Nabi Dan Ahlul Bait

Israa Mi'raaj

27. Akan tetapi, kita bisa mengambil pelajaran dari terjadinya Isra’ Mi’rajnya Nabi saww dimana beliau saww juga memasuki surga dan bisa keluar, dan dimana surga itu tidak bisa dikatakan Surga-Turun karena beliau saww memasukinya disebabkan ikhtiar beliau saww yang begitu hebat hingga dapat memasukinya sebelum hari kiamat, maka rahasia bisa keluar dan tidak bisanya itu, bukan karena turun dan naiknya ruh, yakni turun karena peniupan pertamanya dan naik karena penyempurnaan dengan ilmu dan amalnya, akan tetapi karena perbedaan yang ada pada yang memasukinya.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa surga-neraka dalam pandangan Filsafat dan Irfan, adalah Non Materi Barzakhi. Dengan demikian, maka badaniah manusia ini, sudah tentu tidak akan bisa memasukinya karena badaniah yang Materi ini berada dibawah Non Materi Barzakhi. Jadi, yang akan memasuki surga-neraka itu nantinya, adalah Ruh manusia saja, bukan badaniahnya. Oleh karena itulah, maka ruh yang dapat memasukinya, tapi ianya masih menyatu dengan materi, baik secara kuat, seperti orang hidup di bumi ini, seperti nabi Adam as atau nabi Muhammad saww, atau baik kebersatuannya dengan materi itu secara tidak terlalu kuat, seperti orang yang mati sebelum kiamat (Karena kiamat adalah hancur dan tiadanya alam materi, bukan hancurnya permukaan bumi saja, sebagaimana akan dijelaskan di Pokok-pokok dan Ringkasan Ajaran Syi’ah. 

Oleh karenanya orang yang mati sebelum kiamat ruhnya masih mengatur putaran-putaran atom tulangnya dimana itulah keberhubungannya dengan materi dan dimana karena itulah kita disunnahkan mengucap salam langsung kepada mereka ketika mendatangi kuburan mereka, yakni mengucap “assalamu’alaikum ya ahlalqubuur” yakni “keselamatan atas kalian wahai orang-orang kubur”, dan bukan “assalamu’aihim” yakni “keselamatan atas mereka”,
dimana hal itu karena mereka memang berhadapan dengan kita dan mendengar kita, maka siapapun yang memasuki surga dikala itu, maka ia tidak akan dapat menikmatinya sebagaimana niscayanya, dan juga, bagi yang hubungannya masih kuat dan aktif dengan materinya, yakni yang masih hidup, maka tidak juga bisa abadi di dalamnya. Jadi, mereka bukan hanya bisa keluar dari surga, tapi justru tidak bisa selamanya di dalamnya. Hal itu, karen ruh yang memasukinya masih terikat dengan badan aktifnya dimana badan hidupnya ini menuntut kepengaturannya, seperti makan, minum, berjalan ...dan seterusnya. 

Penutup dan Anjuran

(1): Ilmu ini tidak wajib diketahui dan dipercaya. Tapi terhadap kemakshuman semua nabi merupakan keharusan bagi muslimin karena tanpanya, maka
tak seorang nabipun yang dapat diparcaya sepenuhnya hingga ajarannya juga tidak bisa dipercaya secara penuh bahwa ianya dari Tuhan. Mungkin anda berkata “Bukankah kalau nabi-nabi melakukan kesalahan pasti akan diingatkan oleh Tuhan”. Jawabnya adalah dingatkan dan sebagainya itu adalah dari berita nabi-nabi tersebut. Nah, tahu dari mana bahwa nabi itu telah mengabarkan semua ingatan Tuhan terhadap dirinya itu? Yakni tahu dari mana dalam kesalahannya itu tidak terjadi kesalahan lagi? Misalanya nabi salah dalam hukum atau akhlak, baik dalam prakteknya atau pemahamannya, lalu tahu dari mana dalam pembenaran Tuhan itu tidak terjadi lagi kesalahan hukum dan akhlak tersebut. Atau nabi salah dalam ingatan atau dalam pengucapan, lalu tahu dari mana bahwa dalam pembenaran Tuhan itu tidak terjadi lagi kesalahan ingatan dan pengucapan? Kalau anda berkata ”Bukanlah hal itu ada di Qur'an dan Qur'an itu tidak bisa disaingi, jadi yang tidak ada ya...pasti tidak ada”. Jawabnya adalah bahwa memang benar bahwa Qur'an itu dari Tuhan dan tidak ada yang bisa menyaingi kemu’jizatan sastranya sekalipun satu ayat dari padanya, akan tetapi dari mana kita tahu bahwa sebagian Qur'an atau ayatnya tidak disampaikan, terkhusus yang mengingati kesalahan nabi? Dari mana kita tahu bahwa Qur'an itu sudah lengkap, termasuk ayat-ayat pengingat dan penegur nabi itu?

