Fiqih I

Bismillahirrohmanirrohim

Andri Kusmayadi mengirim ke Sinar Agama: 30-4-2013,

Salam.

Ana harus tuntaskan dulu nih masalah cuci mencuci, karena ini hal yang mendasar sebelum ke mana-mana. Ana copaskan lagi jawaban ana terhadap jawaban antum di status sebelumnya.

Ya Ustadz Sinar Agama berarti saya salah paham selama ini. Saya pikir yang rendaman pertama itu kan tujuannya untuk membersihkan kotoran atau benda najisnya dulu. Jadi, ana gunakan sabun cuci untuk merendam pakaian najis itu. Kan dengan dibiarkan sekitar 1 jam, kotoran atau benda najisnya akan hilang. Nah, setelah baju itu bersih dalam pengertian tidak ada kotoranatau benda najis (misal, darah sudah tidak ada, kencing anak kita sudah tidak ada baunya atau warna kuningnya), baru kita cuci yang kedua untuk mengikuti fikihnya itu. Jadi rendaman yang kedua itu baru airnya dari yang air mutlak itu. Tentunya bekas ember rendaman tadi sudah dicuci dulu, dengan dibasuh tiga kali. Nah, rendaman yang kedua ini kan masih mengandung air sabun. Makanya dilakukan lagi rendaman air yang ketiga. Walhasil memang sepertinya repot.

Jadi, kesimpulannya ana memang harus membuat air itu tetap nyala saja ketika masih mencuci najisnya. Karena belum dipasang otomatisnya. Nah, pertanyaannya ketika kita mencuci yang kedua dengan air mutlak dan air banyak (pompa airnya dinyalain), itu kan di ember itu ada bajubaju yang sudah diperas, itu ketika kita kasih air itu kan suka masih ada putih bekas sabunnya itu.

Tapi, kalau airnya itu sampai penuh, sampai tumpah-tumpah kan gapapa ya Ustad? Jadi, dalam kondisi ember yang terus diguyur air sampai tumpah-tumpah, baju-baju tersebut ana bilas-bilas di situ ember itu, kemudian diperas satu-satu untuk dipindahkan ke mesin cuci sudah suci ya ustad?

Terus cipratan air dari cucian itu kalau dari air yang banyak itu tidak najis kan ustad? Syukron ustad atas penjelasannya.


Sang Pencinta:

Salam, ikut bantu mas, pertama, jika pakaian bernajis, ambil pakaian tersebut lalu letakkan di bawah kucuran air slang sambil diperas-peras hingga keluar airnya. Jika najisnya mani, bersihkan maninya dulu (tetap di bawahan kucuran air slang) lalu diperas juga. Lakukan hal ini ke semua pakaian bernajis. Kedua, baru setelah semua SUCI, pakaian aman dicuci di mesin cuci dengan rinso sekalipun.


Sang Pencinta:

Catatan: Bersihkan semua daerah yang terkena cipratan sabun yang bernajis (bekas cucian sebelum-sebelumnya) termasuk mesin cuci tersebut dan gantungan pakaian yang digunakan sebelum-sebelumnya, dengan air slang (air kur) tentunya.


Sinar Agama:

Salam dan terimakasih pertanyaannya:

1- Cucian antum itu, bisa dikatakan bersih kalau ember pertama itu dan airnya itu, tidak pindah kemana-mana yang nanti akan pindah lagi ke baju bersihnya. Jadi, semua airnya dan semua percikannya harus disucikan, misalnya dengan semprotan. Begitu pula dengan syarat bahwa ember ke dua itu tidak dinajisi lagi dengan tangan yang najis atau percikan atau sentuhan dari baju yang dikeluarkan tadi yang mana belum suci. Kalau embernya najis lagi karena hal tersebut, maka dengan diisi air kur lagi dan kalau sampai tumpah, maka seluruh bagian dalamnya sudah bersih. Tapi bagian luarnya pasti najis, karena baju yang belum bersih itu kan diletakkan di lantainya. Jadi, pantat ember itu najis lagi, dan kalau nanti air ember itu tumpah-tumpah yang mana biasanya tidak nyambung dengan air kurnya, maka percikannya akan menajisi ember bagian luarnya dan apapun yang kena percikannnya. Karena lantainya ternajisi baju-baju belum suci yangdikeluarkan dari ember pertama itu.

