Logika Filsafat dan Irfan

Penjelasan Tidak Adanya Taqdir/Ketetapan/Ketentuan Tuhan Perihal Nasib Manusia

Mujahid As-Sakran:

Ijin share ustadz, afwan.

Anarko Individualis:

As....... Afwan ustadz, bukankah nabi Muhammad saww adalah yang ke dua setelah ALLAH, kemudian dia adalah yang terpilih, gimana maksudnya ustadz........??

Sinar Agama:

Mujahid, ok silahkan.

Sinar Agama: Anarko, ke duanya Rasulullah saww itu karena usaha beliau saww mencapai derajat tinggi tersebut. Dan justru karena usaha beliau saww itulah maka beliau saww layak disanjung, dicintai dan dipilih menjadi seorang rasul. Kalau semua diberiNya, maka apa kelebihan beliausaww hinngga perlu kepada kepengutamaanNya?

Muhammad Shullahuddin:

Yah manusia ada kalanya menghayalkan sesuatau untuk bisa menjadi nyata, ingat sebelum ada pesawat orang menghayal untuk bisa terbang dikemudian hari khayalan tersebut jadi nyata. Orang berkhayal ingin terbang ke bulan khayalan itupun menjadi nyata adanya. Agama islampun dan Nabi muhammad sekalipun seorang penghayal besar dengan khaayalanya tersebut akan menjadi nyata dikemudian hari, ustadz sinar agama juga berkhayal tentang insan kamil, surga, neraka, imam 12 bahkan akan ada khayalan lagi mungkin akan datangnya imam mahdi yang ditunggu tunggu kaum siah dan setelah lebih dari 14 abad keberadaanya belum terbukti masih dengan kahyalan mereka yang entah sampai kapan berhasil menjadi nyata. Manusia dibekali oleh Allah berupa akal fikiran dari mereka berfikir inilah timbul berbagai angan angan khayalan dan jangan mengatakan khayalan ini suatu yang negatif ndak (kecuali angan-angan kosong alias ngelamun yang tidak didasari ilmu) khayalan merupakan dasar dari ilmu pengetahuan adanya segala sesuatu alat teknologi.

Tanpa mengurangi yang sinar sampaikan ada betulnya juga, Nabi ikhtiar dan berusaha menjadi Nabi sejak masa kanak-kanak tentu memiliki cita cita dan tujuan menjadi Nabi dan rosul maka Nabi berusaha keras untuk mencapainya dengan berbagai ikhtiar dan usaha diantaranya pergi beruzlah di dalam gua hira sampai datangnya malaikat Jibril as dan Allahpun mengabulkan segala ikhtiar dan cita cita Nabi untuk menjadi Nabi dan rosul. Sebab Nabi berdoa dan memohon untuk dijadikanya Nabi dan rosul begitu mungkin yang bisa saya tambahkan.

Kayak anak-anak jaman sekarang bila ditanya apa cita citanya menjadi dokter, nah mungkin Nabipun waktu kecil tidak dibedah namun ditanya malaikat apa cita cita mu nak menjadi Nabi dan rosul pak malaikat. Nah dengan ikhtiarnya sendiri akhirnya Nabi mencapai apa yang dicita citakan. Kemudian waktu perang badar Nabi juga ihtiar sendiri untuk kemenangan kaum muslim dan Allahpun mengabulkan doanya, kemudian Nabi memiliki cita cita lagi untuk bisa isro’ mi’roj bertemu Allah maka keinginan inippun dikabulkan oleh Allah karena ikhtiar dan usaha Nabi sendiri. Tanpa campur tangan Allah semua cita cita Nabi dikabulkan Allah karena ikhtiar dan usahanya sendiri. Allahpun hanya tinggal acc its oke aja semua. Dan karena ikhtiarnya Nabi sampai sampai Allah sendiri mebacakan sholawat untuk beliau. Sungguh fantastis usaha dan ikhtiar Nabi tanpa diistimewakan Allah menjadi istimewa sendiri. Tanpa campur tangan Allah Nabi menjadi rosul sendiri, tanpa campur tangan Allah Nabi bisa isro’ mi’roj, sungguh hebat Nabi kita semua hanya ikhtiarnya.

Yustanur:

Terimakasih atas penjelasan ustad yang panjang lebar ini semoga dirhidoi Allah swt, namun untuk lebih memudahkan pemahaman saya tentang uraian ustad di atas saya mohon dijelaskan bagaimana menurut pandangan Shiah tentang Takdir, wassalam.

Sinar Agama:

Yustanur, takdir yang bermakan nasib manusia itu tidak ada dalam Islam, yang ada hanya di agama Hindu, Budha, Masehi dan lain-lainnya. Kalau Yustanur ingin tahu, maka sudah kutulis di catatanku yang berjudul “Pokok-pokok dan Ringkasan Ajaran Syi’ah” bagian ke 2, kalau yang bagian 1-nya adalah tentang ke-Tuhanan.

