Logika Filsafat dan Irfan

Hakikat/Filsafat Waktu/Zaman (Bukan Waktu Berdasarkan Putaran Matahari)

Karena itu, tidak heran Nabi saww sudah mengatakan akan adanya 12 imam itu sekalipun mereka belum lahir semua. Karena itulah di Bukhari dan Muslim sangat jelas dikatakan oleh Nabi saww bahwa setelah beliau saww akan ada 12 imam. Apalagi di Yanaabii’u al-Mawaddah diterangkan nama-nama mereka dari imam Ali as sampai imam Mahdi as yang, lengkap dengan julukannya masing-masing. Lihatlah kehebatan Allah dan Nabi saww dalam memberitakan 12 imam yang dengan julukannya itu. Karena kalau hanya nama, orang-orang bisa menyangka-nyangka bahwa nama anaknya dicocokkan oleh ayahnya ke nama-nama yang ada di riwayat tersebut (kepada anaknya). Tapi kalau julukan, khayalan seperti itu tidak ada lagi. Karena julukan itu muncul dari masyarakat yang memberikannya berdasarkan kepada apa yang mereka lihat sendiri dari yang akan diberikan julukan padanya. Persis seperti kita menjuluki teman-teman kita dengan si kepet, si pinter, si kemayu, si PD, si filosof, si pemarah ...dan seterusnya dimana muncul dari kejadian- kejadian terulang dan masyarakat sendiri yang membuatnya tanpa adanya suatu rapat kampung sebelumnya. Yakni seperti disepakati bersama. Begitu pula dengan julukan-julukan para imam yang disebut Nabi saww jauh-jauh sebelum kelahiran mereka, seperti al-Sajjad, al-Baqir, al- Kazhim, al-Mahdi ...dan seterusnya.

Jadi, tentang imam-imam ini dapat dikatakan bahwa:

(1). Tuhan tahu siapa-siapa yang akan mencapai derajat budak hakiki, yakni makshum hakiki.

(2) Mereka itu hanya berjumlah 12 orang.

(3). Mereka itu tidak perlu diangkat menjadi nabi dan rasul, karena agama yang dibawa Nabi saww, sudah agama yang paling sempurna yang bisa mengantar manusia ke tingkat yang paling tinggi dan bisa mengimbangi kemajuan teknologi apapun karena dimensi agama adalah acuan karakternya dimana akhirnya kemajuan itu hanya bersifat alat kerja yang tidak beda dengan alat-alat sebelumnya dari sisi hubungannya dengan karakteristik manusia. Karena itu tidak perlu nabi baru.

(4) Akan tetapi dari sisi keharusan terjaganya agama akhir itu secara seratus persen, dari kemungkinan penyelewengan dan kesalahpahaman (sengaja atau tidak), maka sudah pasti diperlukan penjaga agama yang makshum, maka mereka yang hanya 12 itu dipilihNya menjadi penerus alias penjaga ajaran Nabi saww.

(5). Karena sifat makshum ini, tidak bisa diketahui manusia yang hanya tahu lahiriah dan   itupun dalam batas-batas tertentu, maka sudah tentu Tuhan secara niscaya mesti mengumumkannya pada manusia melalui Qur'an dan NabiNya. Karena itulah banyak sekali ayat yang menyuruh kita bertanya kepada yang tahu, mengikuti imam (seperti taatlah pada Allah dan taatlah pada Rasul dan pemimpin diantara kamu = QS: 4:59), atau melarang kita mengikuti yang punya dosa atau tidak makshum (dan jangan ikuti yang berdosa dan kafir

= 76: 24), atau firmanNya tentang tidak bisa menyentuh Qur'an kecuali orang suci (dan tidaklah bisa menyentuh Qur'an itu kecuali orang-orang yang suci -dari dosa = QS: 56: 79), atau (sesungguhnya penguasa kalian itu adalah Allah, Rasul dan orang-orang beriman yang melakukan shalat dan membayar zakat dikala rukuk = QS: 5: 55) atau perintah Tuhan kepada kita untuk meminta jalan lurus yang tidak sesat atau salah sedikitpun (wa laa al-dhaalliin) yang mana tidak mungkin tanpa orang makshum dimana berarti orang makshum itu ada karena Tuhan memerintahkan kita memintanya.... dan seterusnya. Begitu pula kalau dilihat dari hadits yang banyak sekali. Baik yang menyatakan bahwa mereka itu imam (artinya makshum karena kalau berdosa dilarang untuk ditaati secara mutlak sebagaimana ayat di atas tadi) ...dan seterusnya.

