Akidah

by Sinar Agama (Notes) on Sunday, September 12, 2010 at 8:27pm

Bismillahirrahmanirrahim,...

Melanjutkan permasalahan yang dibawa Abd Bagis, yaitu poin (d) tentang:
IMAM MEMEGANG PEMERINTAHAN LANGIT DAN BUMI
Setelah kita bahas masalah (a), (b), (c) dan (d), maka tibalah saatnya, dengan ijin Allah, kita
bahas yang terakhir dari yang dibawa Abb Bagis, yaitu masalah (e): Bahwa imam memegang
pemerintahan langit dan bumi.


Jawaban-1 Untuk Poin (e):
Dalam QS: 2:30, Allah berfirman: ”Dan ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya
Aku akan membuat/mengangkat khalifah di bumi’. Para malaikat berkata: ‘Apakah Engkau akan
menjadikan sesiapa manusia) yang akan membuat kerusakan di dalamnya dan saling menumpahkan
darah? Sementara kami selalu bertasbih dengan memujaMu dan mensucikanMu’. Berkata (Tuhan):
‘Sesungguhnya Aku tahu apa-apa yang kalian tidak tahu’ ”. Perhatikanlah dialog antara Tuhan dan
para malaikat ini.

Dan coba renungi ilustrasi berikut ini:
Ketika seorang ayah yang punya Pabrik Mobil dan 1000 hektar kebun kopi mau meninggal, ia
memanggil dua anaknya yang lulusan pertanian dan ekonomi. Sementara anaknya yang satu lagi
tidak dipanggilnya karena masih umur 3 tahun. Sang ayah berkata pada keduanya: “Anak-anakku
ayah akan segera meninggalkan kalian. Kalau nanti ayah sudah pergi, kuserahkan kepengurusan
pabrik mobil dan perkebunan pada adik bungsu kalian”. Kedua anaknya terkejut dan saling
pandang. Mereka merasa bahwa pernyataan akhir ayah mereka ini sangat tidak bijak. Tapi, karena
keduanya adalah anak-anak yang selalu taat pada orang tuanya dan juga tidak ingin membuatnya
sedih di hari terakhir hidupnya ini, maka ketidaksetujuan mereka diutarakan dengan bahasa yang
sangat halus. Mereka berkata:
“Ayah,,,,mengapa ayah serahkan pabrik mobil dan perkebunan itu pada adik kami yang masih
kecil dan suka membuat kerusakan di rumah (yufsidu fi al-bait: seperti pecah-pecahin komputer
dll) sementara kami lulusan ekonomi dan perkebunan?”.


Kalau kita lihat ilustrasi ini, akan sangat mudah bagi kita memahami maksud kedua kakak tsb.
Yakni bahwasannya si bungsu tidak cocok untuk urus pabrik mobil dan perkebunan, karena masih
membuat kerusakan dan bahwasannya mereka berdua lebih cocok karena lulusan ekonomi dan
pertanian.


Para malaikat dalam ayat itu tidak beda dengan ilustrasi tsb. Yakni mereka, sebagai makhluk yang
selalu taat pada Tuhan yang, dalam hal ini tidak setuju dan menganggap diri mereka lebih layak,
mereka merasa harus mengutarakan pendapatnya dengan bahasa yang sopan dan tawadhu.
Oleh karena itu mereka mengatakan kata-kata dalam ayat di atas: “ ....sementara kami selalu
bertasbih kepadaMu dan mensucikanMu”, yang maknanya adalah:
“Mengapa Engkau akan jadikan khalifahMu dari jenis manusia yang akan membuat kerusakan dan
pertumpahan darah, sementara kami selalu memujaMu dan mensucikanMu (bc: menyanjungMu
dengan menyanjung perintah-perintahMu)? Jadi kamilah yang lebih layak dari manusia untuk
menjadi khalifahMu”.


Setelah kita sama-sama mengerti maksud ayat itu, bahwasannya malaikat mengusulkan diri
mereka untuk jadi khalifah Tuhan, masalahnya sekarang adalah, para malaikat itu sudah memiliki
tugas-tugas penting dalam semua urusan. Mulai dari mengurusi penciptaan paling kecilnya
makhluk sampai pada paling besarnya; Peniupan/pencabutan ruhnya; Hujan/tidaknya; Masingmasing
rejekinya; Suka/dukanya; Sukses/gagalnya; Menjaga wahyu Tuhan, lauhu al-mahfuzh,
‘Arsy, surga, neraka dst. Pendek kata mereka adalah pengatur segala urusan langit dan bumi
dengan ijin/perintah Allah. Allah berfirman: “ ..dan (demi) pengatur-pengatur segala urusan“ (QS:
79:5). Tafsir-tafsir Jalalain, Thabari, Fakhru al-Razi dll, mengatakan bahwa para pengatur itu adalah
para malaikat. Malah dalam tafsir Qurthubi dan Fakhru al-Razi, dll, dikatakan bahwa jumhur
bersepakat bahwa mudabbir itu adalah para malaikat yang mengatur segala urusan langit-bumi.
Begitu pula kalau dilihat di terjemahan DEPAG.


Pertanyaannya sekarang adalah: Mengapa para malaikat masih menginginkan posisi khilafatullah
ini? Padahal mereka sudah memiliki semua posisi hebat sejak di dunia ini sampai nanti di akhirat?
Bagi yang tidak terlalu terhijabi, pasti akan mengatakan bahwa, karena posisi khilafah ini lebih
tinggi dari semua posisi malaikat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa khalifah Tuhan
memiliki posisi lebih tinggi dari semua posisi malaikat dimana karenanyalah manusia layak
disujudi semua malaikat (QS: 79:30).


Sementara tinggi dalam hakikat, tidak seperti dalam kesepakatan sosial dalam kehidupan kita.
Karena dalam hakikat, artinya, yang di bawah harus tunduk pada kendali yang di atas. Sujud
malaikat adalah tunduk, karena mereka non materi, tidak punya dahi dan tidak terikat dengan
badan hingga sujud seperti kita manusia. Karena itulah berarti khalifah Tuhan, secara tidak
langsung, mengatur semesta ini dengan ijin, pengangkatan dan perintah Allah.