Sinar Agama:

Muhammad, kamu kurang jeli membaca tulisan, mungkin karena dari awal kamu sudah merasa benar sendiri. Itu adalah hak antum, tapi tolong baca tulisan orang dengan memaksudkan maksud penulisnya.

(1). Tidak ada orang bercita-cita jadi nabi dan rasul atau imam. Yang ada adalah orang ingin menjadi insan Kamil, alias budak Tuhan secara hakiki, dengan melakukan taat dan menjauhi keburukan maksiat serta rasa kepemilikan kebaikannya (karena budak, tidak memiliki apa- apa).

(2). Nah, dari dari yang taat itu, kalau Tuhan berkehendak maka dipilh menjadi utusanNya, dan kalau tidak maka sebaliknya.

(3), Jadi suatu yang sangat ngawur ketika orang mengatakan bahwa seseorang berkhayal dan menginginkan menjadi nabi, imam. Justru inilah yang bisa dikatakan hakikat ngelantur dan mengkhayal itu.

(4).     Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa potensi menjadi nabi itu, yakni budak Tuhan secara hakiki itu, adalah ikhtiari manusia, tapi pemilihannya untuk menjadi rasul dan nabi atau imam tergantung kepada Tuhan.

(5).     Sedang imam 12 tidak beda dengan kerasulan, yakni ia dipilih Tuhan dari orang yang telah berikhtiar menjadi budak hakikiNya. Dan sudah sering dijelaskan bahwa 12 orang ini adalah diketahui Tuhan sebelum penciptaan sekalipun. Karena itu diumumkan bahkan kepada nabi Adam as. Apalagi kepada nabi Muhammad saww.

(6).     Karena itu 12 imam itu bukan khayalan, tapi berita Tuhan melalui Nabi saww yang diriwayatkan oleh shahih Bukhari hadit ke: 7222 dan 7223; shahih Muslim hadits ke: 3393 dan 3394 dan 3398; dan kitab-kitab shahih lainnya.

(7).     Kalau antum ya...Muhammad mengatakan bahwa 12 imam itu adalah khayalan, berarti antum telah memfitnah Nabi saww berkhayal dan bukan sedang memberitakan ilmu Tuhan.

(8).     Dalam hadits yang lain, seperti di Yanaabii’u al-Mawaddah (kitab Sunni), dikatakan bahwa imam ke 12 itu akan dighaibkan (ditidakkenalkan) oleh Tuhan sebegitu lamanya sampai- sampai orang-orang merasa berat mengimani keberadaan dan kelahirannya, lalu dikeluarkan (diperkenankan untuk mengenalkan diri) dengan ijianNya untuk meratakan keadilan di muka bumi ini.

(9).     Di Bukhari juga dikatakan bahwa nabi Isa akan turun membatu imam 12 itu, begitu pula dikatakan di Bukhari bahwa keduanya itu akan memerangi Dajjal. Apakah semua ini khayalan?

(10).  Ketahuilah ya... Muhammad, kalau imam makshum itu tidak ada, maka jalan lurus itu juga tidak akan ada. Bagaimana mungkin jalan lurus yang dikatakan dalam Fatihah sebagai jalan yang tidak dhaaliin sedikitpun yakni tidak salah sedikitpun, tapi di lain pihak orang yang makshum ilmu dan amalnya tidak ada? Apakah bisa jalan yang tidak salah sedikitpun itu ada, tanpa adanya orang yang memiliki ilmu Islam yang lengkap dan semua benar? Kami yang berkhayal atau kamu yang berkhayal beragama Islam hakiki?

(11).  Pelengkap, nabi Nuh as saja, hanya dalam berdakwahnya saja, memakan waktu 950 tahun yang, berarti umurnya sendiri tentu melebhi 1000 tahun. Nabi Yunus as saja ketika dimakan ikan, Allah berfirman dalam QS: 37: 143-144: “Kalau ia bukan termasuk orang-orang yang ahli bertasbih, maka Kuletakkan di perut ikan itu sampai hari kiamat”

(12).  Apakah nabi Nuh as yang umur lebih dari 1000 tahun, atau nabi Yunus as yang kalau Tuhan berkehendak akan diletakkan di dalam perut ikan dari jamannya itu sampai hari kiamat tiba, merupakan khayalan?

Coba muslimin tidak memburu imam Mahdi as untuk dibunuh sebagaimana 11 imam sebelumnya yang dibunuhi oleh khalifah-khalifah Bani Umayyah dan Bani Abbas dan didukung oleh muslimin yang mengingkari imam makshum, maka sudah pasti imam Mahdi as tidak perlu dipanjangkan umurnya dan dighaibkan.

Tapi karena yang terjadi sebaliknya, maka terjadilah apa yang terjadi. Dan semua ikhtiar manusia ini, sudah diketahuiNya sejak sebelum alam ini dicipta. Jadi, berita-berita tentang imam 12, panjangnya umur imam ke 12, dsb, adalah berita-berita ghaib dari IlmuNya yang diberikan kepada NabiNya saww. Jadi, bukan ketentuanNya, tapi beritaNya.