Dengan demikian maka selain di ayat-ayat yang sudah jelas tentang ketinggian akhlak dan keuswatun hasanaan(keuswatunhasanahan) nabi serta kemakshuman para nabi itu, maka dengan akal yang sehat dan dalil yang gamblang dapat dibuktikan bahwa semua nabi itu harus makshum. Karena kalau tidak makshum, maka kebenaran dan kelengkapan agamanya, sama sekali tidak akan bisa diyakini bahwasan ianya dari Tuhan. Sedang yang sepintas nampak dalam ayat dan riwayat tentang kesalahan sebagian nabi, maka semua itu tidak seperti lahiriahnya dan memiliki penjelasan hingga tidak kontradiksi dengan kemestimakshuman para nabi. Sudah tentu masih banyak lagi dalil-dalil lainnya tentang kemakshuman para nabi ini.

(27) Penutup dan Anjuran (2): Bagi yang tidak mendalami ilmu agama dan filsafat secara akademis, maka sangat dianjurkan uantuk jangan terlalu memilkir hal hal-hal yang tidak terlalu prinsip dan tidak terlalu mempengaruhi kehidupan secara esensial, seperti masalah surga nabi Adam as ini. Oleh karena itulah kalau ada pertanyaan-pertanyaan yang berat, maka tidak usah banyak dipikir, dan kalau dipikirpun, maka jangan sampai mengurangi konsentrasinya kepada akidah dan fikih dengan pengejawantahan yang harus selalu semakin hari semakin baik. Jadi, harus tahu betul mana-mana yang sampingan (seperti surga nabi Adam as ini), dan mana-mana yang asas (akidah dan fikih).

(27) Penutup dan Anjuran (3): Seperti yang saya tulis di dinding saya itu, maka ilmu apapun dan setinggi apapun dia, tanpa pengejawantahan yang cermat dan nikmat, maka ianya tidak akan terwaba mati. Karena di alam kematian-badani ini, kita akan menjadi ruhani seutuhnya. Oleh karenanya di sana hanya ada ilmu Hudhuri, bukan Hushuli yang argumentatif ini. Dan karena Hudhuri itu adalah kemelengketan obyek nyata dari ilmunya dalam ruh kita, bukan foto copynya seperti copy-an manisnya gula, atau seperti argumentasi AdaNya, maka kemelengketan itu tidak akan bisa terjadi tanpa dilatih untuk melengketkannya. Dan usaha melengketkannya itulah yang dikatakan amal dan perbuatan atau aplikasi. Sedang kemelengketannya itu dikenal dengan kesubstansian. Jadi amal dan aplikasi adalah proses untuk menjadikan ilmu hushuli kita menjadi Hudhuri. Yakni proses perubahan atau pergerakan ruh dalam ilmunya dari Hushuli menjadi Khuduri, yakni dari Aksiden menjadi Substansi. Jadi barang siapa yang hanya memanisi ilmu dan mengasyikinya, maka dia tidak jauh beda dari yang anti ilmu atau orang bodoh yang tidak tahu.

(28) Penutup dan Anjuran (4): Aplikasi itu tidak akan membuahkan apapun kecuali dengan sandaran yang benar. Jadi kalau fikih, maka jalannya ada dua secara umum. Yakni menjadi mujtahid atau taklid buta kepada mujtahid. Taklid buta ini dikarenakan dengan ketidakpahaman terhadap dalil seandainya dalil itu dijelaskan kepadanya. Yakni dalil Qur'an dan haditsnya itu tidak akan dimengerti, karena untuk mengerti keduanya (sekalipun kelihatan mudah) harus belajar secara akademis sekitar 30-40 th. Saya ingat sewaktu guru saya menjelaskan satu ayat tentang kapan ibadah yang terlihat sangatmudah, beliau menjelaskannya sampai satu tahun lamanya. Jadi ibarat air yang dianggap mudah bagi orang awam, ia tidak mudah dan harus belajar sampai ke tingkat doktoral bagi orang yang mendalami tenaga oksigen atau hidrogen yang diantaranya bisa memiliki kekuatan melebihi nuklir. Sedang taklid itu bukan hanya dalam shalat dan puasa dan semacamnya,tapi dalam segala hal yang mengandungi hukum seperti tabligh, berjuang, berekonomik berpolitik, berbudaya, bermusik....dan seterusnya.

