Nabi Dan Ahlul Bait

Bismillahirrohmanirrohim

Sinar Agama:

Untuk menjadi nabi, rasul dan imam, tidak bisa sembarangan dan tidak pula diundi oleh Tuhan. Tapi berdasar pada potensi yang ada pada manusia itu. Karena itu saya pernah karena di suatu tulisan fb ini yang entah dimana, bahwa ditunjuknya nabi Muhammad saww sebagai nabi, bukan karena di tanah arab paling jahiliyyahnya tempat. Karena jelas di Indoesia, secara sepintas sangat mungkin lebih jahiliyyah lagi. Karena tidak ada sisa-sisa agama nabi Ibrahim as, dan kalau dilihat keberadaan bangsa yang kita lihat sekarang ini, maka Indonesia tidak biasa menyanjung kejujuran dan bahkan dianggap bodoh.

Misalnya kita menjual barang dan menceriterakan keburukan barang-barangnya itu, atau duduk di DPR lalu tidak terima amplop apapun selain bayaran bulanannya ...dan seterusnya... maka biasanya dianggap bodoh, atau setidaknya tidak ada yang menolaknya atau tidak ada yang menceritakan keburukan barangnya itu. Dilihat dari sisi ini, maka Indonesia tentu lebih jahiliyyah. Karena sudah menyembah batu, ditambah lagi dengan tidak menyanjung kejujuran (tentu dengan pantauan bangsa kita sekarang ini).

Beda dengan bangsa Arab waktu itu, di samping mereka masih punya sisa-sisa tauhidnya nabi Ibrahim as, shalat dan hajinya nabi Ibrahim as serta puasa dan semacamnya, mereka sangat menyanjung kejujuran. Karena itulah Nabi saww dijulukinya dengan al-Amin. Bangsa Arab sekarang juga seperti itu, karena itu di sana ada kebangkitan, karena harga diri masih sangat disanjung tinggi. Yakni harga diri dalam arti positif. Beda dengan bangsa kita.

Karena itu, maka dipilihnya seorang nabi dari bangsa Arab, bukan karena keterjahiliahannya, karena banyak bangsa lain yang lebih parah dari mereka. Akan tetapi karena orang yang layak jadi nabilah yang ada di jazirah Arab pada waktu itu, yaitu junjungan besar kita kanjeng nabi kita Muhammad saww.

Sampai di sini, saya hanya mengulang dan berusaha memantapkan posisi dan dalil gamblangnya terhadap bahwa seorang nabi itu mesti lewat dasar potensi dan kelayakan, bukan undian atau ketentuan paksa Tuhan. Karena itu juga, maka tidak perlu pakai bedah-bedah dan dimana kalau pakai bedah, maka tidak akan diikuti umatnya karena tidak mungkin yang tidak dicuci menyontohi yang dicuci dadanya. Ini dasar pertama tentang usaha menjadi nabi dimana sebenarnya cita-cita itu tidak ada pada pelakunya. Karena yang ada tidak lain hanyalah iman dan pengabdian pada Tuhannya baik secara langsung atau melalui sosial manusia.

Usaha-usaha menjadi orang beriman dan taqwa alias taat ini, juga diistilahkan menjadi insan kamil. Jadi, usaha para nabi dan imam itu, bukan untuk menjadi nabi dan imam atau rasul, tapi menjadi hamba sempurna atau budak sempurna.

Setelah mereka itu mencapai budak sempurna itulah, baru nanti diadakan pemilihan oleh Tuhan, baik dari sisi waktu atau orangnya. Artinya apakah jaman eks (x) itu harus ada nabi dan apakah harus diambil dari budak sempurna yang itu atau yang ini, semuanya itu tergantung padaNya sesuai dengan Ilmu dan HikmahNya. Dari penjelasan ini, dapat dipahami bahwa potensi kenabian atau menjadi nabi, rasul dan imam itu adalah ikhtiari, tapi penentuannya adalah Ilahi atau keputusan dan ketentuanNya.

Usaha-usaha mereka itu, tentu sudah diketahui olehNya sebelum penciptaan sekalipun. Seperti ilmuNya tentang siapa-siapa dari kita yang menjadi muslim dan kafir, Sunni dan Syi’ah ... dan seterusnya. Semua itu diketahuiNya. Inilah makna tertulisnya semua kejadian di Lauhul Mahfuuzh itu, sekalipun daun yang jatuh di tengah malam. Jadi, ada kejadian-kejadian yang memang ditentukan Allah, seperti api panas, matahari bersinar dan memberikan energi panas ke bumi ...dan seterusnya. Tapi ada pula kejadian-kejadian yang diketahuiNya itu tidak berdasar pada ketentuanNya, tapi berdasar pada ikhtiar manusia, seperti menjadi muslim dan tidaknya, taat dan tidaknya dan seterusnya itu.

