Manusia

Ruh Manusia dan Unsur-unsurnya

10. Pewujudan dari Alam-Materi yang memiliki ruh, dan semua materi memiliki ruh, maka dengan dua proses.

(a) Proses materinya, seperti dari mani ke darah, ke daging, ke janin dan bayi.

(b)Peniupan ruhnya ketika badaniahnya sudah siap menerimanya. Tentu saja peniupan di sini bukan seperti meniup balon. Karena peniupan di sini adalah non materi.

11. Nabi Adam as dan siti Hawa as, dicipta Tuhan dari tanah. Berarti mereka as ada di bumi, bukan di surga. Jadi proses pemersiapan peniupan ruhnya itu alias pembentukan badaniahnya, adalah di bumi dengan tanah, bukan di surga yang non materi itu (barzakh tadi). Karena alam-Materi adalah Alam yang memiliki Matter, dan Barzakhi yang tidak memiliki matter atau material walaupun memilki bentuk-bentuk dan sifat-sifatnya (selain matter, bendawiyah atau volume/isi) seperti bentuk ular bagi esensi ular, panas dan bentuk api bagi esensi api ....dan seterusnya. Jadi Barzakh adalah non materi, walau tidak murni seperti Alam-Akal.

12. Ketika peniupan ruh oleh Tuhan melalui malaikatNya, dan ketika setiap esensi di Alam-Materi diatur oleh malaikat tersendiri sebagai tuhan atau pengatur spesiesnya itu, dan ketika manusia dengan akalnya merupakan makhluk materi termulia atau tertinggi kedudukannya, maka sudah tentu malaikat pengaturnya juga akan lebih tinggi dari malaikat-malaikat pengatur esensi yang lainnya. Oleh karena itu dapat dipastikan bahwa ia memiliki maqam di atas surga sekalipun. Oleh kerana itulah Insan Kamil, tidak pernah melirik surga, karena yang mereka idam-idamkan selalu adalah Allah yang milyaran derajat atau bahkan tidak-terbatas-derajatada
di atas surga.

13. Ketika tubuh nabi Adam as dan siti Hawa as sudah siap ditiupi ruh dari Allah melalui malaikat pengurusnya (tuhan-spesiesnya) yang ada di atas surga itu, maka sudah tentu ruh mereka akan melewati surga tersebut.

14. Karena keduanya as, adalah manusia pertama dan sudah tentu tidak memiliki guru dalam Alam-Materi nanti, maka sebelum mereka bangun dari tidur pertamanya itu, yakni ketika sudah ditiupkan ruh ke badan mereka dan mereka sudah mulai hidup dan bernafas, maka Tuhan memperlihatkan surga kepada mereka supaya tahu bahwa yang taqwa akan memasukinya dan memperlihatkan syetan yang diketahui Tuhan akan memusuhinya kelak kalau sudah bangun. Maka terjadilah apa yang terjadi itu.

15. Ketika syetan tidak mau sujud kepada nabi Adam as, maka syetan yang dari Jin itu yang karena hebatnya ibadahnya telah memiliki maqam surga dan malaikat surgawi itu, diusir dari surga yakni dari maqam surga, yakni maqam Barzakhi yang di atas neraka. Tapi syetan tetap memiliki posisi di Barzakh itu sebagai calon penghuninya nanti yang, sebelum kiamat masih disebut maqam atau posisi saja. Yakni belum bisa merasakannya sebelum qiamat tiba.

16. Di lain pihak, nabi Adam as yang masih menempati surga, sudah tentu ada di atas maqam neraka dan di atas maqam syetan.

17. Akan tetapi, karena ruh manusia yang dalam hal ini adalah nabi Adam as adalah wujud non materi dan membentang secara bukan materi dari badaniahnya yang ada di bumi dan surga, maka ruh nabi Adam as tentu saja memiliki posisi neraka juga. Karena neraka ada di antara surga dan Alam-Materi sebagaimana maklum.

