan bisa keluar dari ZAT MATERI yang memiliki isi itu. Olah karenanya kalau dibuang pakai keringat, maka basah kuyup terus manusia di sana, dan juga gerah. Dan kalau ber-ac, maka keringatnya tetap membuatnya kerepotan.

(f) Kalau masalah junub itu, bukan itu yang saya maksud. Maksud saya bidadari itu dikatakan oleh Tuhan bahwa mereka selalu PERAWAN. Nah, perkataan selalu perawan ini mencakup manakala sedang dikumpuli. Kalau demikian, maka ini tanda ke-non materiannya. Karena kalau materi bagaimana mungkin dalam keadaan perawan ketika sedang dikumpuli?

(g) Tentang tidak makannya beberapa nabi dan wali DALAM BEBERAPA WAKTU, hal itu tidak menunjukkan bahwa mereka tidak makan. Maksudnya kekuatan ruh mereka melebihi yang lainnya. Yakni memiliki mu’jizat atau karamat. Mana bisa satu dua kejadian, dimenangkan di atas seumur hidup kejadian? Yakni tidak makan yang hanya beberapa hari terjadi, dibandingkan dan dimenangkan ke atas riwayat yang menyaksikan makan minumnya dalam seluruh hidupnya?

Sinar Agama: A-M-K: Tentu riwayat-riwayat itu adalah shahih adanya. Akan tetapi bukan karena itu kita mengamalkannya. Tapi karena telah difatwai marja’ yang kita taklidi. Begitu ces.

Sinar Agama: Abu-H: Tentang nabi Yunus itu bisa dijawab dengan dua hal secara global.

(1) Bahwa kita sampai saat sekarang, hanya tahu akan hal itu. Yakni bahwa manusia tanpa nafas dan diserang asam lambung ikan, maka pasti mati. Tp hal ini baru penemuan kita sekarang. Mungkin nanti, kita akan menemukan lagi hal-hal yang melebihi hal ini hingga secara laboratoriumpun bisa diterima.

(2) Bisa dengan mu’jizat. Spt apinya nabi Ibrahim as. Arti globalnya mu’jizat dan karamah, adalah bahwa ruh manusia sudah sampai kepada kekuatan yang luar biasa yang disebabkan pengkhudhuran ilmunya dengan aplikasinya itu, sebagaimana saya tulis distatus. Nah, insan kamil, adalah insan yang telah kembali kepada Tuhan sebelum mati. Artinya ruhnya sudah kembali ke tingkat sebab alam ini.

Dengan demikian maka ia akan lebih kuat dari akibatya, yakni alam. Maka dari itu mana mungkin alam materi ini bisa mengusiknya? Memang, ketika seseorang itu sudah sampai ke tingkat nabi dan wali, maka ia akan tetap hidup seperti semua orang, kecuali Allah menyuruhnya menggunakan kekuatan ruhnya itu. Jadi para nabi, rasul dan wali, bisa apa saja di alam ini dengan ijin takwini Tuhan. Tapi karena mereka itu hamba hakiki Tuhan, maka mereka tidak akan pernah melakukan apapun kecuali diperintahkanNya. Nah, mu’jizat dan karamat itu sebenarnya adalah ijin Tuhan untuk melakukannya, bukan
pemberitaan Tuhan, karena mereka sudah diberi dari awal dengan aturan alam ini. Yakni siapa yang olah raga maka ia akan sehat, siapa yang meninggalkan dunia karena taat, maka ia ruhnya akan menjadi kuat. Dan bahkan sihir atau yoga atau tapa, jg(juga) seperti itu. Akan tetapi kekuatan meraka itu hanya selama di dunia ini. Perincian selanjutnya mungkin di tempat lain
.
D-Gooh Teguh: Mantabs... Sangat bermanfaat. Kalau boleh kali lain menuliskan note tentang dasar teologis wilayatul faqih. Jika telah sempat saja. Selamat berseminar. Sukses selalu untuk ustadz... DAN... Suka sekali dengan penjelasan tentang TULANG.

Candiki Repantu: Salam... hadiah yang luar biasa di hari ghadir ini..! Sykron ustadz, jangan lupa singgah di Medan kalau lagi tour...hehehe.