Nah, dari Ilmu-ilmuNya tentang manusia-manusia itu, dimana di dalamnya terkadang terdapat manusia yang akan mencapai budak sempurna, dan dari Ilmu-ilmuNya tentang kondisi sosial manusia pada jamannya manusia-manusia yang mencapai budak sempurna itu, maka disitulah Tuhan memutuskan (sebelum penciptaan) untuk memilih orang-orang yang berhasil itu untuk menjadi nabiNya dan menentukan kadar ajaran yang akan diajarkan padanya dan umatnya. Karena itualah sering Allah memberitakan tentang nabi besar kita Muhammad saww pada nabi Adam as sekalipun hingga beliau pernah bertawassul padanya (lihat di banyak tafsir Sunni tentang dilemparkannya kalimat-kalimat padanya dari Allah) dan begitu pula kepada nabi-nabi yang lain. Padahal belum ada ikhtiar dan keputusanNya belum de fakto. Tapi karena IlmuNya itu pasti, maka Ia memastikan penentuaNya itu. Jadi Ia tahu pasti siapa-siapa yang berhasil dan siapa-siapa yang dari mereka itu yang akan dipilih menjadi nabi karena kesesuaiannya dengan jamannya artinya bertepatan pada jaman yang memerlukan nabi.

Nah, salah satu kunci banyak masalah, adalah IlmuNya tersebut tentang siapa-siapa yang akan berhasil tersebut dan yang akan diangkat jadi rasul atau imam tersebut, salah satunya, adalah ilmunya tentang masa depan seorang bocah yang diketahui pasti olehNya akan menjadi insan budak sempurna dan di jaman yang memerlukan nabi atau imam. Dimana kuncinya? Kuncinya di masalah-masalah dimana Allah, karena kondisi tertentu, telah mengangkat seorang bayi misalnya, untuk menjadi nabi, seperti nabi Isa as.

Dalam peristiwa nabi Isa as ini ada beberapa hal yang harus diperhatikan:

(1).   Ibunya as sedang dicurigai orang bahwa anaknya itu hasil dari hubungan yang haram.

(2).   Tidak ada saksi tentang datangnya malaikat dan tentang kesuciannya.

(3).   Tidak bisa ditangkisnya tuduhan-tuduhan mereka itu dengan cara apapun kecuali mukjizat.

(4).   Karena itulah, maka Tuhan memberikan mukjizat kepada nabi Isa as bukan atas dasar ikhtiar dan usahanya. Tapi atas putusan Tuhan yang disebabkan kondisi di atas itu. Yakni, dari satu sisi Allah tahu bahwa nabi Isa as akan menjadi anak yang taat dengan ikhtiarnya sendiri hingga mencapai maqam budak hakiki itu. Ilmu Tuhan ini, ditambah dengan 4     poin di atas itu, maka terjadilah apa yang terjadi seperti yang dikisahkan dalam Qur'an itu. Yakni memberinya mukjizat berupa bisa bicara walau baru berumur beberapa hari, dan mengangkatnya sekaligus seorang nabi. Tentu saja de fakto pemerintahan batin kenabiannya belum berlaku. Karena itu orang-orang belum wajib taat padanya sampai beliau as mengerti sebagaimana manusia yang lain. Akan tetapi, pangkat itu sudah diberikan pada waktu itu, demi membersihkan ibundanya dari tuduhan dan demi memudahkan orang menerimanya di kemudain hari dan demi hal-hal lain dimana hanya Tuhan yang tahu.

Ketidak-de-faktoan pemerintahan batin nabi Isa as pada waktu itu, disebabkan ketidakperluan adanya. Karena pada jaman itu masih ada nabi Zakariyya as.

Masalah imamah ini tidak beda dengan masalah kenabian di atas. Pertama harus dengan ikhtiar untuk mencapai insan kamil atau budak hakiki Tuhan itu. Ke dua, diketahui olehNya seblum penciptaan alam sekalipun. Ke tiga, diperlukannya secara darurat pada jamannya.

Bersambung ke artikel berikut :

Kenabian Isa as Yang Bukan Diatasdasarkan Ikhtiar Tapi Pengetahuan Tuhan Akan Keihtiaran Isa as Bagian 2

Kenabian Isa as Yang Bukan Diatasdasarkan Ikhtiar Tapi Pengetahuan Tuhan Akan Keihtiaran Isa as Bagian 3

Kenabian Isa as Yang Bukan Diatasdasarkan Ikhtiar Tapi Pengetahuan Tuhan Akan Keihtiaran Isa as Bagian 4

Kenabian Isa as Yang Bukan Diatasdasarkan Ikhtiar Tapi Pengetahuan Tuhan Akan Keihtiaran Isa as Bagian 5

Kenabian Isa as Yang Bukan Diatasdasarkan Ikhtiar Tapi Pengetahuan Tuhan Akan Keihtiaran Isa as Bagian 6

You need to be a member of Sinar Agama to add comments!