18. Dalam buku-buku akhlak dan filsafat serta Irfan, telah dibuktikan bahwa ruh manusia memiliki 4 daya, tambang, nabati, hewani dan akli/aqli). Nah, posisi kenerakaan ruh manusia itu adalah daya-hewaninya, dan surga adalah ruh-aklinya. Oleh karena itu yang mengumbar dayahewaninya adalah orang-orang yang akan memasuki neraka.

Tapi yang mengekangnya sesuai perintah akalnya (bc: akal dan agama, karena akal bisa mengerti banyak hal dengan pasti, dan agama juga akan diterima manakala akal itu ada), maka ia akan menempati makam surga dan nanti setelah kiamat akan menikmatinya. Ruh yang berdaya hewani itulah yang dikatakan Hawa Nafsu atau Nafsu atau Nafsu Hewani atau Nafsu Makan, Minum, Seksual ..dst.

Akan tetapi yang sudah diarahkan oleh akal maka ia akan menjadi Nafsu seperlunya dan Pengejawantahannya karena idaman akalnya, yakni maknawiat dan surga serta cinta Tuhannya. Jadi nafsu yang sudah dikontrol dengan akal alias jinak, tidak layak lagi dikatakan pengumbaranwalau secara lahir tetap merupakan penyaluran. Tapi karena sudah bukan idaman dankerinduan terhadap obyek penyalurannya itu, maka ia hanya merupakan jalan hidup yang
harus dilalui tanpa harus membuatnya singgah dan apalagi menikmatinya. Oleh karenanya bagi orang berakal, penyaluran nafsu hewani itu tidak beda dengan bernafas dimana dari satu sisi merupaan keharusan, dan dari sisi yang lain merupakan ketidak perhatian, ketidak cintaan, ketidaknikmatan, ketidakasyikan, ketidakmampiran, ketidakpeluangan konsentrasi dan fokus pada akidah dan fikih, ketidakmanisan di hadapan manisnya akidan dan fikih......dst.

19. Nah, ketika manusia sempurnapun memiliki Daya-Hewani itu, maka neraka itu tetap bergelora dalam dirinya. Akan tetapi tidak membakar apapun karena ianya sudah dalam taklukan akal dan surganya serta cintanya pada Kekashinya. Dan ingat, Nafsu Hewani ini bukan nafsu bejat saja, tapi apa saja yang berhubungan dengan kematerian manusia secara filosofis atau niscaya, seperti makan, minum, tidur, seks …dst atau bahkan kemerasa-perluan kepada semua itu sekalipun, seperti ingin makan, ingin tidur, …dst.

20. Oleh karena syetan sudah dikeluarkan dari makam atau posisi surga, maka ia tidak bisa lagi mengganggu nabi Adam as dari dalam surga. Karena itulah ia mengganggunya dari Daya- Hewaninya itu supaya ia as memakan buah Khuldi tersebut.

21. Yang perlu sekali diingat bahwa karena surga itu non materi dan apapun dia, sudah pasti tidak memiliki syariat dan aturan karena dia merupakan maqam yang dihasilkan dari usaha dimana sudah pasti tidak mungkin ada usaha lagi di sana. Karena kalau ada usaha lagi nanti disana, maka sesuai dengan aturan keadilan Tuhan, diharuskan ada surga lagi di atas surga karena kalau manusia menaati aturan Tuhan di surga harus diganjarnya, dan begitu pula, harus ada neraka di maqam surga itu karena kalau manusia tidak taat maka harus masuk nerakaNya. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa larangan atau anjuran apapun yang ada di surga bukanlah larangan-fikih atau hukum, akan tetapi merupakan larangan-anjuran atau laranganakhlak alias keutamaan saja (Irsyadi). Oleh karena itulah maka pelanggaran nabi Adam as, bukan merupakan dosa, karena dilakukan di dalam surga, dan dilakukan dalam mimpi pertamnya. Namun demikian, karena mimpi seorang nabi juga wahyu, maka bisa dikatakan sebagai pelanggaran dalam alam pewahyuan (maksudnya melihat dirinya dalam wahyu yang dilihatnya itu sebagai orang yang melanggar anjuranNya, jadi bukan melanggar wahyu) atau pelanggaran dalam alam mimpi.