Wassalam.

 

 Yustanur:

Terimakasih ustad anda telah menjawab pertanyaan saya, dan saya telah membaca tulisan yang anda anjurkan, namun sepertinya apa yang anda sampaikan baru sebatas kemampuan akal anda semata sepertinya seakan-akan anda lebih mampu menjawab permasalah ini dari pada Rasulullah dan Alguran, kenapa saya katakan demikian anda amat sedikit sekali merujuk pada Hadist dan Alquran ataupun pendapat ulama-ulama terdahulu ....mohon maaf yang sebesar besarnya. Wassalam.

Sinar Agama

Yustanur, yang kujelaskan itu adalah dari Qur'an dan Hadits. Tentu saja Qur'an dan hadits yang dipahami dengan akal yag argumentatif. Ghini aja, mana menurutmu yang bertentangan dengan keduanya? Apakah kamu sudah tahu semua Qur'an dan hadits, hingga mengatakan keduanya tidak menjelaskan dan aku yang menjelaskan dan anda mengatakan aku lebih tahu dari keduanya?

Ki Fuat Damahcom Gaikutenentangaruz:

Lanjutkan, top abis.

Yustanur:

Baiklah ustad jawaban anda yang terakir ini mengisyaratkan bahawa anda telah mengkaji semua kandugan Alquran dan Hadist sehingganya Akal argumentatif anda telah sampai pada sebuah keyakinan yang kuat pada diri anda, sehingganya dengan mudah sekali anda mengatakan Takdir itu tidak ada di dalam Islam yang ada hanya di agama hindu` namun walaupun demikian halnya perihal tentang anda saya tetap merujuk pada diri Rasullullah dalam mencapai kesempurnaan dan kerasulannya baru setelah mencapai usia 40 tahun adanya, artinya baginda melalui proses yang sangat panjang hampir-hampir sepenuh hidupnya.. namun Beliau tetap tawaduk wassalam.

Sinar Agama:

Yustanur, Anda mau belajar ke siapa, itu terserah Anda. Karena hal itu adalah hak Anda hidup. Anda mau belajar ke Rasulullah saww yang ala Anda, atau ala saya, itu mah....terserah saja. Yang saya ingin tekankan, jangan sesekali mengatakan bahwa Tuhan dan Rasul serta Qur'an dan Hadits yang Anda kenal itu, sudah pasti Tuhan, Nabi saww, Qur'an dan hadits.

Nah, kita-kita ini, tidak ada yang mau ikut jin atau kitab-kitab komik, semua mau mengikuti Tuhan, Nabi saww, Qur'an dan hadits. Akan tetapi yang mana? Yang kita persepsikan, atau yang Anda persepsikan? Karena itulah diskusi itu gunanya mencari Tuhan, Nabi saww, Qur'an dan Hadits yang lebih akurat. Setidaknya, sudah merupakan usaha.

Tapi kalau masing-masing kita sudah merasa bahwa Tuhan yang ia kenal, Nabi saww yang ia kenal, Qur'an dan hadits yang ia kenal, sudah pasti benar, maka sebaiknya ngaku nabi saja. Kan tidak begitu kan?

Saya sendiri bisa dikatakan belajar di pesantren sudah puluhan tahun dan tidak pernah kerja kecuali belajar, bukan main-main kan? Akan tetapi saya tetap tidak memperdulikan siapapun, termasuk diri saya sendiri, kecuali argument yang benar dan jelas. Artinya, apapun yang saya tahu, belum tentu benar. Memang, yang aku pegang, walaupun sebatas “rasa” dan argumentasi semampunya, sudah dirasakan dan diyakini benar, yakni sudah sesuai dengan argument akal, Qur'an dan hadits. Akan tapi, tetap saja bisa salah. Nah, kalau sudah terbukti salah, mengapa saya harus sayangi dan menolak yang benar itu?

Karena itu, anjuranku padamu, cari terus dan renungi dengan adil, serta berdoa padaNya, untuk mendapatkan dan memilih yang benarnya.

Yustanur, kalau suatu saat, antum merasa ingin curhat dan berdebat denganku, maka pintuku tetap terbuka dan aku tidak akan pernah jadi nabimu, yakni yang memaksakan pandangannya padamu. Tidak akan. Anggaplah aku saudaramu yang bisa diajak ngobrol, bertengkar dan semacamnya, asal masih dalam koridor bertengkar dengan kakak atau adik, bukan musuh. Bertengkarlah denganku kalau perlu, tapi doakan aku dalam sela-sela munajatmu supaya aku mendapat kebenaranNya.

Tentu saja, kalau semua diskusi dilakukan dengan lebih santun, tentu lebih bagus, dan aku juga senang. Tapi bagaimanapun, harus tetap kritis.