(29) Penutup dan Anjuran (5): Aplikasi dalam akidah, adalah dengan fikih itu. Begitu pula pengaplikasian dalam filsafat dan Irfan. Jadi, tanpa berfikih, maka ilmu-ilmu Teologi, Filsafat dan Irfan, akan menjadi nol besar kalau badan kita ini sudah ditinggalkan ruh kita. Dan Pengirfanan atau penyufian atau pengkhusyuk-an yang di luar aplikasi fikih dalam keseharian kita dimana hal ini sudah dianggap oleh sebagian orang sebagai pensucian hati dan penyufian atau pengirfanan atau pemakrifatan, ditambah dengan nyaringnya tangisan dan hitamnya dahi tempat bersujud, maka semua itu, tanpa berfikih yang cermat, yakni tanpa berfikih dengan taklid yang benar, maka juga akan menjadi sia-sia semata. Jadi, kita harus taklid dalam segala hal dengan buta dari sisi dalilnya dan dengan benar dari sisi pengertian dan pengamalannya. Baru setelah kita berfikih dengan cermat itulah maka terjadi
peningkatan terhadap ilmu-ilmu yang kita gali secara mendalam seperti ilmu Kalam, Filsafat, Irfan, Tafsir ...dan seterusnya itu.

(30) Catatan: Tentang kewajiban aplikasi yang dengan taklid dalam segala hal itu adalah untuk orang-orang Syi’ah dan begitu pula untuk saudara-saudara kita Sunni (Syafi’i, Maliki, Hambali dan Hanafi), bukan saudara-saudara yang lain seperti yang anti taklid seperti wahhabi dan Muhammadiah di Indonesia. Jadi, bagi mereka aplikasi fikihnya adalah sesuai dengan keyakinan mereka sendiri-sendiri, yakni dengan tidak boleh taklid dan harus berdalil sendiri dengan Qur'an dan hadits walau tidak belajar apapun dan bahkan walau lewat terjemahan. Yang jelas, bagi setiap muslim yang belum benar secara jalan, pahaman dan cara penerapannya, dan bahkan bagi kafirin sekalipun, dimana kebenaran itu belum sampai kepada mereka dan/atau sudah sampai tapi belum dipahami dengan benar, maka bagi mereka masih terbuka pintu surga dengan pengaplikasian masing-masing yang diyakininya benar itu. Akan tetapi, akan sangat tidak akli/aqli) dan Qur'ani, manakala ada pemaksaan di antara yang berbeda itu. Karena ketidakpemaksaan Islam dalam Qur'an, termasuk ayat-ayat yang Muhkamat, yakni jelas dan tidak meragukan. Jadi, sekalipun dari satu sisi, yang salah itu dimaafkan, tapi kalau memaksakan kepada yang lainnya dan tidak memberikan kebebasan, maka jangan dalam keadaan salah itu, bahkan kalaulah dalam keadaan benar sekalipun, tidak akan dimaafkan Allah. Karena dia telah merusak agama atas nama agama. Dan kebenaran dalam satu sisi atau tingkatan, tidak berarti mesti benar di tingkat atau sisi yang lainnya seperti tentang kebebasan ini. 