Join Sinar Agama

Nabi Dan Ahlul Bait

Penjelasan Kenapa Keluarga Muhammad Ikuti Ajaran Ibrahim as Bukan Isa as

Angga de Lova:

  1. Apakah benar tidak akan ada lagi yang makshum setelah 12 imam tersebut?
  2. Apakah sebelum imam makshum yang 12 ada jabatan/pangkat imam juga? Karena setahu saya yang namanya ummat pasti ada imam-nya.
  3. Apakah keluarga Kanjeng Nabi saww mengikuti ajaran nabi ibrahim? Kenapa tidak mengikuti ajaran nabi Isa as?
  4. Apakah kenabian berakhir karena agama Islam adalah agama paling sempurna? Kalau demikian kenapa agama sebelumnya tidak/kurang sempurna?
  5. Jikalau proses penentuan/pengangkatan nabi didasarkan pada manusia yang telah mencapai…
Read more…

Penjelasan Alam Dicipta Untuk Muhammad Saww (Sebab Tujuan dan Sebab Keberadaan)

Rico Cori:

Afwan, bukankah alam semua diciptakan karena engkau ya Muhammad SAW.

Sinar Agama:

Rico, semoga antum orangnya bukan orang yang terburu-buru yaitu yang meloncat dari bahasan yang belum selesai ke topik yang lain. Nah, untuk urusan keimamahan itu saya sudah selesai menjawabnya yang, kesimpulannya adalah: Bahwa karena yang mencapai maqam imamah dengan ikhtiarnya itu hanya 12 orang, maka hanya mereka yang layak jadi imam, karena imam harus makshum. Dan karena sertelah imam 12 tidak ada lagi orang makshum, maka terpaksa imam ke 12…

Read more…

Bismillahirrohmanirrohim

Sinar Agama:

Untuk menjadi nabi, rasul dan imam, tidak bisa sembarangan dan tidak pula diundi oleh Tuhan. Tapi berdasar pada potensi yang ada pada manusia itu. Karena itu saya pernah karena di suatu tulisan fb ini yang entah dimana, bahwa ditunjuknya nabi Muhammad saww sebagai nabi, bukan karena di tanah arab paling jahiliyyahnya tempat. Karena jelas di Indoesia, secara sepintas sangat mungkin lebih jahiliyyah lagi. Karena tidak ada sisa-sisa agama nabi Ibrahim as, dan kalau dilihat keberadaan bangsa yang kita lihat sekarang ini, maka Indonesia tidak biasa menyanjung kejujuran dan bahkan dianggap…

Read more…

Asal Keturunan Nabi Adam as

Rido Al’ Wahid: Saya ada pertanyaan nih ustad, afwan.. Karena mumpung pembahasannya tentang ini.. Pertnyaannya adalah, keturunan Nabi Adam ini berasal dari mana? Jika berdasarkan pahaman sunni bahwa manusia adalah dari keturunan Nabi adam yang berasal dari perkawinan anak-anak Adam, namun hal itu jelas bertentangan dengan hukum Tuhan dimana sesama saudara apalagi saudara kandung itu tidak boleh terjadi Dalam buku yang pernah saya baca ’Konsep Tuhan’ karya Yasin T. Al Jibouri, bahwa yang menikah dan menghasilkan keturunan adalah bukan berasal dari perkawinan saudara, lalu dia mengambil pandangan dari beberapa kalangan ulama, yang mengatakan bahwa keturunan…

Read more…

Info

Selamat Jalan Guru kami tercinta...

Yaa Ustadz ...
Begitu cepat engkau pergi menghadap ilahi... :,(

Kami rindu semua ilmu-ilmu mu, engkau lah sosok yang kami harapkan menjadi penerus cahaya dari negeri Mullah.. ke negeri ini..

Kini engkau meninggalkan kami semua, tapi ilmu dan tulisan-tulisan mu selalu terukir dimanapun, dan menjadi penerang cahaya bagi siapapun yang ingin meraihnya..

maafkan kami ustadz, yang belum bisa memberikan yang terbaik untuk mu.. yang belum maksimal memperjuangkan syiar mu.. maafkan kamii .... maafkan kamiiiii ...

Semoga engkau berada di tempat terbaik di sisi Allah Swt, Nabi saww dan para Maksumin as Keluarga nabi termulia, disekeliling mu
... menyambutmu dengan cahaya syafaat & kebahagiaaan.. sesungguhnya orang mukmin yang shaleh dan syahid itu adalah hidup setelah kematiannya..
Selamat Jalan Ustdz…

Read more…

Miliki Segera Buku Sinar Agama (1-12 Jilid dan Kamus)

Buku Sinar Agama Sudah di Jilid 7 (dari 13 jilid pertama),Tinggal sedikit lagi, doakan & Pesanlah segera.

Hub. via WhatsApp +6282288226060 Shadra Hasan

Bismillaah:

Video Clip Buku Sinar Agama

Tak ada kesyukuran kecuali pada Allah swt, tak ada rasa ta'zhim dan kesyukuran kecuali pada Nabi saww dan Ahlulbait as, tak ada rasa terimakasih kecuali pada para ulama pewaris anbiyaa' dan Rahbar hf tercinta, tak ada…

Read more…

Video Channel

Wasiat Sinar Agama

Beranda

Mengenal Syiah 12 Imam