Dan karena itu pulalah maka semua malaikat tiap malam lailatu al-qadr selalu turun dengan membawa segala urusan (min kulli amr), untuk dilaporkan pada khalifatullah ini. Karena mereka tidak mungkin meninggalkan pos masing-masing di langit dan bumi atau di arsy dan lauhu almhfuzh ...dst hanya untuk jalan-jalan ke bumi, melihat maksiat yang meraja lela ini. Apalagi melihat teroris wahhabi yang lagi ngeledakin pasar-pasar dan mesjid-mesjid, atau lagi gorokin tenggorokan Sunni-Syi’ah dengan bangga dan divideokan serta di sebar kemana-mana, atau membakar Sunni-Syi’ah hidup-hidup kaya Khalid bin Walid ketika diutus Abu Bakar ke kabilah Bani Sulaim yang membakar hidup-hidup beberapa orang di depan umum (Thabaqaatu al-Kubra: 7:396). Tentu tidak bukan? Jadi, mereka para malaikat itu, datang ke bumi dengan segala urusan-urusan itu (min kulli amrin), yakni tugas-tugas mereka, adalah untuk melaporkan masing-masing tugas mereka ke wakil-Tuhan atau Khalifatullah yang bertempat tinggal di bumi ini. Karenanya saya dulu pernah mengingatkan teman-teman Syi’ah bahwa tahun baru amal-amal kita itu adalah malam lailatu al-qadr, bukan nisfu Sya’ban (mentrasfer pendapat ayatullah Jawadi Omuli hf).

Yakni sebagian malaikat yang mengurusi seluk beluk manusia, membawa pengetahuannya yang diberi Tuhan yang ditadbirkan/ diaturkan dengan buku-amal-setahun itu. Yakni pengetahuan tentang segala peristiwa yang akan terjadi pada masing-masing manusia yang sesuai dengan ikhtiarnya sendiri-sendiri yang telah diketahui Tuhan sebelum terjadi. Malaikat yang diberitahu Tuhan dengan pengetahuan maqam pertama (bc: maqam qada dan qadar atau yamhullah ma yasya’ wayutsbit, yakni sebelum ke-dua sebagai maqam persetujuan akhir Tuhan di Lauhu al-mahfuuzh) itu, membawa pengetahuan-pengetahuan mereka (catatan-catatan ilmu Ilahiyyah) tersebut kepada Khalifatullah (wakil Allah) untuk diperiksa dan disepakati sebelum kemudian dilaksanakan oleh para malaikat-malaikat tsb.

Para khalifatullah (pada masing-masing jaman hanya ada satu khalifah) di samping memeriksa
urusan-urusan lain dari malaikat-malaikat lain yang mengurusi segala macam masalah alam
semesta ini, juga memeriksa ilmu/buku tentang manusia yang dibawa para malaikat yang
mengurusi seluk beluk manusia ini. Setelah melihatnya, maka khalifah ini, dengan perintah Allah,
menghapus/yamhuu (bc: tidak mengijinkan terjadi) dan menetapkan/yutsbit (bc: mengijinkan
terjadi). Mereka ini, para khalifah ini, tidak lain seperti malaikat-malaikat itu sendiri yang hanya
menjalankan perintah-perintahNya. Mereka tidak pernah ber-ide, mandiri, mempertanyakan atau
apalagi melanggar perintah-perintahNya.

Jadi, pengaturan Allah terhadap semesta ini, pertama
melalui KhalifahNya, kemudian ke para malaikat-malaikat sebelum kemudian pelaksanaannya.
Maka itu, jadi lucu di hadapan orang Syi’ah manakala imam/khalifah tidak memiliki sifat-sifat kekhilafahan
ini, yakni penguasaan alam ini. Sudah tentu, mereka para khalifah itu (baik nabi, rasul
atau imam) tidak akan melakukan apapun dari karamat, mukjizat dan semacamnya, kecuali kalau
sudah diperintah oleh Allah swt, sekalipun mereka, seperti Rasul saww yang dilempari batu di
Thaif, nabi Yahya as yang digergaji, imam Husain as cucu Rasul saww yang dipenggal lehernya
oleh Syimr tentara Yazid bin Mu’awiyah sebelum kemudian kepalanya itu diarak dari Karbala-
Iraq, sampai Syam/Suriah dan mulutnya yang sering dicium Nabi itu diotak-atik oleh Yazid pakai
tongkatnya.


Dari penjelasan-penjelasan ini dapat dipahami bahwa para nabi/rasul/imam/khalifatullah memiliki
dua dimensi kehidupan. Kehidupan pertama sebagai manusia yang punya segala macam taklif dan
melakukannya dengan penuh keikhtiaran, pengorbanan seperti lelah, sakit dan syahid; Dan yang
ke-dua sebagai khalifatullah yang tidak punya ikhtiar kecuali dalam memohon untuk mensyafaati
dan semacamnya dimana maqam ke dua ini tidak dicapainya kecuali dengan ketaatan dan
kemakshuman sebagaimana akan dijelaskan di Jawaban-2, in syaa-a Allah.
Kesimpulan:
1. Khalifatullah adalah pangkat yang diingini oleh semua malaikat.
2. Khalifatullah disujudi semua malaikat.
3. Sujud para malaikat berarti taat, karena mereka non materi dan Tuhan bukan lagi sedang
mewisuda nabi Adam as sebagai khalifah pertama.
340
4. Khalifatullah adalah pangkat yang lebih tinggi dari semua malaikat, karena disujudi dan
diingini mereka.
5. Para malaikat adalah pengatur semesta dengan ijin dan perintah Allah.
6. Khalifatullah adalah khalifahNya dalam mengurusi semesta dengan mengatur malaikat.
7. Khalifatullah bukan berarti manusia secara umum yang, hanya mengurusi cangkul-mencangkul
bumi dan membangunnya. Tapi pengatur semesta yang termasuk malaikat, tapi bertempat
tinggal di bumi.
8. Qada dan qadar bagi manusia adalah ilmu Tuhan tentang seluk beluk ikhtiar dan akibat dari
perbuatan manusia, jadi bukan Determinis atau Jabariah.
9. Penetapan dan penghapusanNya, bukan juga membatasi ikhtiar dan perbuatan manusia,
tapi karena disesuaikan dengan ikhtiar dan perbuatan orang lain dan semacamnya. Misalnya,
ada orang yang ingin membunuh Fulan, tapi karena Fulan ini selalu berikhtiar waspada dan
berdoa serta masih lebih maslahat untuk hidup sesuai dengan ikhtiar/doanya itu, maka
Tuhan tidak mengijnkan orang pertama membunuhnya.