Atau begini saja, pandangan mana dari pandanganku yang kamu inginkan ayatnya, maka insya Allah akan kutunjukkan ayatnya. Semoga aku mampu.

Sedang tentang takdir terhadap nasib manusia yang kamu yakini, ayat itu, dicari sampai ke kulit Qur'an-nyapun tidak ada.

Orang banyak menggunakan ayat telah keliru. Misalnya apapun yang terjadi itu sudah ditulis di Lauhu al-Mahfuuzh, termasuk daun yang jatuh.

Nah, ayat ini, kalau diartikan bahwa ditulis itu adalah ketentuanNya dan meliputi nasib manusia, baik jodoh, rejeki, umur, iman, kafir, baik, buruk, surga dan nerakanya, maka akan bertentangan dengan banyak sekali ayat-ayatNya yang menyuruh kita mencari pasangan yang baik, menyuruh kita berusaha, menyuruh kita taqwa, menyuruh kita jangan maksiat, menyuruh kita taat, “tidak Kucipta jin dan manusia kecuali taat”, .... dan seterusnya.

Dengan demikian, maka maksud ditulis itu adalah ditulis sesuai dengan IlmuNya yang mendahului penciptaan alam semesta ini. Yakni diketauiNya, bukan ditentukanNya. Jadi, apapun pilihan dan ikhtiar manusia, sudah diketahui Tuhan sebelum penciptaan dan pengetahuanNya itulah yang dituliskan di kitab Lauhu al-Mahfuuzh.

Nah, pemahaman seperti itu tentang Lauhu  al-Mahfuuzh,  tidak  bertentangan  dengan diturunkannya agama itu sendiri. Kan aneh, kalau  semua  sudah  ditentukan  lalu  Tuhan  masih  juga menurunkan agamaNya yang, melarang ini dan itu, menyuruh ini dan itu serta mengancam neraka pada yang maksiat dan menjanjikan surga bagi yang taat. Taat dan maksiat yang mana   kalau semuanya sudah ditentukanNya???!!!!!

Bayangin saja: Rasulullah saww naik mimbar dan bersabda (misalnya):

“Carilah istri yang cantik, kaya dan taqwa. Dan yang paling baik adalah yang taqwa.” Terus besoknya Rasul saww ditanya:

“Ya Rasulullah, kalau jodoh itu sudah ditentukan, maka buat apa dicari lagi?” Lalu apa kira-kira jawab beliau? Apakah bisa beliau saww menjawab: “Pokoknya cari saja sekalipun jodoh kalian sudah ditentukan!” ???!!!!!

Shahabat akan berkata lagi:

“Ya Rasulullah, kalau orangnya sudah ditentukan sebagai jodoh kita, dan waktu kawinnya juga sudah ditentukan untuk kita, terus buat apa dicarinya??!!!”

Apakah Rasulullah saww akan menjawab:

“Pokoknya semua sudah ditentukan, aku menyuruh ini juga ditentukan, kalian bertanya juga ditentukan, kalian mau cari atau tidak sudah ditentukan, ketemu atau tidak sudah ditentukan, siapa jodohnya dan kapan kawinnya juga sudah ditentukan ...dan seterusnya “ ???!!!!

Nah, kalau sudah begitu terus buat apa agama diturunkan atau buat apa ditakdirkan dalam turunnya dimana ia melarang ini dan itu, dan mewajibkan ini dan itu???!!!!

Kan berarti sama saja dengan pernyataan agama yang mengatakan:

“Wahai manusia, jangan dekati zina, tapi sudah Kami tentukan siapa-siapa yang berzina dan yang tidak berzina.” ???!!! Begitukah???!!!

Yustanur, alfakir ini sudah merasa bangga, Anda sudi membaca tulisanku, semoga tidak menjadikannya pelacakan terakhir, dan maafkan kalau ada kata-kataku yang kurang berkenan, sungguh hati ini tidak menyimpan apapun kecuali kecintaan kepada sesama muslim. Wassalam.

Muhammad Shullahuddin:

Pak Sinar, manusia dibekali oleh Allah berupa akal fikiran sebelum sesuatu terjadi manusia melihat sesuatu tentu kita berfikir berkhayal akan sesuatu itu Nabi juga melakukan proses seperti itu pak Sinar juga sayapun juga kita semua juga sebab tadi pak sinar mengatakan segala ketentuan ada di tangan Allah. Nah karena kita tidak tahu akan ketentuan Allah manusia berkhayal tentang adanya surga neraka kiamat dll karena kita belum tahu seperti apa itu surga neraka dan kiamat semua itu masih gambaran semu, sebab kenyataan surga dan neraka sendiri belum terbukti nyata nah dari hasil olah fikir dan khayalan manusia tersebut akan terbentuk surga dan neraka menurut apa yang dirasakan manusianya secara individu. Gambaran kita tentang surga di dunia akan menjadi nyata KELAK DIKEMUDIAN HARI.