Saiful Bahri: Salam, syukran semua...Enak kalo baca tulisan dari orang-orang pinter, hehe.

Sinar Agama: D-G-T: He..he..he...tentang tulang itu memang hebat sekali, habis dari ayatullah Jawadi Omuli hf, hem..... Dalam pelanglangan pikir saya memang sering mengambil dari orang besar, tapi bukan karena besarnya, melainkan karena dalilnya. Karena yang dimaksudkan orang besarpun demikian. Yakni tidak taklid kecuali dalam fikih. Dan karena maksud orang besar demikian, maka saya kalaulah mengambil dari orang besar, tidak
menyebut nama orang besar itu, supaya antum-antum leluasa mendebatnya manakala dianggap dalilnya belum pas. Jadi, demi menjaga kelancaran kemerdekaan akal, yang sering dijajah sendiri oleh pemiliknya disebabkan hal-hal sosial dan lain-lainnya. Memang hal-hal sosial seperti menghormati alim ulama dan guru itu adalah keharusan, tap) dalam pencarian ilmu, tidak boleh dikotori dengan penghormatan itu. Jadi, karena umumnya orang Indonesia, kalau tidak salah, masih mengkebir) atau bahakan dikebiri, kemerdekaan akalnya dengan hal-hal sosial itu, maka tidak kusebutkan penemu dalilnya. Bacakan shalawat dan ganjaran fatihah untuk beliau hf. Terimakasih sebelumnya dan untuk yang mau, dan yang tidak mau tetap kuucapkan terimakasih juga karena telah berpartisipasi dalam catatan ini.

Sinar Agama: C-K: Ana kalau ke daerah Medan pasti akan ngunjungi yayasan Abu Thalib, karena katanya di sana ada yayasan tersebut.

Sinar Agama: S-B: terimakasih atas dukungannya, tapi kita semua tidak boleh terlena dengan kekaguman, jadi ketelitian harus ditajamkan terus. Tapi bukan cari-cari masalah, sekedar supaya kita bisa menerima dan menolak dengan dalil-gamblang, ghitu. LANJUTAN DISKUSI/KOMENTAR DI
KIRIMAN YANG LAINNYA DARI CATATAN DI ATAS:

HenDy Laisa: Labbaika ya Haidar...

Sinar Agama: Salam dan terimakasih untuk semua jempolnya

Sinar Agama: Hendy: na’am, labbaika ya Haidar al-Karrar.

Gunawan Harianto: Syukron Lakum Ya Ustadzinal Kirom wa jazakumullah khoyran kastiron.

Rahmi Syarif Maricar: Izin share, terimakasih.

Indra Jaya: Izin kopi.

Sinar Agama: G-H: Semoga tulisanku tidak pernah mengganggu antum, dan sebaliknya semoga bermanfaat.

Sinar Agama: R-S-M dan I-J: silahkan saja, tulisanku bebas dipakai kepada kebaikan asal tidak dibisniskan, hem...

Baba Sanglegenda: Bismillaah.... Allahuakbar... bagus sekali tadz....

Gunawan Harianto: Ustadz ku....justru saya amat sangat terganggu jika antum sudah melupakan saya dalam setiap Tag Notes antum...selalu saya baca dan saya ulangi...maklum, segalanya disini kebanyakan kami pelajari secara tak beraturan dikarenakan keterbatasan kemampuan dan waktu
untuk mempelajarinya dgn baik... Afwan, apakah antum bisa jelaskan tentang pengantar logika dasar yang bisa di fahami dengan mudah oleh kami disini ustadz??? Terima kasih sebelum dan sesudahnya duhai Guru...

Sinar Agama: B-S: semoga Tuhan menilanya seperti itu, amin. Akupun dulu memahaminya dengan dalil sekitar tahun ke 20 dari pelajarku tentang Syi’ah, terutama setelah belajar Irfan-teori. Jadi mari kita nikmati bersama apa-apa yang kudapat itu, tapi harus tetap dengan perenungan. Ekstrimnya, terima dan/atau tolaklah dengan dalil-akal-gamblang, jangan taklid kecuali dalam fikih.