Tolong teman-teman Syi’ah pelajari dengan teliti hal ini supaya tidak kembali lagi ke taqdir ala
agama Hindu yang meyakini bahwa seluruh nasib kita manusia sudah ditentukanNya. Lagi
pula sangat sedikit yang tahu rahasia qada/qadr & aplikasinya ini, yaitu yang kembali pada
ilmu Allah tsb. Baik kembali ke derajat ilmu pastiNya (lauhu al-mahfuzh, yang mengetahui
akhir kejadiannya) yang diketahui malaikat-malaikat tinggi, atau kembali ke derajat yang
diketahui malaikat-malaikat di bawahnya, yaitu ilmu-ilmu yang belum pasti karena bersyarat.
Tunggulah jawaban-2 untuk masalah (e) ini dan tolong doanya.


Alia Yaman and 17 others like this.


Dian Damayanti: 2 jmpol just for u..!


Sinar Agama: Terimakasih atas semua jempoltum (jempol antum), semoga Tuhan mengganjarnya,
kalau senang dan mau, tolong copy catatan tsb supaya tidak hilang dan bisa dibaca-baca, karena
catatan berikutnya mungkin berkaitan dengannya, terimakasih dan afwan.
Syarifah Hana A. Fathiman: Ijin share ya...Syukran....


Sinar Agama: tafadhdhaliy, u well come(.)


Faisol Farid: Syukron atas limpahan ilmunya.


Sinar Agama: Afwan, you well come, syukur kalau mau.


Ad’ Ia Anakotta: Afwan ustadz mau tanya tapi sebelumnya terimakasih sudah ditag. Untuk
jawaban (z);.. Malaikat-malaikat tinggi dan seterusnya.., kemali pada malaikat-malaikat rendah dan
seterusnya.., apakah yang dimaksudkan di atas adalah tingktan ilmu yang dimiliki para malaikat!?
Sedangkan yang saya tau bahwa semua malaikat memiliki tugas yang sama yaitu memuja dan
memuji Allah SWT ditambah dengan tugas lainnya dan merupakan makhluk yang patuh.
Apakah para malaikat yang memiliki tingkatan tinggi tersebut secara khusus diajar oleh khalifah,
karena yang saya ketahui Khalifah mampu mengajarkan sesuatu kepada malaikat. Mohon
penjelasannya. Makasih ustadz.

Rido Al’ Wahid: Posisi kekhalifahan Allah adah posisi tertinggi yang diberikan Allah kepada
makhluknya, khalifah itu memiliki wewenang dan pengethuan dan dapat menyentuh ’lauh al
mahfuz’ (di sini terdapat ilmu Allah) yang tidak dapat di raih oleh para malaikat, makanya khalifah
ini juga disebut dengan kitab yang nyata.. Sehingga jika kita bertanya tentang ilmu mereka,
semuanya berasal dari-Nya, dan mereka yang menginformasikan kepada malaikat..
Dalam alam penciptaan para khalifah Allah ini berada dalam posisi ciptaan tertinggi, dan ciptaan
Allah paling sempurna terdapat ada pada diri Rasul saww. Mohon dikoreksi jika salah.. Afwan.


Zainab Naynawaa: Afwan ana nimbrung di luar pembahasan... ustad tolong komentarin status
mas Bande tentang roko... sebab di situ ada salah satu komentar yang bawa-bawa hukum... sebab
dalam hal ini bukan hak ana... ana mohon penjelasan antum.. syukron sebelumnya...


Sinar Agama: Ad’: Senang dengan pertanyaanmu. Yang dimaksud malaikat tinggi itu adalah dari
sisi wujudnya yang otomatis ke segala halnya seperti ilmu dll. Allah ketika melihat iblis tidak sujud
pada ayah kita QS:38:75, Dia berfirman +/-:
”....apakah engkau menyombongkan diri atau engkau termasuk yang ’aliin/tinggi”.
Jadi, di ayat ini ada isyarat pada adanya malaikat lain yang tidak setara dengan malaikat-malaikat
yang biasa kita kenal dan mungkin tidak diperintahkan sujud kepada nabi Adam as.
Kalau anti/anta mengerti peristilahan filsafat, maka malaikat tinggi itu disbt Akal (bukan akal
manusia), dan malaikat dibawahnya itu dan sebagainya wujud-wujud Barzakh/antara, yakni
antara malaikat tinggi dan alam materi. Kalau dalam irfan, yang tinggi dsbt Jabaruut, yang tengah
disbt Malakut dan materi disbt Nasut. Materi tentu diatur malaikat Barzakh, dan Barzakh diatur
Akal yang berada di derajat plg akhir karena Akal ini juga berderajat, ada yang blg 10 derajat, ada
yang mengatakan tidak bisa diketahui jumlahnya kecuali oleh Allah sendiri seperti pendapat Mulla
Shadra ra.

Jadi, ada tiga alam/ciptaan dalam ciptaan Tuhan, Akal, Barzakh dan Materi. Yang pertama
mendahului yang ke dua dan juga berfungsi sebagai perantara Tuhan untuk pewujudan penciptaannya
dan begitu pula untuk tingkatan yang lebih rendah seterusnya. Makanya, tingkatan yang
ke Ke dua, yakni Barzakh itu, dikatakan olehNya sebagai Mudabbirati Amran, yakni pengatur
alam-segala urusan, yakni urusan-urusan alam materi QS :79:5. Dan mereka inilah yang turun di
malam lailatul-qadr dengan membawa seluruh/segala urusan untuk masa setahun ke depan itu,
untuk dilaporkan pada khalifah Tuhan yang sekarang adalah imam Mahdi as.