Dan tentu saja ketidakpemaksaan dalam agama adalah ketidakpenggunaan, ketidakpenindasan dan semacamnya. Bagaimana mungkin bisa dikatakan tidak dipaksa, kalau karena ketidakpemilihan mereka terhadap ajaran yang dianggap benar itu, lalu ditindas dan diganggu? Apalagi sampai-sampai membuat orang lain bertaqiah terhadapnya? Lalu anehnya, mengapa yang bertaqiah yang dianggap munafik, tapi yang menyebabkan taqiah tidak dikatakan penjahat dan penindas? Jadi bagi yang Sunni yang menurut Syi’ah salah itu, tetap akan dibukakan pintu Karena kesalahannya disebabkan ketidaksampaian kebenaran Syi’ah kepadanya dan/atau kebelumterpahaminya dengan benar tentang Syi’ah yang sampai kepadanya itu. Tentu sajaasal tidak mengganggu dan memaksa serta menindas orang atau golongan lain (seperti Syi’ah) sebagaimana maklum. Dan bagi yang Syi’ah, tetap sangat terbuka pintu neraka yang sangat besar. Karena ilmu Syi’ahnya bisa saja salah hingga kalau sengaja dalam kesalahannya itu (seperti tidak taklid dalam fikih dsb) atau semi sengaja seperti sok tahu agama padahal tidak pernah belajar agama secara akademis yang dalam, maka tidak akan dimaafkan dan akan dimasukkan ke dalam neraka. Karena ia telah menentang dalil gamblang akal, yaitu profesionalisme. Dan kalaulah benar dalam beberapa halpun, tapi kalau dipaksakan kepada orang lain (seperti dengan ejekan, gangguan dsb), dan tidak mau memberikan kebebasan kepada orang atau golongan lain, atau dengan kata yang lebih jelas, tidak mau melakukan persatuan Islam yang diwajibkan oleh para marja’ dan Wilayatulfakih, maka meraka tidak akan dimaafkan dan akan dimasukkan ke dalam neraka. Wassalam. Sudah. Semoga bermanfaat bagi saya dan segenap pembaca.

Haerul Fikri: Terima kasih ustad.. syukur Alhamdulillah atas perhatiannya.. saran dan masukannya
sangat mengena dgn kehidupanku.. in syaaAllah, dengan ikhtiar keras dapat diejawantahkan dlm
rutinitas sehari-hari.. mohon do’anya..

Al Aulia bertanya:
Apa yang dimaksud dengan ruh tambang dan nabati ustadz..

Sinar Agama Jawab:
Ruh itu non materi, jadi tidak memiliki unsur. Tapi dia memiliki 4 kekuatan atau daya atau kerja. Demensi-dimensi kerjanya itulah yang kita katakan sebagai ruh-fulan dan ruh-fulan. Ini yang pertama.

Yang ke dua, ruh-tambang itu adalah yang mengatur tubuh dari sisi kebendawiahannya, seperti putaran-putaran atom badan. Dalam kajian yang lebih rinci telah dibuktikan bahwa putaranputaran atom badan itu adalah kerja rapi yang berulang milyaran kali. Dan kerja seperti ini, kalau tanpa kesengajaan, maka tidak mungkin terjadi. Yakni kalau karena kebetulan maka tidak mungkin akan terwujud. Karena kebetulan, tidak akan terulang sekalipun dua kali, apalagi milyaran kali. Kalau kita lempar 3 kelereng yang beda warna dan posisi masing-masing warnanya ditandai, dan kita lempar lagi seribu kali, maka tidak akan didaptkan posisi warna kelereng yang sama dengan posisi lemparan pertama. Itulah yang namanya kebetulan, atau kalaulah tidak dikatakan kebetulan (karena kebetulan itu tidak ada pada hakikatnya, dan semua itu terjadi sesuai sebabnya masing-masing dan dikatakan kebetulan karena kita tidak tahu sebabnya), maka lemparan yang tidak disengajakan pada dua posisi yang sama. 

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa kalau ada dua gerakan sama, apalagi jutaan kali, maka pasti ada kesengajaan. Dan kalau ada kesengajaan, maka pasti ada ilmu dan pengetahuan pada yang disengajanya itu. Jadi, dalam gerak sengaja, ada ilmu. Sementara ilmu adalah hadirnya sesuatu pada sesuatu, yakni hadirnya yang diketahui pada yang mengetahui. Sementara benda, sekalipun kecil seperti atom, tidak memiliki kehadiran dalam
dirinya sendiri, lalu bagaimana dapat menghadirkan selain dirinya pada dirinya? Atom bagian atasnya saja tidak hadir pada bagian bawahnya, lalu bagaimana bisa menghadirkan yang lainnya dalam dirinya hingga diketahuinya?