Lanek imam 12 yang 11 dibunuh tinggal 1 ini disembunyikan akan lahir kelak dikemudian hari dan sekarang sudah 14 abad juga belum lahir dia dan nanti akan lahir, ini bertetangan dengan kodrat mahluk dan sunnatullah, nabi Muhammad aja manusia terpilih umurnya cuma 63 tahun lanek imam Mahdi hidup sampai sekarang apa itu tinemu akal coba pak Sinar fikir afala taqilun afala tatafakarun?

Takdir dan usaha manusia itu berjalan bersama, manusia hidup untuk memenuhi takdirnya masing masing bersama dengan ketentuan Allah, daun jatuh itu takdir juga kejadian yang sudah diketahui Allah karena Allah maha tahu akan apa yang terjadi pada mahluk.

 

Sinar Agama:

Muhammad,:

(1).     Kalau baca tulisan orang itu mesti teliti. Semua orang pasti punya khayalan dalam arti bayangan, akan tetapi Nabi saww mengkhayalkan ingin jadi Nabi itu adalah khayalanmu semata. Para nabi dan wali, hanya mengangankan menjadi budak yang baik, setelah itu terserah padaNya.

(2).     Kamu mau khayal atau tidak, itu urusanmu, tapi mengukur para nabi dengan dirimu, itu sesuatu yang aneh amat. Sekarang aku mau tanya apakah kamu mengkhayal jadi nabi, rasul, pencuri (maaf), menjadi presiden Mesir, ... dan seterusnya dan lalu mengejar khayalanmu itu?

(3).     Tidak ada ketentuan dalam nasib manusia, mau kutulis berapa kali?

(4).     Imam ke 14 itu sudah lahir. Bagaimana mungkin imam makshum ilmu Islamnya dan amalannya juga begitu, tapi belum lahir? Lah .. kalau belum lahir terus mau belajar kepada siapa nanti kalau sudah lahir? Bisakah yang makshum belajar ke orang yang tidak makshum? Atau bisakah belajar ke orang yang tidak makshum ilmu dan amal Islamnya, kemudian muridnya ini menjadi makshum ilmu dan amal???!!!

(5), Perkataan takdir dan usaha berjalan seirama itu adalah kata-kata yang puitis dan tidak argumentatif. Lah ... wong sudah ditentukan kok berusaha? Usahanya untuk apa?

 

Yustanur:

Waalaikum salam, terimakasih saya ucapkan yang sebesar-besarnya atas kesediaan ustad merespon komentar saya, yang telah begitu panjang lebarnya, mudah mudahan menjadi ilmu yang bermanfaat buat saya, kalau boleh saya menanggapi uraian 2 di atas yang mana di dalam penafsiran saya tentang usaha ataupun ikhtiar di dalam menjalani takdir ialah:

Karena ketidakberdayaan manusia mengetahui takdir itu sendiri maka kita diwajibkan berusaha. Boleh saya contohkan sepertinya saya melaksanakan sebuah pekerjaan yang menurut akal saya sudah pasti bisa saya tuntaskan, tapi kita diwajibkan untuk membaca: Insyaallah. Betul ada perbedaan antara kita, saya memulai mencari kebenaran dari merujuk pada khalwatnya (menyepi) Rasulullah di gua Hira yang mana diwaktu itu akal argumentatif susah untuk menerimanya, tentu jauh bedanya dengan setelah turunnya ayat-ayat Alquran atau sampai seperti yang ustad jalani melalui pesantren ataupun perguruan tinggi..dari itu saya sangat bersukur dapat berkomunikasi dan,menambah ilmu dari ustadz, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kiranya tulisan ataupun komentar saya menyinggung perasaan ustad Wassalam.

 

Sinar Agama:

Yustanur, bahagia bisa membaca komentar antum lagi.

(1).     Ketahuilah bahwa takdir itu bukan konsep Nabi saww atau Tuhan, ia adalah konsepnya Abu al-Hasan al-Asy’ari, yakni katakanlah seorang ulama. Karena itu hanya dia yang punya pandangan seperti itu dan diikuti oleh orang-orang Syaafi’ii di Indonesia yang, walaupun sudah masuknya wahhabi (bc: Muhammadiah) keyakinan itu tetap terpelihara sampai sekarang. Sementara seperti Sunni yang Mu’tazilah dan apalagi Syi’ah yang wajib mengimani ke-Adilan Tuhan, maka takdir dalam arti nasib manusia itu tidak ada.

(2).     Di samping tidak ada dalilnya, keyakinan itu bertentangan dengan ribuan ayat Qur'an yang jelas dan mudah atau Muhkamaat, begitu pula dengan ribuan hadits Nabi saww yang mutawatir atau di atas mutawatir.

(3).     Salah satu dalil akuratnya, adalah diturunkannya agama itu sendiri. Nah, kalau semua sudah ditentukan maka buat apa agama diturunkan yang menyuruh ini dan itu?