Ciptaan Akal, berentet dari Akal-satu, Akal-dua ...dst sampai Akal-akhir yang, juga disebut dengan
Lauhu al-Mahfuzh atau ’Arsy Allah atau Singgasana Allah. Kenapa? Karena Allah, melalui Akal-akhir
itulah memerintah para malaikat-pengatur segala urusan materi untuk mengatur alam materi.
Malaikat tengah/barzakh ini disebut pula tingkatan Qada dan Qadar, atau tingkatan ”penulisan
dan penghapusan”. Tapi harus baca catatanku itu supaya tidak terjebak ke dalam kepercayaan
determinis atau jabariah, yakni ”nasib baik-buruk dari Allah”.


Kamu lebih bagus copy semua keterangan dan catatan itu lalu baca dan renungi lagi kemudian
tanyakan yang tidak tahu atau debat/diskusikan yang tidak disetujui, kalau mau.
Sinar Agama: Untuk Mas Rido, senang dengan tanggapannya, merasa ilmu yang puluhan tahun
kugali ini bisa disalurkan perlahan tapi pasti, ya Allah bantulah si dina ini dan semua orang yang mencintaiMu dengan ilmu dan aplikasi. Mas Rido, dengan jawaban ana pada Ad’ saya rasa sudah dapat dipahami bahwa Lauhu al-mahfuzh itu adalah malaikat tinggi atau Akal yang paling rendah
diantara para malaikat tinggi atau Akal itu. Jadi, derajat kesempurnaan itu masih terus berlanjut
sampai pada Akal-satu yang, juga disebut Nur-Muhammad yang, biasa dikenal dalam haditshadits
yang, diingkari oleh penentang Barzanji yang dibawa-bawa wahhabi itu.
Ketika Jabir bertanya pada Rasul saww tentang apa yang dicipta Tuhan pertama kalinya, Nabi
saww menjawab:
”Nura nabiyyika yaa Jabir”
“Nur nabimu ini wahai Jabir.”
Wahhabi-wahhabi yang materialis yang tidak mengimani aktifitas non materi di alam ini, mana
bisa memahami hal seperti ini?


Muhammad Amran: Ass. Wr. Wb.
Salam kenal ustadz sinar. Aku mau bertanya mengenai “ketetapan” Tuhan akan seluruh aktifitas
semesta, terkhusus pada pemilihan khalifah/Imam di muka bumi. Dikatakan bahwa, sesuatu itu
tidak terlepas dari ketetapan Allah, seperti usaha manusia dalam mendapatkan kedudukan tertinggi
tersebut. Saya bingung memilah antara ikhtiar manusia dengan keinginan atau penetapan sang
wujud mutlak. Makasih sebelumnya. Kalau bikin catatan, tolong sertakan juga namaku ustad.


Sinar Agama: M.A., terimakasih atas salam kenalnya wahaiiiii mas Amran. Kalau antum sekali
saja, just sekali saja baca perlahan catatan ini maka akan didapat jawaban dari pertanyaan antum.
Ringkasnya: Ketetapan Tuhan akan amal manusia adalah bahwa manusia berbuat sesuai dengan
ikhtiarnya, walaupun akan saling bergesekan dengan ikhtiar-ikhtiar lainnya. Oleh karena itulah
maka manusia disuruh buat masyarakat yang baik dengan amar makruf dan nahi mungkar,
supaya tidak terlalu terjadi gesekan-gesekan sesama ikhtiar.


Nah, ketetapan Tuhan atas khalifah ini sebenarnya berpijak pada ikhtiar itu. Yakni Allah menetapkan
bahwa khalifah/imam harus makshum dengan ikhtiarnya sendiri dari sejak kecil (perhatikan
syarat pengqabulan doa nabi Ibrahim as sewaktu meminta supaya keturunannya dijadikan imam,
Allah berfirman ”bukan dari yang aniaya” bukan dari yang pernah dosa). Tentu saja yang didukung
dengan syarat-syarat lain yang timbul dari sosial ikhtiar itu sendiri, seperti dari keluarga yang
baik (yang timbul dari ikhtiar ayah dan keluarganya) supaya tidak orang lain melecehkannya,
seperti tidak cacat (juga bisa timbul dari ikhtiar ayahnya dalam cara tidur dengan istrinya atau
ikhtiar ibunya sewaktu menjaga kandungannya dan lain-lain) supaya orang lain tidak lari dan
melecehkannya dan semacamnya.


Nah, karena imam itu harus makshum sesuai dengan ayat di atas tentang doa nabi Ibrahim as itu
(QS: 2:124), maka masalahnya sekarang siapa yang tahu bahwa seseorang itu sudah mencapai
derajat makshum secara ikhtiar dari sisi ilmu dan amal? Tentu saja jawabannya Yang Maha Tahu
Ghaib. Kan ghitu? Nah, ini nah dihapus yang ke tiga, karena hanya Dia yang tahu ghaib itu secara
langsung, maka Dia seyogyanya memberitahu NabiNya supaya tahu ghaib juga secara tidak
langsung. Mengapa harus/seyogyanya memberitahu nabiNya? Karena kalau tidak diberitahukan
kepadanya, terus bagaimana kita bisa tahu mana imam kita? Karena itulah imam itu tidak bisa
dipemilukan, karena kita-kita tidak tahu siapa-siapa yang makshum secara langsung, dan akan
tahu kalau diberitahu Tuhan dengan ayat-ayatNya atau nabiNya.


Dengan demikian maka imam itu sudah seyogyanya dipilih Allah itu sendiri yang, kemudian
diistilahkan dengan ”Penentua) atau Ketetapan”. Artinya tidak bisa dipemilukan, bukan berarti
ketetapan yang berlawanan dengan ikhtiar itu. Karena ketetapan ini berlandaskan pada ikhtiar
dalam pemenuhan syarat-syarat keimamahannya, bukan ditentukan dengan paksa siapa-siapa
yang akan jadi imam tanpa memperhatikan ilmu-amal secara ikhtiarnya.


Dan karena setelah Nabi saww yang diketahui Allah makshum yang memenuhi syarat-syarat
tadi hanya 12 orang, maka imam dalam Islam hanya 12 orang. Makanya kalau sebelum Islam
menguasai dunia mereka sudah mau habis, karena mati atau syahid (yang kenyataannya 11
orang syahid semua), maka yang ke 12 dipertahankan. Karena kalau tidak, yakni kalau tidak
dipertahankan, maka beliau juga akan dibunuh dan janji Tuhan yang akan menolong menjayakan
Islam tidak akan tercapai (QS: 21:105). Atau kalau belum lahir, maka nantinya akan lahir dari
orang yang tidak makshum, terus mau berguru ke siapa supaya bisa sampai makshum? Kan tidak
mungkin? Jadi, Tuhan menggunakan ke-Kuasa-anNya memanjangkan umurnya, seperti telah
memanjangkan nabi Nuh as, shahibulkahfi, nabi Isa as, nabi Khidr as dll.