By the way, kalau di ember kedua itu dikucur terus dengannair sanyo yang menyala atau pam yang tidak ditampung, dan baju-baju itu digirah (dibersihkan sabunnya di ember itu), maka kalau sudah diperas, baju-bajunya menjadi bersih. Tapi jangan sampai kena lantainya yang masih najis itu. Sedang kekurangbeningannya air di ember ke dua itu, yang disebabkan oleh sabun yang masih tersisa di baju itu, maka air tersebut, masih bisadikatakan air mutlak dan mensucikan kalau campuran sabunnya tidak banyak hingga air tersebut tidak bisa lagi disebut air saja tanpa embel-embel dan hanya bisa disebut dengan air sabun. Jadi, kalau perubahannya sedikit, maka tidak masalah.

Saya heran dengan pencucian antum ini. Karena kalau sudah disabun, terus buat apa lagi dicuci dengan mesin cuci? Jadi, yang mudah adalah nyalakan air kurnya atau air sanyonya atau air pamnya, bisa ditampung di ember tapi jangan dimatikan walau bisa dengan kecil sekali yang penting nyambung, lalu kocek-kocek baju najisnya itu di bawah pancurannya (kalau tidak ditampung di ember) atau di dalam embernya (kalau ditampung di ember) yang masih nyambung dengan air kur/pam itu, lalu peras di bawah pancuran atau di dalam embernya itu. Perasan itu dilakukan ketika kita sudah yakin
bahwa benda najisnya hilang, sekalipun warnanya belum hilang. Karena warna itu, sudah tidak najis. Begitu pula baunya. Jadi, ukurannya sudah yakin kalau bersih dengan dikocek-kocek itu.


Ketika sudah bersih dan diperas, maka sudah suci dan bisa dicuci di mesin cuci. Kalau memang darahnya sudah mengering dimana sulit menghilangkan, maka sabun bagian darah itu saja, dan hati-hati ketika menggirahnya atau membersihkan sabunnya supaya tidak mercik kemana-mana.
Karena itu, bisa saja waktu membersihkan sabunnya itu, di lantai yang dialiri air kran yang terus mancur itu, lalu diperas-peras perlahan supaya tidak mercik ke tempat lain. Karena kalau sabunnya dibersihkan di bawah pancuran, kan bisa mercik. Jadi, bersihkanlah di aliran air yang berasal dari
pancuran kur/pam itu.

Nah, ketika sabunnya sudah hilang atau sudah diperkirakan tidak akanmenjadikan air pancuran itu menjadi mudhaf, maka baru sisa-sisa sabun itu dibersihkan di bawah pancuran atau ember yang nyambung tadi, dan diperas di bawah pancurannya atau di dalam embernya (kalau dari awal sudah ditampung di ember). Ketika sudah diperas maka sudah suci dan bisa dicuci dengan mesin cuci.

Oh iya, kalau takut mesin cucinya najis karena kesalahan masa lalu, maka siram semua yang kirakira kena basahan baju atau tangan najisnya. Tapi ketika melakukan ini, harap kabel listriknya dicabut dulu, karena pasti kesetrum. Jadi, lakukan pensucian mesin cuci itu, di kala memang tidak mau mencuci baju supaya tidak gopo-gopo dan kena setrum. Semprot semuanya dan biarkan dua hari supaya kering di bagian dalamnya. Karena takut ada korsleting listrik yang bisa merusak mesin cucinya. Jadi, cabut kabelnya, siram dengan air kur/pam dan biarkan mengering selama satu atau dua hari.