Dengan demikian maka pada putaran atom-atom apapun , termasuk tubuh manusia ,pasti ada unsur non materi yang menggerakkannya secara teratur Batu-batu, tanah, air, tumbuhgan, hewan dan manusia, semua memiliki unsur non materi yang menggerakkan atom-atomnya itu secara teratur dan berulang. Mengapa harus ada non materi? Karena non materi itu tidak diikat dan tidak dikungkung dengan matter, bendawiah, volume/isi dan waktu. Oleh karenya bisa memiliki ilmu alias kehadiran yang diketahui itu, dimana karenanya itulah ia akan mengakibatkan kepemilikan terhadap kesengajaan
itu. Akhirnya putaran atom-atom itu disengaja olehnya. Non materi inilah yang dikatakan sebagai Ruh. Akan tetapi karena Ruh itu satu dan non materi dimana membuatnya tidak bisa dibagi-bagi, sementara dilain pihak memiliki efek dan akibat yang tidak satu, seperti putaran atom-atom, pertumbuhan, gerak yang ikhtiari dan semacamnya, maka ruh manusia yang satu itu, memilki beberapa kerja-kerja sesuai dengan yang nampak kepada kita tersebut. Jadi, Ruh-tambang adalah kerja ruh terhadap bendawiyah badani atau bendawi, baik badan manusia atau selainnya, seperti batu, tanah, pohon, binatang dan sebagainya.

Ke tiga, sedang Ruh-Nabati adalah kepengaturan ruh terhadap pertumbuhan badaniah atau bendawiah sesuatu, apakah ia manusia, atau pepohonan dan binatang. Dan ruh yang ada di bebatuan, tanah dan semacamnya, tidak memiliki kemampuan penumbuhan. Oleh karenanya ruh mereka adalah paling lemahnya ruh. Nabat, yakni tumbuhan. Jadi ruh-nabati adalah dayanya dalam mengatur pertumbuhan badan manusia atau tumbuhan yang lainnya seperti pepohonan dan binatang. Misalnya dari kecil ke besar, kuku jadi panjang, rambut jadi panjang, atau pohonnya berdaun, daunnya jadi besar, berbuah dan buahnya menjadi besar.... dan seterusnya. Sedang Ruh-Hewan adalah yang mengerjakan atau yang mengatur semua gerak ikhtiarnya, baik gerak ikhtiar manusia atau binatang-binatang. Begitu pula termasuk dalam kepengaturan atau aktifitas ruh-hewani ini, yaitu tentang rasa dan perasaan. Misalnya, rasa sakit, lapar, haus, kenyang dan sebagainya itu, dikerjakan oleh ruh-hewani ini. Begitu pula tentang perasaan marah, cinta ...da seterusnya. Semua yang dimiliki manusia di tingkatan ruh-hewani ini, juga dimiliki oleh semua binatang. Jadi, rasa cinta pada anak dan semacamnya itu, adalah tingkatan hewani. Tentu saja kalau cinta itu tidak diaplikasikan dalam bentuk aktifitas yang dituntun oleh hukum-hukum akal dan agama.

Ke empat, sedang dalam memahami masalah universal (seperti semua api itu panas) dan perenungan dan penerapan universal kepada individunya, adalah kerja ruh yang kita katakan ruh-akal atau akli/aqli. Ruh-akal ini hanya dimiliki manusia. Ke lima, dengan penjelasan di atas, dapat dipahami bahwa esensi dan definisi Ruh adalah keberadaan non materi secara zatnya akan tetapi materialis dalam aktifitasnya. Beda dengan malaikat ata Barzakh atau makhluk Akal (bukan akal manusia). Karena mereka adalah keberadaan non materi secara zat dan aktifitasnya.

Sekian dan wassalam, semoga bermanfaat buat saya dan semua pembaca yang budiman,
IED GHADIR KHUM ATAU WILAYAH ATAU KEKUASAAN PARA MAKSHUM as, MUBARAK!!!!

Cut Yuli: Ied Mubarak!! Syukron.

Husein Jon: Izin share..syukron.

D-Gooh Teguh: Saya pernah membaca tentang hal Adam as dalam berbagai versi. Beberapa versi terasa benar semuanya. Mungkinkah ini seperti memandang satu hal dari sudut yang berbeda saja. Relativitas Vertikal?

Sinar Agama: Salam dan terimakasih untuk semua jempol dan komentarnya.