Muhammad Amran: Makasih ustad atas jawabannya. Sampai di situ aku sudah sedikit memahaminya.
Cuman maksud dari pertanyaan saya ustadz adalah ; usaha, ikhtiar seorang hamba
(ciptaan) semuanya tidak terlepas dari ketetapanNya. Seperti, ikhtiar manusia dalam berproses
untuk menjadi makshum. Nah, proses tersebut adalah ketetapan Tuhan, dan apapun hasil dari
proses tersebut merupakan ketetapan atau kehendakNya. Ibaratnya, apapun yang dilakukan
manusia, baik itu berupa ikhtiar, itu seolah-olah karena ketetapan atau kehendak sang maha
berkehendak yang pada dasarnya merupakan determinis mutlak. Mungkin pertanyaan saya ini
lebih pada pembahasan ontologis ustad. Mohon pencerahannya..


Basuki Busrah: Salam bagimu yang sedikit goib bagiku semoga Allah menjaga antum. Saya tidak
paham dengan kata arsy dan lauh mahfuzh dalam kalimat ”...meninggalkan pos masing-masing di
langit dan bumi atau di arsy dan lauh al-mhfuzh..”. . mohon pencerahannya guru.


Ibrohim Abd Shidiq: Salam ustadz,, terimakasih atas tag nya. Ijin copy ustad dari 1 -5 ini...


Sinar Agama: Mas Amran, Ikhtiar itu lawan dari ketetapan. Kalau ditetapkan, terus apa arti
ikhtiar? Ikhtiar itu adalah bisa memilih “yang ini” atau “yang itu”. Sedang ketetapan adalah sudah
ditentukan “yang ini”. Jadi, ketetapan kontradiktif dengan ikhtiar. Antum boleh mengatakan bahwa
ke-ikhtiaran manusia adalah ketetapan Tuhan. Ini benar. Karena yg ditetapkan ke-ikhtiarannya,
bukan masing-masing ikhtiarnya. Namun demikian, krn perbuatan manusia itu adalah akibat
manusia sementara manusia adalah akibat/makhluk Tuhan, maka semua perbuatan manusia
itu juga makhlukNya. Tapi Dia tidak bertanggung jawab, karena sebab akhir sebelum perbuatan
manusia itu adalah ikhtiar manusia ini. Dan karena makna ikhtiar adalah bs memilih yang ini
atau yang itu, maka manusialah yg harus bertanggung jawab. Antum baca catatan aslinya, semua
sudah dijelasin.


Sinar Agama: Mas Basuki Busrah salam juga dan terimakasih doanya dan semoga juga begitu
terhadap antum, amin. Allah mencipta makhluk secara langsung itu hanya sekali, yaitu Akal344
pertama. Alasannya, karena kalau Tuhan mencipta dua saja, maka Tuhan akan jadi terbatas.
Karena antara sebab-akibat, mestilah memiliki konotasi atau kemiripan. Tidak mungkin es
menyebabkan terbakarnya kertas. Tidak mungkin biji padi menunaskan pohon jagung, atau
menetaskan ular dsb. Nah, kalau begitu, maka kalau ada dua makhluk berbeda menjadi akibat
langsung Tuhan, maka dalam Tuhan akan ada dua Kuasa yang berbeda, katakanlah tanah dan
api yang, akan menyebakan adanya Kuasa untuk mencipta tanah, dan untuk mencipta api yang
pasti keduanya ini berlainan karena keharusan adanya kemiripan sebab dengan akibatnya itu.


Nah, kalau Tuhan punya dua Kuasa yang berbeda, berarti akan saling membatasi. Dan kumpulan
keterbatasan, hasilnya juga keterbatasan. Dengan demikian Kuasa Tuhan akan menjadi terbatas.
Ini tidak mungkin. Ini baru dua makhluk, trus bagaimana kalau milyaran makhluk? Maka sudah
tentu semakin banyak rangkapan KuasaNya yang, pasti akan membuatNya semakin terbatas.
Dengan demikian, maka sebenarnya yang dicipta langsung olehNya hanya satu yang, karenanya
terhindar dari keterangkapan.


Dari Akal-satu itulah Allah mencipta makhluk berikutnya yang diistilahkan dalam filsafat sebagai
Akal-dua, Akal-tiga, dan begitu seterusnya sampai ke Akal-terakhir. Akal-pertama disebut dalam
hadits sebagai Nur-Muhammad dll. Akal-satu s/d Akal-terakhir di Qur'an disebut malaikat ’Aaliin
atau ”yang tinggi”. Dari Akal-terakhir itu Allah mencipta malaikat-malaikat pengatur alam materi
yang disebut barzakh/antara. Dan dari malaikat pengatur segala urusan itulah Allah mencipta
alam materi ini.


Nah, Akal-akal itu adalah wujud-wujud non materi yang tidak memiliki semua sifat materi (dan
karenanya jauh lebih tinggi dari materi karena tidak memiliki rangkapan yang membuatnya
membutuhkan setiap rangkapannya itu). Malaikat Tengah/barzakh adalah wujud-wujud non
materi yang tidak memiliki isi/volume materi tapi memiliki sifat-sifat materi seperti rasa, warna,
bentuk yang bukan isi, ...dst. Barzakh ini persis seperti mimpi-mimpi kita atau bayangan-bayangan
kita tentang rasa-rasa dan warna-warna yang ada dalam pikiran kita, dimana di pikiran kita,
semua sifat-sifat materi itu ada, tapi bendawiyahnya atau isi/volumenya tidak ada. Seperti kalau
kita bermimpi melihat sapi atau pohon, atau membayangkan keduanya.