Darah itu tidak harus disabun walaupun sudah kering. Jadi cukup dikocek-kocek hingga bendanya diyakini hilang sekalipun warna dan baunya masih ada. Dan kocek-koceklah di dalam ember yang nyambung dengan kur/pam itu atau memang di bawah pancurannya. Yang enak memang di dalam ember supaya airnya tidak boros dan kocek-koceknya bisa di dalam air hingga tidak mercik.
Kecuali kalau darah/kotoran-besar atau kencingnya banyak, maka bagusnya di aliran yang ada di lantai yang dialiri kran yang dari kur/pam itu. Baru setelah bersih besar-besarnya, baru dicuci di bawah pancurannya atau di dalam embernya itu. Karena kalau kotoran besar (tahi), kalau dicuci diember, pasti serbuk-serbuknya akan tetap di ember dan hal tersebut selamanya mengancam air
ember menjadi najis. Yakni kapan air diputus, maka embernya menjadi najis. Jadi, cuci saja besar besarnya itu di air yang mengalir di lantainya itu dan baru kalau sudah bersih benda-bendanya, dicuci langsung di bawah pancurannya atau di dalam ember penampungannya dengan tetapdialiri pancuran kur/pamnya.


Andri Kusmayadi:

Terimakasih atas jawaban Sang Pencinta dan Sinar Agama di atas.

Tapi, catatan buat sang pencinta, tadinya saya mau mengikuti antum, tapi setelah dipikir lagi, kalau di bawah selang langsung begitu tanpa direndam dalam ember, apa bisa menjamin bahwa seluruh air masuk ke dalam pakaian itu? Kemudian, untuk Ustadz Sinar Agama, dimasukkan ke mesin cuci itu untuk pembilasan terakhir sekaligus dikeringkan. Karena, biasanya kan masih ada sisa sisa sabun, meskipun sudah dibilas di dalam ember di bawah kucuran air kur. Tapi, memang yang lebih diperlukan adalah proses pengeringannya itu. Karena, musim hujan begini kalau tidak dikeringkan di mesin cuci, jemuran jadi numpuk, karena lama keringnya.

Tapi, sehubungan dengan pencucian yang antum sarankan itu Ustadz Sinar Agama, kalau pencucian baju yang ada darahnya tadi, sudah kita beri sabun, dan kita kucek-kucek atau sikat di aliran air kur itu, kemudian diperas, baru kita pindahkan ke dalam ember yang tersambung dengan air kur itu, apakah air di dalam embernya harus tumpah-tumpah atau cukup menyala aja? Terima kasih.


Sang Pencinta:

Kan dipastikan airnya masuk ke dalam, saya men-SUCI-kan sajadah yang tebal di bawah kucuran air. By the way supaya tak membingungkan antum, coba bacanya lebih seksama, hati-hati dan detail keterangan yang dijelaskan Ustadz. Afwan.


Andri Kusmayadi:

Iya ana hanya ingin mempertegas aja Sang Pencinta supaya jangan salah salahlagi. hehe... terimakasih.


Sinar Agama:

Andri, Logika tumpah itu logika Sunni. Karena bagi Sunni, biar airnya sedikit, seperti dengan mengisi embernya dengan timba atau gayung, asal sampai tumpah, sudah dihitung mengalir. Begitu pula seperti air di dalam ceret yang dituang, maka dihitung sebagai mengalir.


Tapi kalau di Syi’ah, semua itu bukan mengalir. Mengalir, yakni seperti air pam atau sanyo yang nyala. Mengalir, yakni air sungai dan pancuran sumber dan seterusnya. Bukan air sedikit yang dibuat mengalir atau mancur. Karena itu, air ember itu akan tahan najis, kalau disambung dengan air kur/pam-nya, tidak ada urusan sampai tumpah atau tidak. Malah kalau tumpah dan airnya mudhaf dan najis, bisa memercik kemana-mana dan menajisi banyak tempat. Saya in syaa Allah tidak pernah mengajarkan atau menulis satu katapun, kata-kata seperti “tumpah dari ember” dan semacamnya itu.