(4).     Kalau di Syi’ah, selain dalil di atas, penaqdiran itu juga betentangan dengan ke-AdilanNya. Karena kalau Tuhan yang menentukan seseorang itu bejat dan masuk neraka maka Tuhan aniaya pada hambaNya, karena kebejatannya itu dariNya, sementara yang akan masuk neraka adalah manusia yang Ia tentukan itu. Begitu pula kalau seseorang di dunia ini gagal bisnis. Karena Ia menyuruh manusia untuk berusaha, dan si manusianya sudah berusaha, tapi karena takdirNya maka ia bangkrut dari usahanya. Ini namanya aniaya, padahal usaha sudah profesional dan harus berhasil, tapi karena ditabrak takdir, maka ia gagal dan hidupnya jadi menderita. Ini artinya, Tuhan telah aniaya pada hambaNya. Apalagi kalau     si manusia itu ditakdirkan lagi olehNya untuk putus asa dan bunuh diri. Bisnisnya sudah bangkrut karenaNya, dan sekarang ia harus mati bunuh diri karenaNya yang, nanti akan masuk neraka karenaNya juga.

Nah, logika yang sangat mudah pada beberapa dalil di atas itu tidak bisa dipahami oleh orang yang namanya Asy’ari yang antum ikuti itu. Dia meteteng/ngotot bahwa semua itu sudah ditentukan Tuhan. Ada syariat kek atau tidak kek, ada usaha kek atau tidak kek,...dan seterusnya, pokoknya sudah ditentukan. Semua ulama Sunni Mu’tazilah dan Ahlulbait Nabi saww tidak didengarkannya. Dan kalau ditanya bagaimana logikanya? Bagaimana supaya tidak bertentangan dengan akal dan ribuan ayat itu? Dia dan para pengikutnya menjawab:

“Wah .... takdir ini adalah alam yang sangat gelap yang tidak sembarang orang bisa memahaminya”.

Nah, yang jadi agak lucunya itu, kok bisanya kata-kata dia dipercaya dan ribuan ayat itu dibuang tiada berarti? Kok bisanya kata yang benar-benar penipuan ilmu itu yang dengan berkata alam gelap lah, ilmu yang rumit lah ... dan seterusnya, dipercaya orang-orang selama berabad-abad tahun lamanya tanpa perduli pada ribuan hadits dan ayat-ayat??? Kok bisa orang ikut Asy’ari tanpa ikut Tuhan dan Rasul saww?

Saya mau tanya dan tak perlu dijawab di sini tapi cukup di hati antum saja. Kalau antum ditakdirkan olehNya sebagai orang kaya, keluarga sakinah, taat dan masuk surga, apakah antum nanti bangga di surga? Atau, na’uzdu billah, kalau antum ditentukan bangkrut, keluarga berantakan, dan mabok-mabokan, kemudian merampok dan mati dikeroyok orang sekampung lalu di akhirat masuk neraka, apakah antum rela punya Tuhan seperti itu dan akan tetap mengatakan Ia itu Adil, Maha Kasih, Maha Penyayang, Maha Mulia .... dan seterusnya????!!!

Yustanur, aku sama sekali tidak tersinggung dengan komentar antum, dan sebaliknya, senang bisa diskusi. Teruskan saja seandainya antum masih punya dalil. Ketahuliah, karena di Indonesia meyakini konsep Asy’ari itu, maka penjelasan tentang Mu’tazillah dan apalagi Syi’ah, selama berabad-adab tahun ini tidak dapat tempat di Indonesia. Karena itu ketidakmasukakalan dan ketidakmasukayatan dan ketidakmasukhaditsannya, ditutupi dengan kata-kata seperti rukun iman ke enam dimana yang tidak percaya bisa kafir dan ditambah lagi dengan perkataan:

“Takdir adalah alam atau daerah gelap yang tidak bisa ditembus” ...dan seterusnya. Sekian dulu dan wassalam.

Ingat: Saya tidak membantah tentang usaha itu, karena bisa saja dikatakan saya usaha karena saya tidak tahu takdir saya. Jadi, apapun kepercayaan kita, tetap harus usaha. Tapi yang yang saya bahas itu, bahwa dalam keyakinan takdir ini, maka diyakini bahwa semua usaha dan hasilnya itu adalah takdir yang sering juga hal ini tidak disadari. Karena orang yang percaya takdir itu   kan selalu mengatakan bahwa kita harus berusaha dan hasilnya Tuhan yang menentukannya. Lah ... kalau kita percaya takdir, maka usaha tidak usahanya itu juga takdir. Kan lucu, dari satu sisi mengatakan sudah ditentukan, tapi dari sisi yang lain menyuruh usaha. Padahal mau usaha kek mau tidak usaha kek, semua dan semua, tergantung takdir bukan? Jadi, buat apa orang yang percaya takdir itu mengajar dan menyuruh, toh yang disuruh berusaha itu, kalau tidak ditentukan berusaha, maka pasti tidak berusaha, begitu pula sebaiknya.