Sedang materi adalah yang memiliki volume/isi dan serta sifat-sifatnya. Jadi, ada tiga alam. Yang di
atas adalah sebab bagi yang di bawahnya dan yang dibawahnya akibat dari yang diatasnya. Dan
karena setiap akibat tidak bisa melepaskan diri dari sebabnya, maka semua yang di bawah ada di
bawah kontrol yang di atasnya (atas-bawah bukan tempat, tapi posisi dan maqam). Dan karena
akibatnya akibat, akibat pula bagi sebabnya, maka Penyebab hakiki hanyalah Allah.


Sampai di sini saya belum menjawab pertanyaan antum. Sekarang baru jawabannya:
Tuhan, sebagaimana tidak mencipta langsung kecuali satu makhluk, juga tidak mengurusi langsung
makhluk-makhlukNya, karena akan membuatnya secara otomatis terangkap. Karena Tuhan itu
Satu yang tidak memiliki rangkapan sedikitpun, karena rangkapan tanda keterbatasan. Jadi, Allah
mencipta rentetan perantara-perantara yang disebut tengah-tengahNya dari yang paling tidak
memiliki rangkapan, yakni Akal-akal itu, sampai kepada yang sedikit memilikinya seperti malaikat
barzakh itu, baru sampai kepada materi yang merupakan lautan rangkapan. Nah, karena manusia
adalah termasuk alam materi, dan karena Tuhan sedang berdialog dengan manusia, maka katakata
seperti pemerintahan, memberi rejeki, meberi hidayah ....dst adalah sesuai dengan bahasa
manusia yang materi.


Sekarang, masalahnya, bagaimana cara Tuhan memerintah langit dan bumi dan seisinya? Tuhan
mengatakan dari ’Arsy atau ”SinggasanaNya”. Bagaimana kita memahami ’ArsyNya ini? Sudah tentu kita maknai dulu apa arti ’Arsy itu dalam bahasa manusia yang, tidak lain adalah ”Kursi
Pemerintahan” itu sendiri, yakni ”Singgasana”. Terus apa fungsi singgasana itu dalam komunitas
manusia? Tidak lain adalah untuk seorang raja yang duduk di atasnya, lalu memerintah materimaterinya
yang mana menteri-menteri itulah nantinya yang akan memerintah/memimpin
rakyatnya. Jadi, raja memerintah langsung pada menteri dan tidak pada rakyat, lalu menteri yang
memerintah langsung rakyatnya.


Dan karena Allah mengatakan bahwa malaikat-malaikat selain yang tinggi/’aaliin itu adalah
pengatur segala urusan QS:79:5, yang akan turun ke bumi di malam lailatulqadr dengan
membawa segala urusannya itu, maka berarti Tuhan menyamakan para malaikat itu dengan
para menteri di tatanan pemerintahan manusia. Dan karena maqam yang lebih tinggi sedikit dari
Barzakh itu adalah Akal-terakhir, maka ’Arsy itu berarti Akal-akhir tsb. Jadi, ’Arsy atau Singgasana
itu maksudnya adalah Akal-terakhir itu. Ini jawaban untuk pertanyaan ke satu.


Terus, mengapa ’Arsy itu dinamakan Lauhu al-Mahfuuzh?
Jawab: Dengan penjelasan di atas yang panjang lebar itu, dapat dipahami bahwa Akal-akal itu
tidak memiliki rangkapan dan sebaliknya malaikat barzakh atau pengatur semesta alam itu.
Ketika Barzakh memiliki rangkapan dan liku-liku, apalgi sebagai pengatur iku-liku dunia, maka di
dlamnya pasti juga memiliki semacam liku-liku itu walaupun lebih sederhana.
Tapi bagaimanapun kebrliku-likuan itu ada di sana, karena merekalah yang mengontrol liku-liku
alam materi ini secara langsung. Dan karena jadi dan tidak jadi, lurus lalu bengkok, berdosa dan
taubat, ...dst bagian dari liku-liku alam ini yang di atur mereka itu, maka berarti di sana juga ada
perubahan-perubahan, karena mereka kontrol langsung dari perubahan-perubahan di materi ini.
Oleh karena itulah maka mereka bisa disebut dengan kitab qada’ dan qadar dimana ada penulisan
dan penghapusan (QS:13:39). Ingat, semua ini harus ditafsirkan secara benar, yakni dikembalikan
pada ilmu Tuhan karena Dia tahu sebelum terjadi dan karena Dia adalah sebab dari semua wujud.
Lihat catatan aslinya.


Akan tetapi sebaliknya dengan Akal-akal yang non materi mutlak dan tidak memiliki rangkapan
itu. Di sana, semua hal yang akan terjadi di bawah diaturnya secara tidak berkerangkapan. Jadi,
dalam Akal itu tidak ada dimensi-dimensi dan tidak ada yang namanya liku-liku. Tapi karena
mereka sebab bagi yang dibawahnya, semua yang terjadi dan yang akan terjadi diketahuinya
secara tidak berperangkapan itu. Dengan demikian, semua yang akan terjadi di alam materi dan
seluruh liku-likunya, sekalipun daun yang jatuh dari pohonya, sudah diketahui oleh Akal secara
tidak berperangkapan dan tidak berliku-likuan. Jadi, tahu semua rangkapan dan liku-liku dalam
ketenangan dan tanpa liku-likuan. Dengan demikian maka Akal layak disebut sebagai Kitab yang
Terjaga dari perubahan-perubahan dan liku-liku.


Kitab terjaga itulah yang dikatakan ”Lauhu al-mahfuzh”. Jadi, Akal terakhir inilah yang disebut lauhu
al-mahfuzh yang di dalamnya tertulis apa saja yang akan terjadi secara tidak berperangkapan
dan tidak berliku-likuan itu. Tapi ingat, dengan penjelasan yg banyak selama ini, dipahami
bahwa kepenulisan akan rincian perbuatan manusia, bukan perbuatannya saja, tapi perbuatan
yang dilakuakan dengan ikhtiar yang akan dipilih manusia. Jadi) ketertulisan apa saja di lauhu
al-mahfuzh, tidak menandakan determinis atau jabariah atau penentuan takdir-baik buruk dari
Tuahn. Tidak, sekali-kali tidak.


Sinar Agama: Jadi, malaikat Barzakh juga disebut kitab qada dan qadar, dan malaikat Akal346
terakhir juga disebut dengan kitab Lauhu al-mahfuzh. Sedang turunnya malaikat yang saya
katakan meninggalkan pos masing-masing di ’Arsy atau lauhu al-mahfuzh itu adalah perkataan
yang semacam semata-mata ingin membahasankannya secara awam. Karena lauhu la-mahfuuzh
itu adalah malaikat itu sendiri.