Fahmi Husein:

Afwan ikut nimbrung, kalau pertanyaan akhina Andri jelas sudah pasti suci karena air pam dibiarkan menyala terus. Permasalahannya, jika tidak ada air pam (kran mengalir) bagaimana untuk menghilangkan najisnya? Anggap dapat menampung air menyucikan 3 ember penuh.


Sang Pencinta:

Fahmi, Caranya mas Andri itu jelas keliru mas, karena pakaian najisnya di sabuni dulu sehingga status pakaian tersebut masih najis. Jika sabunnya masih melekat pada seluruhpakaian dan dimasukkan dalam ember maka airnya mudhaf, sehingga walau disambungkan ke air kur tetap najis dan jika menciprat ke mana-mana, daerah tersebut akan najis. Kedua, yang antum tanyakan itu adalah mensucikan dengan air qalil (air sedikit) silahkan rujuk ke mari, 

http*://www.facebook.com/groups/210570692321068/doc/294525563925580/

Andri Kusmayadi:

Oh iya Ustadz Sinar Agama menjadi sangat jelas sekarang. Alhamdulillah,
mudah-mudahan saya bisa menjalankannya dengan benar.


Andri Kusmayadi:

Syukron Ustadz Sinar Agama.


Sinar Agama:

Fahmi, Kalau dengan air sedikit, maka tidak bisa dicuci dalam ember. Karena ia akan menjadi najis sebelum melakukan pensucian apapun. Begitu satu pakaian najis masuk ke ember tersebut, maka airnya langsung menjadi najis. Apalagi kalau embernya itu diberi sabun.
Jadi, mensucikan pakaian najis dengan air sedikit (di bawah satu kur), maka hanya dengan disiram. Kalau pakaiannya kecil atau tempat najisnya jelas, maka siram najis/bajunya itu dengan satu tangan dan kalau ada benda najisnya, dikucek-kucek dengan tangan yang lainnya. Dan ketika sudah yakin benda najisnya hilang, maka diperas (semuanya dikerjakan dengan satu tangan). Ini dinamai dengan pembersihan benda najis. Lalu proses berikutnya adalah pembersihan hukum najisnya. Kalau kecing, lakukan penyiraman dua kali dengan pemerasan dua kali. Tapi kalau selain kencing, bisa hanya sekali. Penyiraman ke dua dan ke tiga ini, mesti mengenai ke semua tempat najis atau basahan dari siraman pertama. Tujuan mengerjakan dengan satu tangan, supaya tangannya tidak terbasahi dengan basahan najis bajunya dan bisa berpindah kemana-mana seperti ke gayungnya.


Air yang jatuh dari siraman-siraman dan perasan-perasan itu, semuanya najis hingga kalau mengenai apapun, akan menajisinya. Begitu pula kalau basahannya pindah kemanapun. Baru setelah dihukumi suci dari hukum najisnya, maka basahan yang tersisa di baju dan tangannya, semua sudah dihukumi suci. Kalau bajunya agak besar atau najisnya tidak diketahui tempatnya secara khusus hingga harus disiram semua dan dikucek-kucek semuanya dengan dua tangan, maka mintalah bantuan kepada orang di dekatnya untuk membantu menyiramkan, supaya gayungnya, tidak menjadi najis. Tentu saja, ember yang menampung air itu, tidak boleh terkena percikan air-air najis tersebut karena akan menjadi najis.


Bagusnya, kalau dirumahnya hanya ada timba dan tidak ada sanyo atau tidak ada air pam, maka buatlah bak yang berukuran lebih besar dari kur, misalnya dua kali kur atau lebih, lalu ditandai di volume kur-nya. Dengan demikian, maka kalau sudah dipenuhi atau selama air tersebut tidak kurang dari tanda tadi, maka ia bisa dibuat mensucikan dengan mudah seperti yang sudah dijelaskan kepada mas Andri itu. Baik dengan cara memasukkan baju/benda najisnya ke bak tersebut dengan cara yang sudah diajarkan itu, atau mengeluarkan airnya dengan pipa/slang plastik dan mencucinya di bawah pencuran slang/pipa tersebut.