(6).     Sewaktu-waktu imam penerus masih kecil dikala imam sebelumnya sudah syahid. Akan tetapi mereka memang sudah mencapai derajat budak hakiki itu. Jadi tidak perlu penjelasan seperti nabi Isa as. Karena itu, imam Mahdi sewaktu ditinggal ayahandanya masih berumur sekitar 5 tahun matahari. Hal ini, tidak perlu penjelasan seperti pada peristiwa nabi Isa as karena nabi Isa as masih dalam gendongan waktu itu, sedang imam Mahdi as sudah umur 5 tahun matahari. Karena itu perlu penjelasan yang lain. Karena itu perlu adanya beberapa mukaddimah sbb:

(a).      Jaman atau waktu, bukanlah putaran matahari. Karena kalau matahari maka di matahari tidak ada waktu. Karena di sana tidak ada siang dan malam, tapi bahkan seluruhnya siang.

(b).      Dalam filsafat dan hakikat keberadaan atau kenyataan niscayanya, waktu itu adalah “ukuran gerak atau proses”. Karena itu setiap benda memiliki waktunya tersendiri. Misalnya pohon pendek ke pohon tinggi, anak ayam ke ibu ayam, telur ke anak ayam, mani ke manusia ... dan seterusnya. Mereka itu memiliki volumenya sendiri. Karena itu, dua biji yang ditanam dalam bersamaan, dikala yang satu lebih tinggi dari yang lainnya, maka volume waktunya yang lebih tinggi itu secara hakikat (bukan ukuran putaran matahari) lebih banyak dari yang lebih pendek. Dan karena ia lebih banyak, maka waktunya lebih banyak. Karena waktu adalah volume gerak. Jadi yang volumenya lebih banyak, maka dialah yang lebih banyak waktunya secara hakiki dan filosofis.

(c).      Karena volume gerak dan proses itu adalah waktu baginya, maka yang volumenya geraknya lebih banyak dari yang lainnya, maka dia lebih banyak waktunya. Dan karena lebih banyak waktunya maka ia lebih tua dari yang lainnya. Karena itu, maka pohon yang lebih tinggi di contoh itu lebih tua dari yang lebih rendah, sekalipun diukur dengan putaran matahari jelas sama. Karena sama sekian hari misalnya.

(d).      Sekarang kita lihat contoh dari imam kita, misalnya imam Hasan as dan imam Husain as. Pada waktu mereka sakit, imam Ali as dan siti Faathimah as bernadzar untuk puasa 3 hari kalau kedua anaknya sembuh. Setelah sembuh imam Ali as dan Siti Faathimah as melakukan puasa nadzar. Akan tetapi pada waktu itu mereka tidak punya apa-apa untuk dijadikan makan buka dan sahur. Karena itu imam Ali as berhutang kepada orang tepung gandum seukuran buka tiga hari. Antum lihat, yang nadzar itu kedua orang tuanya, akan tetapi kedua putra yang masih di bawah 5 tahun itu ikutan puasa. Namun, sebelum mereka berbuka, ada orang mengetuk pintu dan mengatakan kelaparan sekali. Imam Ali as dan siti Faathimah as memberikan roti mereka dan mereka hanya berbuka dengan air. Antum lihat kedua anak yang masih di bawah 5 tahun ukuran matahari ini juga memberikan roti mereka hingga mereka juga hanya berbuka dengan minum air. Esoknya peristiwa itu terulang lagi dengan pengemis yang lebih parah dan lebih lapar dari mereka.

Begitulah, peristiwa itu berlanjut sampai tiga hari dimana mereka puasa dimana buka dan sahurnya hanya air belaka yang disebabkan rotinya yang pas-pasan itu diberikan kepada orang yang lebih membutuhkannya. Karena itulah maka langit tergetar dan akhirnya Tuhan mengabadikan peristiwa tersebut dengan satu surat yang bernama “Al-Dhar” atau “al-Insaan”. Antum lihat, imam Hasan as dan Husain as kala itu masih di bawah 5 tahun matahari, tapi gerakan proses keinsanan mereka mengalahkan yang berumur seratus tahun sekalipun. Karena itu imam Hasan as dan Husain as yang di bawah 5 tahun matahari itu jauh lebih tua dari kita yang sudah bungkuk-bungkuk sekalipun. Hal itu karena gerakan mereka lebih jauh yang, karenanya volume gerak mereka lebih

Bersambung ke artikel berikut :

Kenabian Isa as Yang Bukan Diatasdasarkan Ikhtiar Tapi Pengetahuan Tuhan Akan Keihtiaran Isa as Bagian 1

Kenabian Isa as Yang Bukan Diatasdasarkan Ikhtiar Tapi Pengetahuan Tuhan Akan Keihtiaran Isa as Bagian 3

Kenabian Isa as Yang Bukan Diatasdasarkan Ikhtiar Tapi Pengetahuan Tuhan Akan Keihtiaran Isa as Bagian 4

Kenabian Isa as Yang Bukan Diatasdasarkan Ikhtiar Tapi Pengetahuan Tuhan Akan Keihtiaran Isa as Bagian 5

Kenabian Isa as Yang Bukan Diatasdasarkan Ikhtiar Tapi Pengetahuan Tuhan Akan Keihtiaran Isa as Bagian 6

Email me when people comment –

You need to be a member of Sinar Agama to add comments!