22. Dan karena buah Khuldi itu adalah buah kelanggengan, maka sangat bisa diartikan makananbumi. Karena makanan bumi ini adalah alat pelanggeng kehidupan badaniah manusia. Jadi, sebenarnya ketika nabi Adam as mengingini buah Khuldi itu, maka ia as sudah merasa lapar. Tapi laparnya itu berupa keinginan kepada buah kelanggenngan tersebut. Jadi, sebenarnya wahyu Tuhan yang mengatakan ”jangan dekati pohon ini...” sangat bisa diartikan ”Kalau kamu masih ingin di surga ini dan tetap mengkasyafinya, maka jangan makan sekalipun perutmu sudah mulai merasakan lapar karena tubuh tanahmu sudah mulai hidup”. Artinya Allah memberi peluang kepada nabi Adam as untuk bisa lebih lama menikmati keindahan surga sebelum bangun dari tidur pertamanya itu. Yakni seakan-akan Tuhan ingin mengatakan bahwa kalau kamu ingin mi melihat surga ini terus, maka kamu tidak boleh bangun dari tidurmu sekalipun kelaparan.

Bersambung ke artikel berikut:

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 1

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 2

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 4

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 5

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 6

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 7

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 8

Peristiwa Yang Terjadi Pada Nabi Adam as Dalam Tinjauan Filsafat Bagian 9

You need to be a member of Sinar Agama to add comments!

Join Sinar Agama

Manusia

Anjuran Pemprioritasan Pencarian Ilmu dan Pengaplikasiannya

D-Gooh Teguh: Dan alangkah lebih baik jika kita mengurus perbaikan perabot sendiri dibanding mengurus rusaknya perabot tetangga. Perabot tetangga bisa terjual atau tidak bukanlah urusan kita. Sang Pembeli yang akan menentukan harganya sendiri.

Sinar Agama: R-R-D dan D-S: sama-sama, u well come.

Sinar Agama: D-G-T: Memang benar lebih baik ngurusi diri sendiri, tapi kalau diperintah Tuhan untuk membantu tetangga, maka membenahi diri sendiri di sini harus ditajallikan dengan menolong tetangga. Jadi, mengurusi orang lain pada hakikatnya adalah mengurusi diri sendiri. Tentu kalau profesional dan karenaNya.…

Read more…

Ruh Manusia dan Unsur-unsurnya

10. Pewujudan dari Alam-Materi yang memiliki ruh, dan semua materi memiliki ruh, maka dengan dua proses.

(a) Proses materinya, seperti dari mani ke darah, ke daging, ke janin dan bayi.

(b)Peniupan ruhnya ketika badaniahnya sudah siap menerimanya. Tentu saja peniupan di sini bukan seperti meniup balon. Karena peniupan di sini adalah non materi.

11. Nabi Adam as dan siti Hawa as, dicipta Tuhan dari tanah. Berarti mereka as ada di bumi, bukan di surga. Jadi proses pemersiapan peniupan ruhnya itu alias pembentukan badaniahnya, adalah di bumi dengan tanah, bukan di surga yang non materi itu (barzakh tadi). Karena alam-Materi adalah Alam yang memiliki Matter, dan Barzakhi yang tidak memiliki matter atau…

Read more…

Wasiat Sinar Agama

Urgensi

Logika Filsafat Dan Irfan

Tiga Alam (Jabarut, Malakut, Nasut)

4. Alam-Akal juga disebut dengan Jabaruut, Surga Muqarrabin, Malaikat-Tinggi atau ’Aliin. Dan Akal-Akhir juga disebut dengan “Kitab Terjaga” atau “al-Lauhu al-Mahfuzh” (baca: Ilmu Tuhan, bukan penentuan terhadap nasib manusia, lihat Pokok-pokok…

Read more…

Serba Serbi