Atau kalau belum punya hal seperti itu, maka bisa mencuci najisnya di kala hujan sedang turun dan mencucinya langsung di pancuran air hujan selagi hujan turun tersebut hingga mudah seperti yang sudah diterangkan ke mas Andri di atas itu. Atau cuci dulu najisnya ke sumber, sungai dan semacamnya yang ada di sekitar rumahnya. Baru mensucikan kebersihannya dengan sabun, dirumahnya dengan air sedikit itu.


Saran:
Mengeluarkan biaya untuk memudahkan taat kepada Allah, seperti membeli sanyo atau membuat bak yang lebih dari kur itu, sangat layak diutamakan dari membeli baju lebih dari satu atau, mengurangi jumlah lauk pauk dan, apalagi dibakar menjadi debu-rokok.

Wassalam.

11 people like this.

ALito Alfian Mehmud:

Salam Pak Ustadz Sinar Agama Sebagaimana yang kami ketahui Negeri Iran tercinta saat ini telah memiliki tekhnologi yang maju, sekedar ingin tahu apakah dengan kemajuannya tersebut Iran telah memproduksi mesin cuci yang sesuai syariah Syi’ah. Dalam artian kita tak perlu mensucikannya terlebih dahulu karena semua proses telah dilakukan oleh mesin cuci. Hal ini karena sangat mungkin diwujudkan dalam sebuah mesin cuci dengan kriteria kerja sesuai penjelasan Antum di atas.

Sang Pencinta:

Sudah mas, merknya Snowa. Mungkin belum masuk ke Indonesia. Mesin cuci diset berjalan sesuai dengan kaidah fikih. Ciptaan anak dari Ayt. Mazhahiri hf.

http*://www.snowa.ir/.../%D8%B3%D8%B1%DB%8C-%D8%A7%D8%B3...

www*.snowa.ir


لوازم خانگی اسنوا - اسنوا بزرگترین تولیدکننده لوازم خانگی در ایران، تولیدکننده یخچال، فریزر، اجاق گاز،
صوتی و تصویری، ماشین لباسشویی

ALito Alfian Mehmud: Maha Suci DIA dan segala puji bagiNYA yang telah menganugerahkan
bangsa Iran dengan kemajuan sedemikian rupa. Terimakasih Saudara Sang Pecinta.

 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ 

You need to be a member of Sinar Agama to add comments!

Join Sinar Agama

Fiqih I

Cara Mencuci Najis

Bismillahirrohmanirrohim

Andri Kusmayadi mengirim ke Sinar Agama: 30-4-2013,

Salam.

Ana harus tuntaskan dulu nih masalah cuci mencuci, karena ini hal yang mendasar sebelum ke mana-mana. Ana copaskan lagi jawaban ana terhadap jawaban antum di status sebelumnya.

Ya Ustadz Sinar Agama berarti saya salah paham selama ini. Saya pikir yang rendaman pertama itu kan tujuannya untuk membersihkan kotoran atau benda najisnya dulu. Jadi, ana gunakan sabun cuci untuk merendam pakaian najis itu. Kan dengan dibiarkan sekitar 1 jam, kotoran atau benda najisnya akan hilang. Nah, setelah baju itu bersih dalam pengertian tidak ada kotoranatau benda najis (misal, darah sudah tidak ada, kencing anak kita sudah tidak ada baunya atau warna…

Read more…

Fiqih II

Fiqih III

by Sinar Agama (Notes) on Saturday, August 14, 2010 at 5:41am

Bismillahirrahmanirrahim,...

1. Menurut bahasa:
a. Dalam al-Qomuus, “al-Tsayyib (janda) adalah wanita yang dicerai suaminya atau yang sudah dikumpuli…

Read more…

by Sinar Agama (Notes) on Saturday, October 9, 2010 at 12:23pm

Bismillahirrahmanirrahim,...

Sebenarnya, bagi kami, tulisan “Kesamaan...” ini jelas ditulis oleh orang yang jauh dari pengetahuan agama, alias awam tentang agama. Namun karena berani menulisnya di fb untuk…

Read more…