Sinar Agama: D-G-T: hem....mungkin saja, mungkin saja. Apapun yang diterangkan selain ini, kalau memang memiliki dalil-akal-gamblang/pasti, maka mungkin ia adalah sudut lain. Coba saja ingat-ingat tentang dalil-dalilnya. Dan semua kebenaran itu baru bisa dipercaya kalau sudah bisa diseret ke dalil-mudah itu. Andai antum urai, mungkin bisa dijadikan study banding.

Sinar Agama: Sekali lagi untuk semua teman, jadikan tulisanku apa saja asal baik dan bukan untuk bisnis. Karena kalau bisnis harus ada persentasenya he he he he he....

Bersambung ke artikel berikut:

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 1

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 2

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 3

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 4

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 6

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 7

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 8

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 9

You need to be a member of Sinar Agama to add comments!

Join Sinar Agama

Nabi Dan Ahlul Bait

Asal Keturunan Nabi Adam as

Rido Al’ Wahid: Saya ada pertanyaan nih ustad, afwan.. Karena mumpung pembahasannya tentang ini.. Pertnyaannya adalah, keturunan Nabi Adam ini berasal dari mana? Jika berdasarkan pahaman sunni bahwa manusia adalah dari keturunan Nabi adam yang berasal dari perkawinan anak-anak Adam, namun hal itu jelas bertentangan dengan hukum Tuhan dimana sesama saudara apalagi saudara kandung itu tidak boleh terjadi Dalam buku yang pernah saya baca ’Konsep Tuhan’ karya Yasin T. Al Jibouri, bahwa yang menikah dan menghasilkan keturunan adalah bukan berasal dari perkawinan saudara, lalu dia mengambil pandangan dari beberapa kalangan ulama, yang mengatakan bahwa keturunan…

Read more…

Ied Ghadir

Sinar Agama: A-M-K: biasanya menerima ucapan selamat para pencintanya. Peringatan yang dianjurkan dalam agama dalam ied ini adalah, membersihkan diri, memakai baju bagus dan wewangian, menolong orang menjamu orang, dan ibadah-ibadah lainnya. Ied ini adalah terbesarnya ied, karena dengannya semua isi agama setelah masa Rasul saww menjadi bisa diyakini kebenarannya dan menjadi bermakna. Karena tanp kepemimpinan dan kepengawasan orang makshum, maka agama tidak akan punya pijakan nyata, kecuali khayalan belaka. Memang pengampunan bagi yang tidak tahu tetap berlaku, tapi secara hakikat dan filosofi, maka agama minus makshum, sama dengan khayalan.

Abdul Malik Karim: Biasanya…

Read more…

Israa Mi'raaj

27. Akan tetapi, kita bisa mengambil pelajaran dari terjadinya Isra’ Mi’rajnya Nabi saww dimana beliau saww juga memasuki surga dan bisa keluar, dan dimana surga itu tidak bisa dikatakan Surga-Turun karena beliau saww memasukinya disebabkan ikhtiar beliau saww yang begitu hebat hingga dapat memasukinya sebelum hari kiamat, maka rahasia bisa keluar dan tidak bisanya itu, bukan karena turun dan naiknya ruh, yakni turun karena peniupan pertamanya dan naik karena penyempurnaan dengan ilmu dan amalnya, akan tetapi karena perbedaan yang ada pada yang memasukinya.

Sebagaimana telah dijelaskan di atas, bahwa surga-neraka dalam pandangan Filsafat dan Irfan, adalah Non Materi Barzakhi. Dengan demikian, maka…

Read more…

Bismillahirrahmanirrahim, ...

Peristiwa Nabi Adam as dalam Pandangan Filsafat

Haerul Fikri Bertanya:
Salam, ustad.. Sudah menjadi ketetapan Tuhan untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di bumi. Dan, sepengetahuan saya, nabi Adam as adalah golongan hamba yang mukhlas (makshum) yang tak pernah melanggar syari’at dan tak tersentuh sedikittpun oleh iblis. Nah, bukankah pelanggaran nabi Adam as atas perintah untuk tidak menyentuh buah “Khuldi” telah menyalahi syari’at, dan juga dalam kalamullah dituliskan pelanggaran itu atas bisikan iblis. Ini berarti telah membatalkan ke-mukhlas-annya. Mengenai ketetapan Tuhan, apakah ketetapan-Nya untuk menjadikan nabi Adam as sebagai khalifah di bumi ini atas pengetahuan-Nya bahwa nabi Adam…

Read more…

Wasiat Sinar Agama

Beranda

Mengenal Syiah 12 Imam