Pintu ilmu Nabi saww, yakni imam Ali bin Abi Thaalib as, shahabat paling pandai yang diakui kawan dan lawan, pernah duduk merindang di sebuah dinding. Setelah diperhatikan dinding itu mau roboh. Karena itu imam Ali as menghindar dari tembok miring tersebut. Dalam pada itu, perbuatan itu diperhatikan oleh orang yang percaya takdir ini. Orang itu bertanya:

“Ya Ali, mengapa kamu pindah duduknya?” Imam Ali as menjawab:

“Karena tembok ini bisa roboh”. Orang itu berkata:

“Ya Ali, kalau Tuhan tidak menakdirkanmu mati ditimpa tembok ini, maka sekalipun kamu tidak pindahpun kamu tidak akan mati. Tapi kalau kamu ditentukan mati ditimpa tembok ini, maka kamu akan mati sekalipun kamu lari darinya.”

Lalu imam Ali as menjelaskan apa takdir itu (di selain nasib dan seterusnya). Setelah banyak menerangkan, imam Ali as bertanya padanya:

“Kalau kamu memang percaya takdir, mestinya kamu tahu bahwa pindahku ini juga takdir, tapi mengapa kamu menanyakannya dan menghubungkannya padaku?”

Jadi yang kita bahas bukan usaha sebagai usaha yang bisa karena tidak tahu takdirnya. Tapi meyakini bahwa usaha itu adalah takdir itu sendiri. Sebab daun jatuh itu sudah ditentukan, apalagi yang lebih besar seperti usaha tidaknya si fulan manusia itu, maka sudah pasti, konsekuensinya, diyakini sebagai takdirNya bukan? Nah, lucunya, banyak orang marah pada temannya, atau orang tua pada anaknya, dikala mereka melakukan pencurian, pemukulan, pembunuhan, pemerkosaan, korupsi, sogok menyogok ....dan seterusnya.. Lah kok bisa dimarahi wong semua itu Tuhan yang menentukan. Jangan katakan bahwa Anda marah juga karena takdir Tuhan, karena dialog ini akan menjadi semacam main kelereng/gaplek. Sebab ketika Anda atau mereka yang marah itu, benar- benar marah dalam dirinya dan tidak menyandankarnya padaNya dan begitu pula protesnya itu benar-benar ditujukan pada yang dimarahi yang, kadang sambil memukulinya, tanpa merasa memarahi Tuhan yang telah menakdirkannya itu. Apakah kekotradiksian kenyataan ini masih belum jelas juga? Kontradiksi dengan keyakinannya sendiri, dengan ribuat ayat dan hadits, serta akal Anda dan siapapun yang mengimani takdir ini yang marah-marah tadi atau marah-marah sambil mukul-mukul itu.

Wassalam.

Bersambung ke artikel berikut :

Kenabian Isa as Yang Bukan Diatasdasarkan Ikhtiar Tapi Pengetahuan Tuhan Akan Keihtiaran Isa as Bagian 1

Kenabian Isa as Yang Bukan Diatasdasarkan Ikhtiar Tapi Pengetahuan Tuhan Akan Keihtiaran Isa as Bagian 2

Kenabian Isa as Yang Bukan Diatasdasarkan Ikhtiar Tapi Pengetahuan Tuhan Akan Keihtiaran Isa as Bagian 3

Kenabian Isa as Yang Bukan Diatasdasarkan Ikhtiar Tapi Pengetahuan Tuhan Akan Keihtiaran Isa as Bagian 4

Kenabian Isa as Yang Bukan Diatasdasarkan Ikhtiar Tapi Pengetahuan Tuhan Akan Keihtiaran Isa as Bagian 6

You need to be a member of Sinar Agama to add comments!

Join Sinar Agama

Logika Filsafat Irfan

Bismillahirohmanirohim

Giri Sumedang: Mau nanya ya kak, bagaimana cara Tuhan melihat makhlukNya, apakah dengan cara langsung atau tidak?

Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya: Sebelum saya jawab tolong dijelasin dulu apa maksud Anda dengan ”langsung” atau ”tidak langsung” disini.

Giri Sumedang: Maksud langsung yaitu apakah itu tindakan di dalam diri (immanent)  atau tidak langsung yaitu apakah ia cukup menyadari dirinya maka niscaya seluruh keberadaannnya diketahui kak? heemm.

Sinar Agama: Giri, aku sebenarnya ingin langsung menjawab. Tapi sebelum itu ijinkan aku mensistematiskan ucapanmu dulu. Semoga kamu tidak…

Read more…

Bismillahirohmanirohim

Haerul Fikri: ustad.. saya sangat tertarik dan mengikuti diskusi anda dengan Anggelia tentang wahdatul wujud Ibnu Arabi dan wahdatul wujud mulla Shadra distatusnya, bisakah ustad menguraikan tingkatan-tingkatan wujud dalam keber”ada”annya, sebagimana yang dimaksud Mulla Shadra ?