Nah, turunnya mereka sangat mungkin adalah yang hanya Barzakh saja, yakni yang ngatur
alam materi ini, karena harus melaporkan kepada khalifatullah tentang semua pekerjaannya
kepadanya. Kalau tidak untuk lapor, buat apa para malaikat membawa segala urusan-urusan itu?
Dan mengapa hanya manusia yang bisa jadi khalifah dan bukan malaikat? Akan terjawab nanti
di dijawaban akhir dari isykalan-isykalan wahhabi ini. Yakni jawaban-3 untuk (e). Doakan supaya
segera selesai. Di sana nanti kita akan lihat rahasia keharusan manusia yang bisa jadi khalifah itu
dan bukan lainnya sekalipun malaikat, dan mengapa malaikat sampai menginginkan makam ini.


Sinar Agama: Hati Kecil, dan yang lainnya, siapa saja, boleh meng-copy dan menyebarkan tulisan tulisan saya di fb, baik dalam bentuk fb atau tulisan di atas kertas, tapi jangan mengeditnya, karena takut berubah maknanya. Namanya tetap Sinar Agama. Dan kalau ada yang dianggap

salah atau salah tulis, jangan keburu-buru merubahnya, tapi kabari dulu saya, nanti saya yang
akan mengoreksinya, inysaAllah.


Rido Al’ Wahid: Menyambng dari jawaban untuk Amran, jadi ikhtiar manusia untuk menjadi
makshum ini sejalan dengan apa yang diinginkan oleh Allah ya, yang jadi pertanyaannya adalah
apakah ikhtiar ini terlaksana di alam materi ataukah pada alam yang lebih tinggi, karena jika
di alam materi apakah mungkin Rasul memberitakan nama-nama para makshumin tersebut,
sedangkan mereka belum berikhtiar bahkan belum hadir di alam materi ini?


Rido Al’ Wahid: Dan juga jika para makshumin ini telah terpilh di alam malakut, berarti
pengangkatn mereka di alam materi ini adalah sebuah ketetapan yang dihasilkan di alam yang
lbih tinggi?


Sinar Agama: Mas Rido, terimakasih nyambungnya. Ikhtiar manusia sudah pasti terjadi di alam
materi ini. Tapi karena alam yang lebih tinggi itu adalah sebab wujudnya, maka semua yang akan
terjadi di bawah ada dalam pengetahuan dan pengawasannya. Begitu pula dengan ilmu Tuhan.
Nah, ikhtiar kemakshuman ini akan terjadi setelah terciptanya pelaku-ikhtiari tsb di kemudian,
namun sudah diketahui sebelumnya oleh yang di atas karena mereka adalah sebabnya, begitu
pula denganNya.

Nah, ilmu Tuhan itulah yang dengan perantaraan makhluk-makhluk Akal, dan
Barzakh yang diberitakan ke Rasul saww, dan Rasul saww ke kita-kita sebagai umatnya.
Kan sudah sering diulang-ulang bahwa lauhu al-mahfuuzh itu tempatnya segala hal tanpa perlikulikuan,
karena ketidakrangkapannya tsb. Nah, semua sudah diketahui sebelum terjadi bahkan
sebelum tercipta (diketahui, bukan ditentukan). Tapi ingat, pengetahuan ini tidak menjabr atau
mendeterminiskannya, karena yang ditulis adalah lengkap, misalnya “si fulan akan jatuh pada hari
dan jam tertentu karena dia berikhtiar naik motor dalam keadaan ngantuk dan ini dan itu....dst.”

Jadi, yang ditulis bukan hanya jatuhnya, tapi lengkap dengan ikhtiar yang akan dipilihnya.
Kalau mau memakai bahasa ilmu Kalam, bukan filsafat, begini: Allah Maha Tahu segalanya,
nah, pengetahuan Tuhan tentang orang makshum ikhtiari dan yang akan terjadi itulah yang
diberitakan kepada Rasul saww supaya disampaikan ke umatnya sebagai penerus jalan lurus
yang tidak tersesat sedikitpun. Karena kalau tidak diumumkan kepada manusia, maka manusia atau umat Nabi saww tidak akan mampu mengetahuinya, karena Makshum ilmu-amal adalah
makshum lahir batin yang tidak mungkin diketahui oleh manusia lain.

Rido Al’ Wahid: Kher.. paham ana syukrn ustadz, ana masih punya beberapa pertanyaan lain di
luar pembahasan ini, entar ana tanya lewat inbox saja deh..


Basuki Busrah: Syukron katsiran guru...(mode on masih menyimak).


Sinar Agama: You well come semuanya, kalau memang minat print aja dan pelajari lagi sambil
direnungi, terutama catatan-catatanku supaya puluhan tahun menuntut ilmu ini bisa dbagi-bagi.
Tapi tidak boleh taklid dalam kayakinan, jadi kalau tidak paham ditanya, dan kalau tidak setuju
didebat/didiskusikan


Muhammad Amran: Terima kasi ustad. Kalau buat catatan, tolong sertakan juga namaku di tag.
Salam..


Muhammad Amran: Ustad Rido. Kalau pertanyaannya enggak begitu bersifat pribadi. Ditanya di
sini aja, biar kita juga bisa tau jawabannya ustad. Hehe.. Bagi-bagi keberkahanlah. Ckckck.
Sinar Agama: Walhasil jiwa ini sudah kuberikan pada antum-antum semua, penyukaku atau
pembenciku. Jadikanlah argument-argument gamblang sebagai ganti identitasku, supaya murni
keilmuan dan dijauhkan dari pengaruh lingkungan/sosial. Jadikanlah aku dampratanmu kalau
kesal, dan aku akan menjadi air penyejuk gelisahmu. Jadikanlah aku tempat bermanja dalam
ilmu dan aku akan berusaha memanjakanmu dengan dalil-dalil dan bahasa yang sangat mudah,
kalau aku mampu membantu. Jadikanlah aku obyek doa-doa baikmu dikala kalian kesal atau
ridha padaku, karena yang papa ini tidak memiliki apa-apa selain dosa-dosa dan banyaknya
ketidaktahuan.