Sinar Agama: G-H: Tersanjung membaca komentar antum. Untuk dasar-dasar logika itu, ana akan mempertimbangkannya, tapi tidak janji, karena banyaknya hal-hal yang ingin ditulis dan belum tertulis. Coba saja dimasa mendatang ingatkan lagi.

Bersambung ke artikel berikut:

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 1

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 2

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 3

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 4

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 5

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 7

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 8

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 9

You need to be a member of Sinar Agama to add comments!

Join Sinar Agama

Nabi Dan Ahlul Bait

Asal Keturunan Nabi Adam as

Rido Al’ Wahid: Saya ada pertanyaan nih ustad, afwan.. Karena mumpung pembahasannya tentang ini.. Pertnyaannya adalah, keturunan Nabi Adam ini berasal dari mana? Jika berdasarkan pahaman sunni bahwa manusia adalah dari keturunan Nabi adam yang berasal dari perkawinan anak-anak Adam, namun hal itu jelas bertentangan dengan hukum Tuhan dimana sesama saudara apalagi saudara kandung itu tidak boleh terjadi Dalam buku yang pernah saya baca ’Konsep Tuhan’ karya Yasin T. Al Jibouri, bahwa yang menikah dan menghasilkan keturunan adalah bukan berasal dari perkawinan saudara, lalu dia mengambil pandangan dari beberapa kalangan ulama, yang mengatakan bahwa keturunan…

Read more…

Ied Ghadir

Sinar Agama: A-M-K: biasanya menerima ucapan selamat para pencintanya. Peringatan yang dianjurkan dalam agama dalam ied ini adalah, membersihkan diri, memakai baju bagus dan wewangian, menolong orang menjamu orang, dan ibadah-ibadah lainnya. Ied ini adalah terbesarnya ied, karena dengannya semua isi agama setelah masa Rasul saww menjadi bisa diyakini kebenarannya dan menjadi bermakna. Karena tanp kepemimpinan dan kepengawasan orang makshum, maka agama tidak akan punya pijakan nyata, kecuali khayalan belaka. Memang pengampunan bagi yang tidak tahu tetap berlaku, tapi secara hakikat dan filosofi, maka agama minus makshum, sama dengan khayalan.

Abdul Malik Karim: Biasanya…

Read more…

Israa Mi'raaj

27. Akan tetapi, kita bisa mengambil pelajaran dari terjadinya Isra’ Mi’rajnya Nabi saww dimana beliau saww juga memasuki surga dan bisa keluar, dan dimana surga itu tidak bisa dikatakan Surga-Turun karena beliau saww memasukinya disebabkan ikhtiar beliau saww yang begitu hebat hingga dapat memasukinya sebelum hari kiamat, maka rahasia bisa keluar dan tidak bisanya itu, bukan karena turun dan naiknya ruh, yakni turun karena peniupan pertamanya dan naik karena penyempurnaan dengan ilmu dan amalnya, akan tetapi karena perbedaan yang ada pada yang memasukinya.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa surga-neraka dalam pandangan Filsafat dan Irfan, adalah Non Materi Barzakhi. Dengan demikian, maka…

Read more…

Bismillahirrahmanirrahim, ...

Peristiwa Nabi Adam as dalam Pandangan Filsafat

Haerul Fikri Bertanya:
Salam, ustad.. Sudah menjadi ketetapan Tuhan untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Dan, sepengetahuan saya, nabi Adam as adalah golongan hamba yang mukhlas (makshum) yang tak pernah melanggar syari’at dan tak tersentuh sedikittpun oleh iblis. Nah, bukankah pelanggaran nabi Adam as atas perintah untuk tidak menyentuh buah “Khuldi” telah menyalahi syari’at, dan juga dalam kalamullah dituliskan pelanggaran itu atas bisikan iblis. Ini berarti telah membatalkan ke-mukhlas-annya. Mengenai ketetapan Tuhan, apakah ketetapan-Nya untuk menjadikan nabi Adam as sebagai khalifah di bumi ini atas pengetahuan-Nya bahwa nabi Adam…

Read more…

Wasiat Sinar Agama

Beranda

Mengenal Syiah 12 Imam