Join Sinar Agama

Logika Filsafat Irfan

Bismillahirohmanirohim

Giri Sumedang: Mau nanya ya kak, bagaimana cara Tuhan melihat makhlukNya, apakah dengan cara langsung atau tidak?

Sinar Agama: Salam dan terimakasih pertanyaannya: Sebelum saya jawab tolong dijelasin dulu apa maksud Anda dengan ”langsung” atau ”tidak langsung” disini.

Giri Sumedang: Maksud langsung yaitu apakah itu tindakan di dalam diri (immanent)  atau tidak langsung yaitu apakah ia cukup menyadari dirinya maka niscaya seluruh keberadaannnya diketahui kak? heemm.

Sinar Agama: Giri, aku sebenarnya ingin langsung menjawab. Tapi sebelum itu ijinkan aku mensistematiskan ucapanmu dulu. Semoga kamu tidak…

Read more…

Bismillahirohmanirohim

Haerul Fikri: ustad.. saya sangat tertarik dan mengikuti diskusi anda dengan Anggelia tentang wahdatul wujud Ibnu Arabi dan wahdatul wujud mulla Shadra distatusnya, bisakah ustad menguraikan tingkatan-tingkatan wujud dalam keber”ada”annya, sebagimana yang dimaksud Mulla Shadra ?

Apakah tingkatan-tingkatan wujud tersebut bersifat kekal sejak adanya atau mengalami evolusi, perubahan, perombakan, atau bahkan pemusnahan ?

Apakah alam materi yang sekarang ini merupakan alam materi pertama.. lalu, apakah ada penciptaan makhluk di alam materi setelah hari pembalasan ?

 

Sinar Agama: Maaf lambat karena semalam gangguan singal/sinyal dan sudah mulai lagi kelas- kelas kami.…

Read more…

Bismillahirohmanirohim

 

Jajar Genjang: Sinar Agama, Salam.

  1. Dalam penjelasan mengenai perjalanan irfan, dikatakan bahwa makhluk sanggup mencapai tingkat ke akal pertama. Sedangkan akal pertama adalah non materi mutlak, dimana tidak terjadi gerak dan proses. Padahal pencapaian makhluk hingga ke akal pertama merupakan sebuah proses. Hal ini sepertinya berkontradiksi. Mohon penjelasannya!
  2. Apa yang dimaksud dengan alam lahut? Sedang susunan alam besar ada 3, yakni; jabaruut, malakut kemudian
  3. Apakah pahaman-pahaman yang ada di akal juga dikatakan derajat ”ada” dalam pandangan filsafat, atau setidaknya tajjaliah dari ”ada” dalam pandangan irfan, sebagaimana ’’ada’’ yang ada di balik aksiden…
Read more…

Bismillahirrahmanirrahim

 

Giri Sumedang:

Kak Sinar maaf ganggu lagi nich..he he he.

Giri masih rancu dengan relasi iluminasi yang kaitannya dengan pluralitas wujud...

Bukankah yang banyak ini tidak bisa kita nafikan.. bahwa Dia yang ADA adalah ADA, dan ADA cuma sendirian (esa,satu, tidak terangkap, tidak berbilang, murni, sebab dari segala sebab, kausa prima, substansi, hakiki, niscaya, dan lain-lain sebutan dan macam istilah) bisa dipandang dalam 2 hal yaitu imanen dan transenden sekaligus.. intinya bagaimana yang banyak ini juga bisa dipandang sebagai yang satu. Mohon maaf kalau pertanyaannnya salah he dan terimakasih ya kak atas jawabnnya.

Siti Handayatini, Roni Astar,…

Read more…

Info

Miliki Segera Buku Sinar Agama (1-12 Jilid dan Kamus)

Buku Sinar Agama Sudah di Jilid 7 (dari 13 jilid pertama),Tinggal sedikit lagi, doakan & Pesanlah segera.

Hub. via WhatsApp +6282288226060 Shadra Hasan

Bismillaah:

Video Clip Buku Sinar Agama

Tak ada kesyukuran kecuali pada Allah swt, tak ada rasa ta'zhim dan kesyukuran kecuali pada Nabi saww dan Ahlulbait as, tak ada rasa terimakasih kecuali pada para ulama pewaris anbiyaa' dan Rahbar hf tercinta, tak ada…

Read more…

Wasiat Sinar Agama

Urgensi

Manusia

Anjuran Pemprioritasan Pencarian Ilmu dan Pengaplikasiannya

D-Gooh Teguh: Dan alangkah lebih baik jika kita mengurus perbaikan perabot sendiri dibanding mengurus rusaknya perabot tetangga. Perabot tetangga bisa terjual atau tidak bukanlah urusan kita. Sang…

Read more…

Ruh Manusia dan Unsur-unsurnya

10. Pewujudan dari Alam-Materi yang memiliki ruh, dan semua materi memiliki ruh, maka dengan dua proses.

(a) Proses materinya, seperti dari mani ke darah, ke daging, ke janin dan bayi.

(b)Peniupan ruhnya ketika badaniahnya sudah…

Read more…