Ah....umurku semakin bertambah dan tanganku semakin pendek, pikiranku semakin lemah
sementara taqwaku semakin menipis. Ah...betapa inginnya aku bersama kalian, bersama kalian,
bersama kalian, menyajikan minuman-minuman dan sajian-sajian ringan sambil menari halus
menapaki gunung akuis, egois dan kesombongan, tuk menaklukkannya dan meletakkannya
di bawah kaki kotor kita, hingga kita bisa terbang ringan menyujudiNya dan kekal dalam
kedinaan aktualis yg abadi (bc:dunia-akhirat), bukan puitis dan sementara (bc: dunia saja untuk
mendapatkan kemulian di sisiNya di akhirat).


Oh maaf aku telah menuruti kata hati dan sejenak tidak mampu menahan getarannya. Pintaku,
kalau memang sudah senang dengan catatan-catatanku, pelajarilah dengan baik dan pahamilah
sampai ke maksud batinnya, hingga akan terasa manis dan secara otomatis akan membuat
langkah kita ringan menuju taqwa yang, kalau bisa bahkan tanpa pamrih. Dengan pamrih (surga)
juga sudah bagus. Jadi, tolonglah diri kita sendiri dengan tidak hanya menanggapi segala hal di
dunia ini dengan hura-hura ilmu dan kebijakan, tapi jadikanlah penggerak ketaqwaan, karena
ilmu untuk taqwa, dan taqwa untuk surga atau bagi sebagian untukNya semata.

Basuki Busrah: Terima kasih atas pencerahannya....


Sinar Agama: B_B: You well come.


b اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وآلِ مُحَمَّدٍ وعَجِّلْ فَرَجَهُمْ c

Artikel Menarik Lainya :

Tawassul Kepada Imam Mahdi as Melalui Surat di Tempat-Tempat Keluarnya Imam Ali as atau di Padang Sahara

Imam Memegang Pemerintahan Langit dan Bumi Bag 2

Imam Memegang Pemerintahan Langit dan Bumi Bag 3

Email me when people comment –

You need to be a member of Sinar Agama to add comments!

Join Sinar Agama

Akidah

Surga Nuzuli dan Surga Shu'udi

23. Akan tetapi karena nabi Adam as adalah manusia badani, selama apapun beliau as bisa bertahan untuk tidak bangun dan untuk tidak makan, maka akhirnya tetap ingin makan juga. Dan kala itulah keinginan makan beliau as itu tertajalli dalam kasyafnya itu dengan mengingini makan buah kelanggengan tersebut. Maka makanlah beliau as dalam kasyafnya itu. Artinya, di alam materi ini beliau as sudah memutuskan dengan sebenar-benar keputusan bahwa beliau as mau bangun dan menjalani kehidupan alam materinya sebagaimana tugasnya sebagai KhalifahNya.

24. Jadi tidak ada dosa bagi beliau as. Tapi karena beliau as salah satu insan kamil dan bahkan yang pertamanya lagi, dan begitu pula sebagai…

Read more…

Imam Memegang Pemerintahan Langit dan Bumi Bag 2

by Sinar Agama (Notes) on Wednesday, September 15, 2010 at 8:32pm

Bismillahirrahmanirrahim,...

Melanjutkan jawaban terhadap permasalahan yang dibawa Abd Bagis, yaitu poin (d) tentang:
IMAM MEMEGANG PEMERINTAHAN LANGIT DAN BUMI
Jawaban-2-a Untuk Poin (e):
Sebenarnya, setelah melewati jawaban-1 (e), sudah dapat diketahui bahwa para imam/khalifah
memegang pemerintahan langit dan bumi, sekalipun mereka tidak punya ikhtiar apapun kecuali
hanya sebagai perantara Allah mengatur para malaikat yang mengatur alam ini. Dan sekalipun
mereka harus hidup sebagaimana mestinya sebagai seorang manusia yang memiliki taklif.


Dalam banyak ayat dan riwayat telah mengisyaratkan kepada ketinggian derajat mereka…

Read more…

Imam Memegang Pemerintahan Langit dan Bumi Bag 1

by Sinar Agama (Notes) on Sunday, September 12, 2010 at 8:27pm

Bismillahirrahmanirrahim,...

Melanjutkan permasalahan yang dibawa Abd Bagis, yaitu poin (d) tentang:
IMAM MEMEGANG PEMERINTAHAN LANGIT DAN BUMI
Setelah kita bahas masalah (a), (b), (c) dan (d), maka tibalah saatnya, dengan ijin Allah, kita
bahas yang terakhir dari yang dibawa Abb Bagis, yaitu masalah (e): Bahwa imam memegang
pemerintahan langit dan bumi.


Jawaban-1 Untuk Poin (e):
Dalam QS: 2:30, Allah berfirman: ”Dan ketika Tuhanmu berkata kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya
Aku akan membuat/mengangkat khalifah di bumi’. Para malaikat berkata: ‘Apakah Engkau akan
menjadikan sesiapa manusia) yang akan membuat kerusakan di…

Read more…

Imam Memegang Pemerintahan Langit dan Bumi Bag 3

by Sinar Agama (Notes) on Thursday, September 30, 2010 at 7:09am

Bismillahirrahmanirrahim,...

Melanjutkan jawaban terhadap permasalahan yang dibawa Abd Bagis, yaitu poin (d) tentang:
IMAM MEMEGANG PEMERINTAHAN LANGIT DAN BUMI
15. Doa tanpa shalawat pada Rasul saww dan Ahlubait as, akan menjadi tertutup dan dengan
shalawat, akan menjadi terkabul (Kanzu al-‘Ummal 1:173; Shawa’iqu al-Muhriqoh 88; Faidhu
al-Qodir 5:19; Thabrani di tafsir Kabirnya; Baihaqi di Syu’abi al-Imannya; dan lain-lain).
Shalawat pada Nabi saww harus menyertakan Keluarga beliau saww yang suci/Aali (Bukhari
di kitab Da’awaat, bab shalawat atas Nabi saww; dan segudang lainnya).
Bahkan Shalat lima kali (dalam 3 waktu) menjadi batal…

Read more…

Wasiat Sinar Agama

Urgensi