Apakah tingkatan-tingkatan wujud tersebut bersifat kekal sejak adanya atau mengalami evolusi, perubahan, perombakan, atau bahkan pemusnahan ?

Apakah alam materi yang sekarang ini merupakan alam materi pertama.. lalu, apakah ada penciptaan makhluk di alam materi setelah hari pembalasan ?

 

Sinar Agama: Maaf lambat karena semalam gangguan singal/sinyal dan sudah mulai lagi kelas- kelas kami.…

Read more…

Bismillahirohmanirohim

 

Jajar Genjang: Sinar Agama, Salam.

  1. Dalam penjelasan mengenai perjalanan irfan, dikatakan bahwa makhluk sanggup mencapai tingkat ke akal pertama. Sedangkan akal pertama adalah non materi mutlak, dimana tidak terjadi gerak dan proses. Padahal pencapaian makhluk hingga ke akal pertama merupakan sebuah proses. Hal ini sepertinya berkontradiksi. Mohon penjelasannya!
  2. Apa yang dimaksud dengan alam lahut? Sedang susunan alam besar ada 3, yakni; jabaruut, malakut kemudian
  3. Apakah pahaman-pahaman yang ada di akal juga dikatakan derajat ”ada” dalam pandangan filsafat, atau setidaknya tajjaliah dari ”ada” dalam pandangan irfan, sebagaimana ’’ada’’ yang ada di balik aksiden…
Read more…

Bismillahirrahmanirrahim

 

Giri Sumedang:

Kak Sinar maaf ganggu lagi nich..he he he.

Giri masih rancu dengan relasi iluminasi yang kaitannya dengan pluralitas wujud...

Bukankah yang banyak ini tidak bisa kita nafikan.. bahwa Dia yang ADA adalah ADA, dan ADA cuma sendirian (esa,satu, tidak terangkap, tidak berbilang, murni, sebab dari segala sebab, kausa prima, substansi, hakiki, niscaya, dan lain-lain sebutan dan macam istilah) bisa dipandang dalam 2 hal yaitu imanen dan transenden sekaligus.. intinya bagaimana yang banyak ini juga bisa dipandang sebagai yang satu. Mohon maaf kalau pertanyaannnya salah he dan terimakasih ya kak atas jawabnnya.

Siti Handayatini, Roni Astar,…

Read more…

Info

Selamat Jalan Guru kami tercinta...

Yaa Ustadz ...
Begitu cepat engkau pergi menghadap ilahi... :,(

Kami rindu semua ilmu-ilmu mu, engkau lah sosok yang kami harapkan menjadi penerus cahaya dari negeri Mullah.. ke negeri ini..

Kini engkau meninggalkan kami semua, tapi ilmu dan tulisan-tulisan mu selalu terukir dimanapun, dan menjadi penerang cahaya bagi siapapun yang ingin meraihnya..

maafkan kami ustadz, yang belum bisa memberikan yang terbaik untuk mu.. yang belum maksimal memperjuangkan syiar mu.. maafkan kamii .... maafkan kamiiiii ...

Semoga engkau berada di tempat terbaik di sisi Allah Swt, Nabi saww dan para Maksumin as Keluarga nabi termulia, disekeliling mu
... menyambutmu dengan cahaya syafaat & kebahagiaaan.. sesungguhnya orang mukmin yang shaleh dan syahid itu adalah hidup setelah kematiannya..
Selamat Jalan Ustdz…

Read more…

Miliki Segera Buku Sinar Agama (1-12 Jilid dan Kamus)

Buku Sinar Agama Sudah di Jilid 7 (dari 13 jilid pertama),Tinggal sedikit lagi, doakan & Pesanlah segera.

Hub. via WhatsApp +6282288226060 Shadra Hasan

Bismillaah:

Video Clip Buku Sinar Agama

Tak ada kesyukuran kecuali pada Allah swt, tak ada rasa ta'zhim dan kesyukuran kecuali pada Nabi saww dan Ahlulbait as, tak ada rasa terimakasih kecuali pada para ulama pewaris anbiyaa' dan Rahbar hf tercinta, tak ada…

Read more…

Wasiat Sinar Agama

Urgensi

Manusia

Anjuran Pemprioritasan Pencarian Ilmu dan Pengaplikasiannya

D-Gooh Teguh: Dan alangkah lebih baik jika kita mengurus perbaikan perabot sendiri dibanding mengurus rusaknya perabot tetangga. Perabot tetangga bisa terjual atau tidak bukanlah urusan kita. Sang…

Read more…

Ruh Manusia dan Unsur-unsurnya

10. Pewujudan dari Alam-Materi yang memiliki ruh, dan semua materi memiliki ruh, maka dengan dua proses.

(a) Proses materinya, seperti dari mani ke darah, ke daging, ke janin dan bayi.

(b)Peniupan ruhnya ketika badaniahnya sudah…

Read more…